Jumat, 17 September 2010

Saya Gila, Tapi Juga Butuh Duit


Laki-laki ini tampak kurus kering dengan baju hijau muda. Dia beberapa kali memegang kepala botaknya sambil merapikan barisan. Tujuh Teman yang di samping juga terus tersemyum simpul sambil melihat ke arah jalan raya. Dia seperti sedang menanti sesuatu yang akan muncul disana.

Pria botak tadi mengaku bernama Mansur, lahir di Pidie, sekitar 37 tahun lalu. Dia diberikan tugas khusus sebagai komandan barisan pasien jiwa dalam rangka menyambut Gubernur Aceh Irwandi Yusuf saat melakukan Sidak di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Aceh, Rabu (16/9) lalu.

Anggota pasukan dan dirinya sendiri, memang bisa di golongan sebagai pasien ‘hampir’ sembuh disana. Sedangkan yang masih sakit ‘parah’ tidak diizinkan keluar untuk menyambut orang nomor satu di Aceh itu. Mungkin hal inilah yang membuat mereka merasa bangga diri. Pasalnya, yang ‘sehat dan sembuh’ saja susah untuk bertatap muka dan berdialog langsung dengan Irwandi.

“Kira-kira eh geupenuhi dilee permintaan lon (kira-kira mau tidak ya, dipenuhi permintaan saya),”gumannya sendiri. Dari pertanyaannya tadi, ada sesuatu yang hendak disampaikannya langsung kepada gubernur. Namun dia tampak belum yakin dan ragu-ragu untuk mempertanyakan persoalan itu.

“Buk, eh geupenuhi kira-kira permintaan lon nyoe ? (buk, apa mau dipermintaan saya ini),”tanya dia kepada barisan terpisah pada wanita yang memakai seragam dinas dan putih-putih, seperti ingin memastikan lagi layak tidaknya pertanyaannya nanti. Ibu-ibu yang ditanya hanya tersenyum simpul, tidak menjawab.

“Katanyoe laju hai. Enteuk ta bagi dua (kamu tanya saja, nanti kita bagi dua),”ucap teman disampingnya dengan pakaian yang sama, tetapi bertubuh lebih subuh dan berambut sedikit lebat. Temannya ini sepertinya sudah tahu apa yang menjadi kegelisahan pria botak tadi. Mereka berdua tampak yang paling waras diantara pasukan penyambut tamu ini.

Kegelisahan dua sahabat ini seprtinya tidak bertahan lama. Pasalnya, mobil jeep Rubicon milik irwandi tampak meluncur kearah mereka sambil di kawal ketat oleh pihak kepolisian. Belasan wartawan yang dari tadi sudah berada di tempat, langsung beraksi guna mencari ‘bahan tulisan’ menarik.

Mansur dan tujuh temannya tampak begitu senang. Rasa paniknya tadi untuk menanyakan sesuatu seperti hilang. namun barisan yang dikomandoinya tadi kembali tampak berantakan. Maklum, mereka belum sembuh benar.

“Nyoe soe (Ini siapa),”tanya Irwandi. Dia memakai baju putih hari itu dengan wajah tersebut. Maklum lawan bicaranya kali ini bukanlah orang biasa. Hal ini mungkin saja menjadi pengalaman tersendiri baginyan.

“lon tuan Mansur dari Tangse (saya mansur dari Tangse),”ucap dia sambil tersenyum. “Pak neujok modal usaha ke lon dilee. Lon ka sehat akan segera teubiet dari rumoh sakit jiwa (pak, tolong kasih modal usaha untuk saya. Saya sudah sembuh dan habis keluar dari RJS),”todong Mansur dengan pertanyaan yang sejak tadi disimpannya.

Pertanyaan tadi tentu saja mengejutkan Irwandi. Beberapa rombongan yang hadir juga tersenyum tipis.

“Kalau sudah sembuh. Saya ini siapa ?”tanya ulang gubernur dengan mimik muka setengah ketawa. Dia sepertinya ini memastikan kewarasan Mansur.

“Irwandi, Gubernur Aceh,”jawab pria berkulit sawo mantang ini lagi. Jawaban ini membuat Irwandi senang.

“Untuk apa modal, kah masih di rumah sakit,”tandas Irwandi lagi. Dia masih ingin berdebat dengan Mansur. Yang hadir lagi-lagi ketawa menyaksikan dialog yang langka ini.

“Untuk modal meukat ungkot. Rp500.000 ka cukop (untuk berjualan ikan. Lima ratus ribu sudah cukup),”balas Mansur mantap.

Menurut keterangan dokter, Mansur sebelum ke RSJ akhir tahun lalu adalah warga Tangse yang dulunya berprofesi sebagai penjual ikan di Pasar Peunayong, Kota Banda Aceh. Musibah tsunami, diceritakan, telah meregut separuh hidup dan kewarasannya. Anak isterinya yang tinggal di daerah Peunayong menjadi korban dari musibah maha dasyat di dunia tersebut.

Hal inilah yang diduga membuat mansur putus asa dan kehilangan semangatnya untuk berkerja sebagai penjual ikan. Sekitar tahun 2006, Mansur kemudian kembali ke daerah asalnya di tangse. Disana, Mansur mencoba bekerja serabutan namun tidak juga mampu melupakan kenangan bersama isteri dan anaknya tersebut, hingga dia mulai berbicara sendiri.

Sejak 2007 lalu, Mansur mengakui ada seseorang yang membisikan sesuatu pada dirinya, kemanapun dia pergi. Hal inilah yang membuat dirinya dianggap gila dan dibawa lari ke RSJ oleh orang kampung disana.

“Begini, kalau kamu sudah sembuh. Nanti temui saya. Bukan hanya Rp500.000 yang akan saja bantu, tetapi 2 juta,”ucap Gubernur lagi. “Bukan cuma dia (mansur-red), tetapi yang lain juga,”katanya sambil melempar senyum kepada semua pasukan penyambut dari pasien ini.

Hal ini tentu saja membuat kawan-kawan Mansur senang. Namun gubernur sepertinya masih penasaran dengan Mansur, dan kembali mencoba mengajak dia berdialog. “Sewa lapak di peunayong berapa harganya,”Tanya dia.

“Hana, meunyoe lon gratis disinan. Awak awai, awaknya pasti sayang keu ureung pungo lagee lon, “tandas Mansur lagi. Pengakuan polos ini kembali disertai tawa dari rombongan yang lain.

