Senin, 21 Maret 2011

Ikral Nek Aisyah Untuk Sang Gubernur


Diusianya yang sudah senja, Nek Aisyah, demikian nama wanita ini biasanya disapa, masih terlihat bugar. Dia juga sangat vokal dalam menyuarakan rasa ketidakadilan yang menimpa dirinya, dalam aksi demotrasi di Depan Kantor Gubenur, Senin (21/3) lalu.

Matanya boleh saja sudah rabun, demikian juga dengan tubuhnya yang sudah rentan dan sering diserang sakit remantik. Tetapi, dalam hal semangat, Nek Aisyah jauh lebih berapi-api dibandingkan aktivis kampus yang baru belajar demontrasi. Dengan suaranya yang boleh dikatakan lantang dan khas, dia berkali-kali memanggil Gubernur Aceh dan Wakil Gubernur, untuk turun dari singgasananya, guna menemui mereka.

”Pat janji neu untuk kamoe korban tsunami. Ka tujoh thon udep di barak, tapi rumoh hana neujok lom hingga dinoe. (mana janji gubernur untuk kami korban tsunami. Sudah tujuh tahun hidup di barak, tapi rumah bantuan belum juga diberikan,”ungkap Nek Aisyah laksana orator ulung.

Ya, Nek Aisyah adalah satu dari puluhan korban tsunami yang rumah bantuannya diserobot orang lain di Desa Labuy dan Miruek Lam Reudep, Kecamatan Baitursalam, Aceh Besar. Hal inilah yang membuat dirinya mengadu ke Kantor Gubernur.

Bagi Nek Aisyah, selamat dari gelombang tsunami yang melanda Aceh diakhir tahun 2004 lalu, bukanlah sebuah rahmad. Disaat dua anak kandungnya, serta dua cucunya menuai ajal dalam tragedi tersebut, dirinya justru ditakdirkan selamat karena mampu mengapung di atas kasur saat tsunami menerjang daerah Ulee Lhee.

Sejak saat itu, kehidupannya berubah total. Dari dulunya, cuma duduk manis di rumah karena dinafkahi oleh anak-anaknya yang sudah besar. Kini, dirinya terpaksa bekerja keras untuk menghidupi diri sendiri, serta dua cucunya yang yatim piatu. Menurut dirinya, musibah tersebut adalah awal dari keterpurukan hidupnya.

”Tiap hari saya jualan kacang. Hasil dari jualan kacang cuma cukup untuk makan. Saat ini, dua cucu saya sedang sekolah, kalau saya mati, siap yang menjaganya,”ucap isteri dari almarhum Idris ini yang meninggal sejak tahn 1984 itu, sambil menyapu butiran air yang mengalir dari matanya.

Nek Aisyah mengaku, sejak masa rehab-rekon hingga kini, sangat mengharapkan adanya rumah bantuan. Paling tidak, katanya, rumah tersebut, dapat menjadi tempat berteduh bagi dua cucunya di masa depan. Selain itu, juga dapat menjadi tempat akhir baginya ketika berhembus nafas yang terakhir nanti atau meninggal dunia.

”Namun, saya tidak pernah mendapatkan rumah bantuan. Hingga tujuh tahun, kami masih tinggal di barak di Dusun Tongkol, Ulee Lhee. Lantai barak sudah rusak dan saya perbaiki lima kali, demikian juga dengan atap yang sudah bocor, namun rumah bantuan tidak kunjung diperoleh,”tutur dia.

Dirinya, mengaku juga masih teringat janji Timses Irwandi-Nazar di awal tahun 2006 lalu. Saat itu, menjelang Pilkada Aceh, para timses tersebut, menurut dia, datang ke baraknya. Mereka meminta dia untuk mencoblos gambar yang memakai pakaian Aceh.

”Katanya, kalau mereka menang dapat rumah bantuan. Namun janji tersebut tidak pernah diwujubkan hingga kini. Bahkan, saya sendiri terancam diusir dari barak Ulee Lhee. Penghuni barak disana cuma diberikan waktu hingga satu bulan mendatang, untuk mengosongkan barak,”lirik Nek Aisyah.

Terhadap nasibnya tersebut, Nek Aisyah cuma mampu menyerahkan hal tersebut kepada Allah SWT. Demikian juga, dengan orang yang menyerobot rumah bantuannya di Labuy, dia cuma berharap Allah SWT segera menyadarkan mereka. Tapi, khusus untuk sang gubernur, Nek Aisyah mengakui punya ikral.

”Han akan lon pileh lee gubernur (Irwandi-red) jika hana mampu menyelesaiakan amanah rakyat. Janji mereka untuk menuntaskan kasus penyerobotan rumah bantuan, adalah amanah, namun diingkari. Dosa menyoe ta pileh pemimpin yang hana amanah. Nyoe ikral dan doa lon sabe lam sembahyang,”pungkas dia

0 komentar:

Posting Komentar

Setiap pengunjung blog ini dapat mempostingkan komentarnya sesuai pendapat masing-masing mengenai isi blog ini. Pengelola berhak menyunting setiap komentar yang berbau SARA dan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kritikan yang demokratis.

 
Free Host | lasik surgery new york