Senang dengan keramahan lawan bicara. Gubernur kemudian meminta stafnya untuk memberikannya segepok uang lembaran 20.000. Niatnya gubernur, uang tersebut hendak dibagi-bagikan untuk pasien disana. “Awak drokeuh peurele peng (kami mau uang),”Tanya dia. “Peurele, Kamoe Pungo, Tapi Pereule Peng Chiet Pak(perlu, kami gila, tapi uang tetap perlu),”tandas Mansur mewakili teman-temannya.

“Ini uang untuk beli rokok, di RSJ tidak ada uang, yang ada cuma baju,”ucap kawannya gembira sambil mengakhiri pembicaraan. Mansur CS meninggalkan rombongan. Dia dan teman-temannya merupakan satu dari seribu cerita yang terjadi di Aceh pasca konflik dan tsunami. Namun cerita itu tersimpan erat di RSJ menunggu diperhatikan.

Kamis, 16 September 2010

Mimpi Saya, Teuku Is Bebas Tahun lalu


Wanita ini tampak begitu tegar untuk seumurnya.Beberapa kali tangannya melambai ke arah iringan mobil yang sedang beranjak pulang seusai mengantar dia dan keluarga ke rumah sederhana milik M. Adli Abdullah, Dosen Fakultas Hukum Unsyiah di Darusalam. Para pengantar itu, adalah anggota KPA wilayah Pase dan Pidie.

Ibu dua anak itu bernama Asnani (39), lahir di Bireuen, 17 Desember 1970 silam. Dia adalah isteri Tgk Ismuhadi, Napol GAM yang masih ditahan di LP Cipinang. Suaminya, dituduh terlibat dalam peledakan Bursa Efek Jakarta (BEJ), 10 Tahun silam. Hukumannya pun tak tanggung-tanggung, Ismuhadi diganjar hukuman seumur hidup.

Asnani beberapa kali meneteskan air mata. Sedangkan Maulana Tadasi dan Nyak Cahya Keumala, buah hatinya lebih banyak terdiam.

“Saya terharu atas penyamputan selama di Aceh. Saya dan suami saya, ternyata belum dilupakan disini,”ucap sosok ibu dari dua oran anak ini.

Didampingi oleh Dewi Meuthia, Isteri Wakil Gubernur Aceh, serta sang pemilik rumah, dirinya menceritakan bahwa sudah lama berhasrat ingin berlebaran bersama keluarga di Aceh. Namun niat tersebut baru bisa diwujudkan pada Idul Fitri tahun 2010 ini.

“Banyak alasan mengapa kami jarang bisa pulang ke Aceh, factor ekonomi merupakan salah satunya,”ucap dia.

Dengan suara yang pelan, dirinya melanjutkan,bahwa niat bersiraturrahmi bersama keluarga di Aceh, sebenarnya sudah muncul di awal tahun 2009 lalu. Saat itu, dia bermimpi bahwa Tgk Ismuhadi, suaminya akan segera dibebaskan pada tahun tersebut, sehingga dirinya merencanakan untuk siraturrahmi dan liburan bersama ke kampung halaman.

Namun, mimpi tersebut ternyata belum menjadi kenyataan.

Tetapi, karena kerinduan yang mendalam, dia bersama dua buah hati, akhirnya minta pamit sama suami untuk bersiraturrahmi ke Aceh pada Idul Fitri ini, serta diizinkan.

“Mungkin, lebaran kedepan (2011-red) baru suami saya bisa ikut. Ini yang selalu saya doakan setiap solat lima waktu,”ucap wanita tegar yang kini masih menetap di Jakarta Selatan ini. Disana, dia menanti suaminya segera bebas.

“Kami se-keluarga mengharapkan Tgk cepat dibebaskan.” ujar Asnani lagi. Keinginan isteri tokoh masyarakat Aceh di Pulau Jawa ini memang cukup beralasan. Pasalnya, pembebasan tahanan Tapol/Napol GAM sudah disepakati antara RI dan GAM dalam MoU Helsinki.

“Jika anggota GAM lain dibebaskan, kenapa suami saya dan ayah dari anak saya belum juga dibebaskan?” tanyanya dengan raut wajah sedih. Asnani mengaku, suaminya dari dulu berbuat untuk kepentingan GAM dan perjuangan. Bahkan, demi perjuangan, keluarga lebih sering ditinggalkan. “Anak-anak kami juga telantar, sama seperti anak orang lain,” ceritanya tentang keadaan suaminya saat masih terlibat dalam perjuangan.

Asnani mengaku sangat sedih. Dia tak sanggup membayangkan jika suaminya harus menjalani hukuman sampai 35 tahun, berarti saat suaminya keluar nanti, sudah sangat tua. Saat itu, katanya, anak-anaknya sudah besar.

“Bagaimana saya harus menceritakan sejarah yang benar tentang ayahnya?” kembali Asnani berkata lirih. Mereka, sebutnya pasti akan bertanya tentang bapaknya. Mereka akan bertanya, kenapa ayahnya tidak dibebaskan seperti anggota GAM yang lain, apa bedanya antara ayahnya dengan orang lain.

Dulu, kata dia, saat anak-anaknya masuk kecil, dirinya selalu mencari berbagai alasan jika ditanya, mengapa Tgk Ismuhadi tidak pernah pulang ke rumah. Mulai dari kerja luar kota, ada keperluan hingga sejuta alasan lainnya.

“Ini semua demi kebaikan mereka. Tapi karena mereka saat ini sudah besar, saya tidak perlu bohong lagi tentang ayah mereka,”ucap Asnani.

Perjalanan hidup ibu dua anak ini memang penuh liku usai suaminya ditangkap. Dirinya juga sempat berpindah-pindah rumah demi menghindari pandangan negatif tetangga terhadap dia dan buah hatinya.

Untuk membiayai hidup sehari-hari, Asnani cuma bergantung pada satu Mini Bus hasil jerih payah suaminya sebelum ke tangkap. “Dulu, kami punya satu bengkel, namun sudah dijual karena tidak ada yang mengurusnya. Empat kopaja juga sudah di jual untuk menutupi ekonomi keluarga,”tutur dia.

Untuk kategori seorang isteri, Asnani tergolong isteri yang taat dan tabah. Dimana, saat isteri para Napol lain minta cerai karena tidak sanggup menanti dalam ketidakpastian, Asnani masih bertahan dan yakin suaminya akan segera bebas.

“Saya yakin, suami saya akan segera dibebaskan. Masih ada yang peduli di sini sehingga menjadi dorongan semangat bagi saya,”katanya.

“Saya minta Meuntroe dan Pemerintah Aceh tanggungjawab dan membebaskan suami saya segera,”harap Asnani lagi sambil menyekat air mata dengan unjung jilbab dengan nada penuh harap.

Harapan itu terasa tulus dari seorang isteri perjuang yang masih mendekam dibalik teruji. Tgk Ismuhadi, memang dikenal sebagai tokoh masyarakat Aceh di Jakarta. Dia banyak terlibat dalam kegiatan masyarakat Aceh, dan ikut membantu berbagai aksi masyarakat Aceh di Jakarta. Kasus peledakan BEJ menggiringnya ke dalam penjara. MoU Helsinki, antara pemerintah RI dan GAM, ‘hanya’ memberinya harapan untuk menghirup kembali udara bebas. Karena, dalam MoU disepakati point pemberian amnesti untuk anggota GAM yang ditahan maupun masyarakat Aceh yang tersangkut konflik Aceh.

Kamis, 02 September 2010

Lamnga, Medan Perang dan Panglima Tanpa Kepala


Tidak ada sejengkal tanah pun di daerah ini yang tidak di-isi oleh tulang belulang dan mayat para syuhada. Ada ribuan makam tanpa nama disini, yang berbaring indah tak beraturan di samping seorang panglima besar tanpa kepala, yaitu Teuku Nyak Makam.

Dia adalah sosok pahlawan yang luput dari catatan sejarah kita, dan panglima tak dikenang oleh para panglima era kini saat peringatan hari pahlawan nasional. Dia telah gugur bersama ribuan pasukannya disini, saat berjuang mempertahankan marwah dan harga diri Nanggroe Aceh dari tangan penjajah Belanda yang merongrong pangkuan ibu pertiwi saat itu.

Bagi penulis! Desa Lamnga sendiri, adalah daerah dengan potensi wisata sejarah yang amat kental, tetapi sayangnya disia-siakan oleh Pemerintah Aceh saat ini.

Desa Lamnga adalah sebuah daerah yang penuh lambang perjuangan, dan sejarah herois rakyat Aceh yang ternyata dilupakan pada masa ini. Daerah ini terletak di Kecamatan Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar.

Jarak yang hanya mencapai 12 Kilometer dari Kutaraja (Kota Banda Aceh-red), seharusnya daerah ini menjadi ikon wisata sejarah baru untuk Aceh. Paling tidak, hal ini yang tergambar pada diri penulis ketika turun ke lokasi, Selasa (31/3) lalu.

Ada beberapa sebutan yang melekat benar dengan daerah ini, seperti Lamnga Sigeu Poh dan Lamnga Pasie. Dinamakan dengan Lamnga Segeupoh! Hal ini karena, konon katanya, jika ada orang Belanda dan antek-anteknya melalui daerah ini, pasti akan menuaikan ajalnya di tangan para pejuang yang bertahan disana.

“Makanya, didaerah ini ada Dusun yang dinamakan dengan Abah Darah, atau Dusun dengan mulut darah. Lokasinya terletak tepat di jalan pintu masuk Desa. Di tempat itulah biasanya para pejuang Aceh melakukan patroli dan berperang dengan serdadu Belanda yang mencoba melintas ke Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar, ”ucap Sukma, 46, warga setempat kepada penulis disana.

Menurutnya, di Abah Darah pula, pasukan Aceh dalam unit pasukan Dilamnga selalu melakukan sweping pendatang pada masa itu. “Kalau ada warga yang mencari perlindungan akan selamat. Demikian juga dengan serdadu dan tentara belanda yang menyamar ketika berpergian ke Krueng Raya. Mereka akan dibunuh secara massal disana,” jelas dia.

Tidak hanya perkataan Sukma, tetapi beberapa sumber penulis juga mengatakan hal yang sama saat itu. Masyarakat disana ternyata tahu betul setiap jengkal tanah mereka, termasuk keberadaan sejumlah tulang belulang dari ribuan jasad para syuhada yang bersemayam di bawah rumah-rumah penduduk.

Muhammad Ali Ibrahim, Sekretaris Desa Lamnga kepada penulis juga mengatakan, bahwa sebetulnya masyarakat Desa Lamnga dulunya tidaklah tinggal dilokasi seperti sekarang. Masyarakat, saat itu tinggal disekeliling sudut desa yang kini telah berubah menjadi lokasi tambak dan sungai yang mengelilingi desa.

“Di sini dulunya adalah hutan yang dipenuhi oleh makam para pejuang yang syahid dalam pertempuran. Namun sekitar tahun 60 atau 70-an pernah terjadi banjir besar di Aceh sehingga memaksa warga lamnga harus tinggal di dataran tinggi dan membangun rumah diatas kuburan-kuburan,”ucapnya.

“Makanya, setiap ada perluasan rumah di Lamnga saat ini. Selalu ditemukan kerangka manusia, dan itu sudah biasa dialami oleh warga dan bukan hal yang mengejutkan lagi. Lokasi yang ditempati sekarang adalah tanah dengan makam besar yang pernah menjadi lokasi medan perang,” ungkapnya lagi.

Terlepas dari itu semua, daerah ini memang dikenal sebagai lokasi medan perang Belanda dengan para penjuang Aceh. Setidaknya, dalam beberapa catatan sejarah Aceh, tercatat daerah Lamnga pernah digunakan sebagai pusat komandon pasukan dilamnga yang menjadi unit pertahanan Kerajaan Aceh tempo dulu.

Catatan sejarah mengenai permasalahan ini kian mengecil setiap tahunnya. Hal ini, terjadi entah karena sejarah Lamnga ini tidak terlalu istimewa diceritakan, ataupun tidak ada yang mau mengembangkannya. Namun bagi penulis sendiri, tiada kata bosan untuk mengupas persoalan sejarah disana.

Kembali lagi pada perjuangan Pasukan Dilamnga. Tugas pokok dari pasukan ini menurut beberapa sumber yang didapatkan penulis adalah untuk menjaga Nanggroe Aceh di daerah pesisir dari serangan laut yang sering dilakukan oleh penjajah asal Belanda saat itu.

Pasukan Dilamnga sendiri pernah dipimpin oleh beberapa panglima besar Nanggroe Aceh saat itu. Hal ini seperti panglima perang Teuku Ibrahim Dilamnga (Suami Pertama Cut Nyak Dhien-red), serta Teuku Nyak Makam.

Kuburan Kedua tokoh ini terletak di samping Mesjid desa setempat. Pemugaran makam mereka tidak memakai keramik impor seperti layaknya tokoh sekarang. Sekelilingnya cuma ditumbuhi oleh sejumlah rumput kecil yang ditemani oleh batang kuda-kuda.

Menyangkut hal ini, satu kata yang pasti terucap. Perlakuan ini tentu saja sangat jauh dari kata layak untuk mengukur sikap perlakuan sebuah bangsa terhadap jasa para pahlawan nya. Bangsa kita ini, yang belum sepenuhnya menghargaian jasa pejuang.

Mitos perang dan panglima tanpa kepala
Di Desa Lamnga ini, terdapat dua makam yang dikeramatkan oleh penduduk. Pertama adalah Makam Panglima Teuku Ibrahim Dilamnga, suami pertama Cut Nyak Dhien. Dan yang kedua, yaitu Makam Panglima Teuku Nyak Makam. Jasad panglima ini dikuburkan tanpa kepala disisi kiri Mesjid Jamik Lamnga

Sebelum kita menguraikan tentang sebab musabab hilangnya kepala Panglima Teuku Nyak Makam ini. Alangkah lebih baik kalau kita menguraikan sedikit tentang sikap kepahlawanan Teuku Nyak Makam itu sendiri, sehingga oleh belanda baru dapat dipadamkan hanya dengan memecung kepalanya.

Teuku Nyak Makam dilahirkan di Lamnga, Kabupaten Aceh Besar pada tahun 1838. Sumber tertulis di makamnya menyebutkan bahwa kalau Teuku Nyak Makam ini memimpin perjuangan rakyat menentang belanda hampir 40 tahun lamanya.

Pasukan Dilamnga yang pada masa itu dibawah Pimpinan Teuku Nyak Makam bertugas mengawal Aceh bagian pesisir ternyata mampu membuat belanda pusing tujuh keliling. Penyerangan-penyerangan yang dilakukan Teuku Nyak Makam ternyata membuat belanda selalu harus hati-hati ketika menempuh perairan sepanjang Krueng Cut dan Krueng Raya serta Ulee Lhee.

Perlawanan Teuku Nyak Makam juga meliputi ke wilayah timur Aceh, serta hingga selat Malaka.

Teuku Nyak Makam baru berakhir ketika dirinya ditangkap oleh pasukan belanda di bawah pimpinan Letkol G.F Sooters dilamnga pada tanggal 21 Juli 1896. Pada saat itu beliau dalam keadaan sakit parah. Dirinya kemudian diseret ke Kutaraja dan dipacung dihadapan keluarga dan pengikutnya.

Konon, menurut beberapa sumber di lokasi makam, usai pemacungan dan kepalanya terpisah dari tubuhnya. Teuku Nyak Makam pun ternyata masih mampu berdiri dan melakukan perlawanan terhadap serdadu Belanda. Dengan tubuh tanpa kepala pula, kemudian teuku nyak makam kemudian dapat meloloskan diri dari kepungan belanda serta berlari meninggalkan lokasi pemacungan di kutaraja (pusat Kota Banda Aceh-red) hingga ke Dusun Abah Darah, Desa Lamnga yang menjadi markas Pasukan Dilamnga dan tempat kelahirannya.

Kalau dihitung-hitung, jarak Antara Desa Lamnga dengan Kota Banda Aceh saat ini sekitar 12 Kilometer, atau 15 menit jika melalui kenderaan bermotor. Dan pada saat itu, mampu ditempuh oleh Teuku Nyak Makam hanya dengan berlari dan tanpa kepala. Oleh pengikut dan pasukannya, Teuku Nyak Makam kemudian dimakamkan tanpa kepala disamping Mesjid Lamnga.

Sedangkan kepala Teuku Nyak Makam yang dipotong oleh penjajah Belanda kemudian dibawah keliling Kutaraja sebagai lambang penaklukan sekutu terhadap Penjuang Aceh. Kepala Teuku Nyak Makam ini kemudian diawetkan dalam sebuah botoh dan dipamerkan di koridor rumah sakit militer Belanda yang berada di daerah Kuta Alam pada saat itu.

Hingga kini Kepala Teuku Nyak Makam tidak diketahui sejarah jelas, baik dari keterangan sejarah maupun sumber-sumber lainnya. Adanya yang mengatakan bahwa kepala Teuku Nyak Makam ini kini berada di salah satu museum belanda yang dibawa pulang oleh sekutu ketika meninggalkan tanah air.

Sumber lain juga menyebutkan bahwa kepala Teuku Nyak Makam ini hilang saat begitu saja atas kuasa tuhan. Yang jelas hingga kini, makam kuburan Teuku Nyak Makam yang terdapat di Desa Lamnga Kecamatan Krueng Raya, Aceh Besar, masih tanpa kepala.

Ini adalah sebuah sebuah Historis yang nyaris punah dan terlupakan saat ini. ketika belanda tidak lagi menjajah Aceh, dan rakyat hidup makmur seperti impian teuku nyak makam dulu, kini ketika semua itu tercapai, justru dia yang dilupakan masyarakat.

Lamnga kini
Setiap Perjuang kemerdekaan memang tidak mengharapkan untuk dipuja dan disanjung ketika usahanya menuai hasil. Demikian juga dengan ratusan kuburan tanpa nisan dan nama, serta makam Teuku Nyak Makam yang terdapat di Desa Lamnga Kecamatan Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar.

Para syuhada ini, tentu tidak berharap agar makam-makam mereka dipugar seperti layaknya pahlaswan-pahlawan nasional yang syahid di komplek kalibata. Semua itu tidak pernah diharapkan mereka, kecuali sebuah janji syurga pada Allah SWT bagi hambanya yang telah berjuang mempertahankan bangsa dan agama.

Namun, sebuah pepatah mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsa mereka. Bangsa yang besar itu, adalah bangsa yang menghargai para penjuang mereka yang telah gugur demi mempertahankan bangsa dari tangan para penjajah.

Untuk saat ini, Desa Lamnga memang dikenal oleh masyarakat provinsi Aceh, terutama lewat hasil bumi seperti Sira (garam-red), gelar Desa Percontohan Pelaksanaan Syariat Islam di Provinsi Aceh ini. Namun dari segi perjuangan maupun sejarah perlawanan Teuku Nyak Makam sangat sedikit masyarakat yang mengetahuinya.

Dengan keadaan kita yang seperti ini, akahkan kita menjadi sebuah bangsa besar nantinya!

Rabu, 01 September 2010

Hidayah Itu Datang di Awal Ramadhan..


Mulutnya tampak sedang berkomat-kamit, tapi tidak jelas apa yang sedang diucap. Beberapa kali, ia tampak menyapu peluh yang turun membahasi pipi. Dengan kopiah hitam dan baju koko putih, sosok itupun mengucapkan dua kalimah syahadat.

Hari itu, Jum’at (13/8) memang terasa berbeda dengan hari biasanya. Sinar mentari tidaklah seterik biasanya. Butiran peluh yang turun dari tubuh Hendri Silitonga juga bukan karena dia sedang bekerja seperti biasa.

Peringatan jum’at tersebut terasa berbeda. Selain karena terdapat dalam bulan ramadhan yang menjadi kemuliaan dari masyarakat muslim dunia. Hari Jum’at itu, juga merupakan awal baru dari hidup Muhammad Sabri, sebagai saudara baru kaum muslim.

Ketika ratusan raut wajah mendadak tegang menanti lafazt khusus yang keluar dari mulut Hendri. Dirinya justru tersenyum cerah sebagai sosok Muhammad Sabri.

Ya, Hendri Silitonga, sebenarnya adalah warga asal Sumatra Utara yang bekerja sebagai buruh bangunan di Aceh sejak awal 2007. Bertepatan pada Jumat (13/8) lalu, bertempat di Masjid Jamik Kampus Unsyiah, dirinya mengucapkan dua kalimah syahadat, atau masuk islam.

Pensyahadatan Hendri atau Muhammad sabri ini dibimbing langsung oleh Imam Masjid Drs. Tgk. M. Nur Ismail LML dan disaksikan Rektor Unsyiah Darni M. Daud dan sejumlah hadirin yang hadir.

Hendri Silitonga yang dulunya beragama Kristen Protestan. Pria berkulit hitam manis ini akhirnya membulatkan niatnya untuk menjadi muslim dan diganti namanya menjadi Muhammad Sabri. Dirinya juga telah melewati ribuan episode kelam dalam hidupnya.

Seusai pensyahadatan, muhammad Sabri, nama islamnya dari Hendri Silitonga, mengatakan keinginannya untuk masuk ke agama Islam timbul dari hatinya dengan penuh keiihklasan dan tidak ada paksaan dari orang lain serta setelah pertimbangan yang matang dan tidak ada keraguan sedikitpun.

“Saya sudah merantau ke mana-mana di seluruh Indonesia, tapi ketika tiba di Aceh terasa berbeda dengan tempat lain. Lingkungan tempat saya tinggal sangat baik sehingga timbul dalam hati saya untuk masuk ke agama Islam. Dan ini yang membuat saya sangat terharu,” katanya.

Sabri menambahkan kedua orang tuanya tidak melarang jika ia berbeda keyakinan karena sebelumnya adiknya juga sudah masuk Islam. “Orang tua dan keluarga tidak menentang jika saya mau memilih agama Islam, dan mereka menyerahkannya kepada saya,” jelas Sabri anak tertua dari lima bersaudara.

Jelasnya, keinginan untuk masuk Islam pertama kali diutarakan Muhammad Sabri ketika bekerja sebagai buruh bangunan di rumah Drh. Syahidin, dosen FK Unsyiah di Prada. Oleh keluarga tersebut, dirinya mengaku dibimbing hingga akhirnya resmi memeluk islam seperti sekarang ini.

Sementara itu Rektor Unsyiah Darni M Daud mengatakan akan memberi bantuan dan bimbingan kepada Muhammad Sabri, sehingga bisa mengamalkan ajaran islam sesuai dengan syariat.

Darni M Daud juga meminta supaya Muhammad Sabri tetap menjaga hubungan silaturahmi dengan keluarga. “Walaupun ananda sudah berbeda keyakinan ke agama Islam, hubungan manusiawi tetap dijalin dengan keluarga baik di sini maupun dengan keluarga di Sumtera Utara,” katanya.

Pengsyahadatan tersebut selain dihadiri oleh pembatu rektor dan dosen Unsyiah juga dihadiri oleh keluarga Syahidin, Kepala Desa, Teugku Imum dan tokoh masyarakat desa Kopelma dan Prada.

Selasa, 17 Agustus 2010

Ketika Si Cacat Disakiti!!


Meningkatnya jumlah kekerasan anak di Aceh beberapa tahun terakhir seenarnya adalah bukti ketidakpekaan Pemerintahan Aceh melalui Badan Pemberdayaan Perempuan dan Anak dalam mengimplementasikan Undang-Undang nomor 23 tahun 2003 dan qanun nomor 11 tahun 2008.

keberadaan dua peraturan yang seharusnya menjamin dan memberikan perlindungan terhadap hak anak untuk provinsi Aceh ini ternyata malah tidak berkutik ketika hak para anak cacat yang mencari sedikit ilmu pengetahuan di bukesra tertindas.

Ketika kasus pemerkosaan, kekerasan dan pelecehan seksual di Bukesra terungkap ke publik. Para pejabat pemerintahan di Aceh malah menganggap kasus ini berlalu seperti air yang mengalir.

Temuan ini tentu saja mengakibatkan kita untuk berasumsi tetap dua hal, yaitu masih lemahnya implementasi dan pengetahuan para pejabat Aceh tentang Undang-Undang nomor 23 tahun 2003 dan qanun nomor 11 tahun 2008 tentang Anak! Atau memang keberadaan anak dengan status penyandang cacat di Aceh yang masih belum diakui keberadaannya?

Hal ini perlu ditegaskan demi terpenuhinya hak-hak anak Aceh dimasa yang akan datang, terutama pasca terungkapnya kasus pemekorsaan dan kekerasan di Yayasan penyandang anak cacat Bukesra Aceh.

Yayasan Badan Usaha Kesejahteraan Para Cacat atau Bukesra Aceh sejatinya adalah sebuah yayasan yang diperuntukan untuk menampung dan mendidik para siswa cacat se-Aceh. Ketika semua sekolah lain menolak keberadaan anak tersebut karena kekurangannya, tetapi Bukesra malah diharuskn untuk menampung dan membinanya.

Dalam pembagian tugas Yayasan Bukesra di Aceh, sejatinya lembaga tersebut disiapkan untuk bisa menjadi sebagai rumah dan keluarga kedua bagi anak cacat Aceh.

Dengan segala keistimewaan yang diberikan seharusnya lembaga tersebut bisa menjadi syurga dunia bagi anak penyandang cacat. Namun yang terjadi di bukesra ternyata adalah kebalikan dari yang diharapkan selama ini.

Sejumlah anak penyandang cacat di tempat itu (Bukesra-red) akhirnya mengaku mengalami tindakan pelecehan seksual dan pemerkosaan, Kekerasan fisik dan metal.

Kemudian, pasca mencuatnya dugaan kasus permerkosaan siswi penyandang cacat di Yayasan Bukesra oleh pengurus yayasan setempat. Salah seorang penyandang cacat alumni yayasan Bukesra lainnya bernama Hanafiah, 41, yang kini tinggal di Desa Lambhuk, Kota Banda Aceh, kepada media , Senin (3/8), malah secara tiba-tiba membuat sebuah pernyataan mengejutkan.

“Ini sudah berlangsung sejak lama, bahkan sejak ketua yayasan sebelumnya Kini dia sudah meninggal. Siswi disana sering dilecehkan secara seksual dan dianiaya oleh Zainuddin. Korbannya terkait hal ini semasa saya saja mungkin sudah banyak, dan saya siap jadi saksi jika mereka hendak dipenjara,”akhirinya.

Pernyataan ini tentu saja mengejutkan semua pihak. Seumpaman pepatah yang mengatakan bahwa pagar makan tanaman, mungkin layak disandingkan dengan Bukesra.

pelecehan seksual dan pemerkosaan
para pengurus yang seharusnya bertugas mendidik dan menjaga para siswa cacat ini, ternyata juga tega ‘mengagahi’ keperawanan para siswi nya yang berkemampuan terbatas ini. Disinyalir, perilaku penyimpangan tersebut sudah berlangsung sejak lama di yayasan ini, serta “memakan’ banyak korban.

Data yang didapatkan oleh penulis, kasus ini sendiri terbongkar atas pengaduan sejumlah guru di yayasan setempat kepada pihaknya, Jum’at (31/7) lalu. Kasus ini juga telah dilaporkan oleh jajaran guru setempat, pada Poltabes Banda Aceh, pada 24 Juli lalu.

Dari pelaporan guru ini, salah seorang tersangka bernama Zakaria alias Jek, 40 tahun, yang selama ini bertugas sebagai tukang antar jemput ketua yayasan, telah ditangkap polisi. Dia dituduh telah memperkosa bunga (bukan nama sebenarnya-red), siswi SDLB Yayasan Bukesra asal Pidie.

Pengakuan para guru, pemerkosaan yang dilakukan oleh tersangka Jek terhadap bunga ini, terjadi pada 21 Juli lalu, pukul 15.00 Wib, di Asrama Putri Bukesra di Desa Jurong Pejera, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar. Perbuatan ini disinyalir, dilakukan tersangka Jek atas sepengetahuan ketua yayasan setempat, Zainuddin.

“Selesai di setubuhi, tersangka Jek ini sempat mengeluarkan ‘kencing’ berwarna putih di lantai, tetapi kemudian langsung dihapus oleh ibu ketua asrama putri. Kuat dugaan kasus ini turut melibatkan dia sehingga bukan cuma ada satu tersangka dalam kasus ini,”papar para guru pelapor tersebut.

“Saat ini, korban yang sudah diambil oleh keluarganya ini berada dibawah pengawasan KPAID. Kami minta polisi mengusut tuntas kasus ini, termasuk adanya indikasi lain berupa dugaan pelecehan anak lainnya yang disinyalir sering dilakukan oleh para pengurus yayasan setempat,” sebut mereka lagi.

Kekerasan fisik terhadap si cacat
Tidak hanya pemerkosaan, Tujuh pelajar di Yayasan Bukesra Aceh, Kamis (13/8) lalu, kembali melaporkan pengurus Yayasan setempat ke Poltabes Banda Aceh.

Pelaporan ini, berselang dua hari setelah sebelumnya keluarga korban pelecehan seksual anak di bawah umur ternyata juga melaporkan ketua yayasan setempat bernama Zainuddin ke Kepolisian Sector (Polsek) Ingin Jaya, Aceh Besar. Keluarga menuduh bahwa ketua yayasan ikut bersengkokol dengan tersangka.

Menurut ayah korban yang berinisiar SY ini, dirinya baru mengetahui pemerkosaan yang dialami oleh bunga (anaknya-red) setelah Ketua KPAID Aceh, Anwar Yusuf Ajad, datang kerumahnya di Pidie, pada 2 Agustus lalu. Padahal, tindakan pemerkosaan Zakaria terhadap anaknya itu telah terjadi pada 21 Juli lalu.

“Padahal, dalam rentang waktu 21 Juli hingga 2 Agustus, kami (keluarga-red) ada mengunjungi korban selama dua kali, yaitu 26 Juli dan 30 Juli, di Yayasan Bukesra. Namun pihak yayasan ternyata tidak pernah memberitahu adanya tindakan pemerikosaan ini kepada kami selaku orang tua korban. Ini yang kemudian kami sinyalir sebagai upaya persengkokolan,”papar ayah korban.

Kembali pada kasus kekerasan yang terjadi di bukesra. Para pelajar yang melapor ini adalah Khairul Huda, Rizki Nanda, Safriadi, Rizal serta Ibrahim yang melaporkan adanya perlakuan tindak kekerasan yang dilakukan oleh Kepala SMPLB Bukesra bernama Munawarman kepada mereka (pelajar-red).

Selain itu, pada saat yang bersamaan juga, para pelajar lainnya yang bernama Nuraisyiah dan Raziah yang menjadi saksi pada kasus pemerkosaan bunga, juga melaporkan pengurus Bukesra lainnya bernama Yuli dengan laporan pencemaran nama baik dan pengancaman.

“Kasus tindak kekerasan dilaporkan oleh pelajar bernama Khairul Huda CS dengan nomor laporan LPK/545/VIII/2009/SPK. Sedangkan pencemaran nama baik dan aksi pengancaman dilaporkan oleh pelajar Nuraisyiah dengan nomor laporan LPK/546/VIII/2009/SPK. Kita akan tindaklanjut kasus ini,”ucap Kapoltabes Banda Aceh, Kombes Pol Samsul Bahri melalui Kanit PPA Poltabes Banda Aceh, Aiptu Filman.

Sesuai dengan laporan ini, lanjut dia, khairul Huda CS yang didampingi oleh guru dan perwakilan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Aceh, mengaku mereka telah diperlakukan kasar oleh Murwarman. Para pelajar yang cacat ini mengaku sering dikasari dan ditampar.

“Puncaknya pada saat pelapor CS pulang dari jalan-jalan di penutupan Pka V, kemarin. Pelapor mengaku kalau pelaku langsung memukul mereka saat itu,”jelas dia.

Sementara itu, Nurasyiah, pelapor lainnya kepada polisi juga mengaku bahwa dirinya dan Raziah juga telah mendapatkan ancaman dari yuli selaku pengurus yayasan. Pasca terungkapnya kasus pemerkosaan di bukesra, mereka mengaku sering diancam .

“Puncaknya Rabu malam (12/8) kemarin, kami dipanggil oleh Buk Nur dan K’yuli. Kami dikatain dengan bahasa kasar seperti yak meulonte malam malam, lagee binatang tebit lam weu (pergi melacur malam-malam. Seperti binatang ke luar kandang-red). Padahal saya cuma beli sabun di kedai Lambaro,”paparnya.

“Kami tidak tahan lagi,”ucapnya.

Dikengkang saat mengadu
Sementara itu, terlepas dari kedua permasalahan ini, Ketua KPAID Aceh, Anwar Yusuf Ajad juga mengaku sangat menyesalkan adanya sikap tidak ramah dan arogasi yang diperlihatkan oleh Kapolsek Ingin Jaya kepada pelajar cacat yang hendak melaporkan kasus ini pada jajaran tersebut.

Menurut Anwar, mulanya para pelajar hendak melaporkan kasus tindak kekerasan dan pencemaran nama baik serta pengancaman ini pada Polsek Ingin Jaya. Hal ini didasari karena Yayasan Bukesra terletak di daerah kekuasaan hukum dari Polsek itu,

“Tetapi, saat kita hendak melapor kesana, dia (Kapolsek-red) langsung membentak-bentak pelajar. Kalian dari mana? Ini siapa?, dengan kata-kata emosional sehingga pelajar cacat ini ketakutan dan shock. Kemudian kita baru melaporkan kasus ini pada Poltabes Banda Aceh yang ternyata dilayani dengan baik,”ucap dia.

“Kita selaku lembaga anak sangat menyayangkan sikap Kapolsek yang tidak memberikan perlakuan khusus terhadap anak selaku pelapor ini, terlebih mereka cacat,”akhirinya.

Hanya Kasus Indivindu
Zainuddin, ketua Yayasan Badan Usaha Kesejahteraan Para Cacat (Bukesra) Aceh, pada Rabu (12/8) telah membantah bahwa dirinya telah bersekongkol dengan zakaria terkait aksi pemerkosaan anak umur di sekolah mereka.

Menurutnya, aksi yang dilakukan oleh Zakaria murni perbuatan asusila yang dilakukan secara pribadi tanpa melibatkan yayasan di dalamnya. Kasus ini dianggap sudah selesai perdebatannya karena sedang diproses secara hukum oleh jajaran Poltabes Banda Aceh.

“Jadi kalau dibilang saya terlibat dan dilaporkan ke Polsek Ingin Jaya oleh keluarga dengan dugaan saya bersekongkol dengan Zakaria karena menyembunyikan informasi pada keluarga itu tidak benar. Perbuatan ini malah tanpa sepergetahuan saya selaku pimpinan,”ucap dia kepada wartawan, kemarin.

Menurutnya, Yayasan Bukesra tidak pernah bermaksud menyembuyikan informasi Pelecehan Seksual yang dialami siswanya bernama bunga pada orang tuanya sendiri. Hal ini dinilai terjadi karena pihak yayasan sendiri tidak mengetahui kalau perbuatan ini telah terjadi di yayasan tersebut.

“Kami tidak mengetahui hal ini sudah terjadi. Bahkan Keluarga bunga yang mengaku pernah datang ke sekolah juga tidak pernah bertemu dengan saya,”bela Zainuddin.

Hingga hari ini, lanjutnya lagi, dirinya bahkan mengaku masih sangksi telah terjadinya pemerkosaan yang dilakukan oleh Zakaria terhadap bunga, siswi SDLB di Yayasan Bukesra. Bisa jadi, ungkap Zainuddin, keperawanan bunga hilang ketika dia berada di kampung halamannya saat liburan sekolah selama 21 hari.

“Soalnya waktu dia kembali ke sekolah dia tampak kurus. Tapi kalau zainuddin terbukti ya diproses secara hukum,”ucap Zainuddin.

Yang melaporkan kasus pemerkosaan, lanjut Zainuddin, adalah guru yang tidak sependapat dengan dirinya. “Hingga kini yayasan memang belum mengetahui duduk persoalan yang terjadi,”ucap zainuddin seolah hendak menegaskan ketidakterlibatan dirinya dalam kasus ini sambil mengakhiri pembicaraan saat itu.

Mengemis iba pejabat untuk si cacat
Penyelesaian hukum terhadap kasus kekerasan dan pemerkosaan yang terjadi di Yayasan Bukesra Aceh saat ini memang sedang diproses oleh jajaran kepolisian, serta jaksa.

Namun yang sebenarnya diperlukan pasca mencuatnya kasus ini adalah adanya peningkatan perhatian dan pengawasan serius Pemerintah Aceh melalui lembaga terkait terhadap keberadaan anak penyandang cacat.

Sikap tersebut dinilai langka dan jarang ditunjukan oleh para pejabat Aceh selama ini, bahkan bisa dikatakan tidak ada.

Para pejabat ini hanya menggelar sejumlah acara seremonial dan seminar di hotel-hotel besar dengan menggunakan anggaran yang diperlukan untuk anak. Sedangkan kegiatan yang bersentuhan langsung terhadap anak sangatlah jarang terjadi.

“Dari Permasalahan ‘Burung’, Hingga Hilang Mahkota,”

Hari itu, Senin (3/8) udara di Kota Banda Aceh terasa panas membakar berkali-kali lipat. Selain karena pengaruh panas terik matahari yang kian menyegat, mencuatnya kasus dugaan pemerkosaan di yayasan pembinaan anak penyandang cacat Bukesra, juga membuat sepasang suami isteri yang tinggal di Jln T. Iskandar, Desa Lambhuk, Kota Banda Aceh, tampak bermuka pias.

Maklum, pasangan suami isteri ini memang alumni yayasan Buskesra Kota Banda Aceh. Sebagai ‘orang dalam’ keduanya mengaku sudah paham benar dengan apa yang terjadi di bukesra selama ini. termasuk adanya perbuatan bejat para pengurus setempat kepada anak didiknya selama ini.

Pihaknya mengaku enggan berkomentar, karena takut sama pengurus Yayasan. Terlebih karena kekurangan yang mereka miliki ini.

“Lebih baik suami saya saja mengatakan hal ini. Beliau lagi sembayang,”ucap nurlaili, pada rombongan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Aceh saat bertandang ke tempatnya. Penderita cacat mental ini cuma menatap mobil yang berlalu di dekat tempat tinggal mereka, ruko berlantai dua itu.

Selama lima menit, Hanafiah, turun mendekati rombongan. Suami Nurlaili ini berstatus sebagai penyandang cacat mata. Pria yang berprofesi sebagai tukang urut ini menyapa hangat gombongan yang hadir, termasuk wartawan.

“Ini sudah berlangsung sejak lama, bahkan sejak ketua yayasan sebelumnya. Kini dia sudah meninggal. Siswi disana sering dilecehkan secara seksual dan dianiaya. Korbannya in, sejaki masa saya di bukesra saja mungkin sudah banyak, dan saya siap jadi saksi jika mereka hendak dipenjara,”ucapnya secara tiba-tiba. Tampak emosinya keluar saat itu.

“Banyak yang tahu persoalan ini, kemudian dipecat secara tiba-tiba oleh yayasan. Saya juga termasuk, karena saya bela kebenaran, ya di pecat dari pengurus yayasan,”ucap hanafiah.

“Dulu tukang masaknya Husna. Namun di pecat karena takut dibongkar aib mereka, kemudiah saya, dan terakhir zulakha yang kami percayain,”tuturnya lagi.

“Isteri saya juga disuruh pegang (maaf red-kemaluannya) zainuddin waktu dia belum jadi ketua yayasan seperti sekarang. Tetapi dia cuma sekali,”paparnya lagi, kemudian termenung dan diam seribu bahasa. Seperti orang yang sedang menahan gejolak amarah.

Selain nurlaili dan hanafiah, kasus pelecehan ini juga dialami oleh bunga (bukan nama sebenarnya-red), 12, asal Pidie. Ketika ditemui oleh wartawan di KPAID, ketakutannya masih tampak jelas dimatanya. Sehingga sepatah katapun tidak meluncur dari bibirnya yang mungil. Dia takut,..

“Dia mengaku diperalat oleh tersangka Jek yang kini ditahan oleh Poltabes Banda Aceh. Menurut pengakuan bunga, dia cuma diberikan uang seribu perak usah dgauli,”usah Anwar ketua KPAID Aceh.

Ya, ketiga penyandang cacat mengaku diperalat. Diantara ratusan korban pelecehan ini, baru mereka yang mau bersuara. Lainnya mungkin belum, atau takut.

Menurut data yang diperoleh wartawan, Yayasan Bukesra sendiri hingga 19 Juni 2009 masih ‘membina’ 47 anak penyandang cacat yang belum diketahui kondisi sesungguhnya dari mereka hingga kini. Terutama pasca terungkapnya kasus ini, entahlah...murdani

Ketika Uang Nelayanpun Ikut Disikat Maling Berdasi


Bukan lagi sebuah rahasia umum kalau negara kita, Indonesia termasuk dalam daftar tiga besar peraih gelar negara terkorup di dunia. Perilaku gemar berkorupsi menjamur di semua profesi pekerjaan, yaitu mulai dari pejabat paling tinggi, para PNS di pemerintahan, para pelaku wirausaha, serta masyarakat biasa.

Sebagai salah satu contoh, uang hibah untuk nelayan miskin pun rupanya tak luput dari sasaran tindakan korupsi. Hal ini diduga terjadi pada Yayasan Pangkai Meureuno Aneuk Nelayan (YPMAN), yang merupakan lembaga otonom hasil bentukan Panglima Laot Aceh, pada proyek pembelian sepetak tanah di Desa Neuheun seluas 7.149 m2 dengan dugaan Mark Up sebesar Rp750 juta lebih.

Yayasan Pangkai Meureuno Aneuk Nelayan (YPMAN) diduga telah melakukan Mark Up dana hibah nelayan dalam pembelian sepetak tanah di jalan Laksamana Malahayati, Km 13.5, Neuheun, Aceh Besar. Dana yang dikucurkan untuk pembelian tanah seluas 7.149 m2 tersebut, bersumber dari bantuan hibah Menkokesra sebesar Rp4,45 milyar dan hasil lelang kapal ikan Thailand, sebesar Rp11,9 milyar dengan post anggaran khusus untuk pembelian tanah sebesar Rp1.251.075 ribu.

Menurut sumber dan data yang diperoleh penulis di lapangan, pembelian tanah seluas 7.149 m2 sejatinya akan dipergunakan untuk membangun sekretariat Yayasan Pangkai Meureuno Aneuk Nelayan (YPMAN).

Dugaan adanya Mark Up, karena harga tanah yang dibayar cuma sebesar Rp70 ribu per meternya, dengan jumlah total keseluruhan harga tanah sebesar Rp500.430.000, pada masyarakat.

Sementara dalam laporan Rapat Kerja YPMAN, TA. 2009-2010, pihak yang membeli tanah tersebut membuat jumlah harga tanah permeternya yang dibeli adalah sebesar Rp175 ribu, dengan total keseluruhan sebesar Rp1.251.075.000.

Dalam hal ini, pihak Lembaga Laot tersebut diduga telah meraup keuntungan atau Mark Up dari post anggaran pembelian tanah sebesar Rp750.645.000 ribu.

“Dugaan Mark Up yang terjadi, sekitar Rp105 ribu per meternya oleh panitia pembelian tanah. Jika dikalikan, maka total jumlah Mark Up yang terjadi sebesar Rp750 juta lebih,” ungkap salah seorang sumber kepada penulis.

Selain itu, beberapa temuan penulis juga menunjukan bahwa ada beberapa dugaan lain yang dapat menguatkan bahwa adanya ‘upaya bersama’ dalam dugaan Mark Up dana nelayan ini.

Sebagai contoh, dana YPMAN sebesar Rp1.251.075.000 dicairkan dari pihak keuangan lembaga sekitar tanggal 4 Maret 2009. Padahal, tanah untuk lokasi sekretariat Yayasan di Desa Neuheun Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar, baru didapatkan pada tanggal 20 Maret 2009 lalu. Sedangkan proses pembayarannya baru dilakukan pada tanggal 26 Maret 2009.

“Jadi jarak pencairan uang dari yayasan tersebut dengan penyesuaian penetapan tanah, mempunyai limit waktu yang lama sekitar 16 hari. Mengapa dana sudah dicairkan duluan sesebelum tanah didapatkan kalau bukan ada tujuan hendak bermain,”jelas sumber tadi.

Diduga, tiga pengurus Yayasan Pangkai Meureuno Aneuk Nelayan (YPMAN), atau lembaga otonom bentukan panglima laot Aceh diduga terlibat aktif pada penyelewengan dan dugaan Mark Up dana hibah nelayan dalam pembelian sepetak tanah di jalan Laksamana Malahayati, KM 13.5, Desa Neuheun, Aceh Besar. Sebut saja mereka berinisiar Bus, Mif, serta Is.

Ketiga pengurus ini diduga dengan sengaja melakukan skenario penyelewengan dana hibah sehingga merugikan nelayan sebesar Rp750.645.000.

Menurut sumber informasi yang diperoleh, tiga nama yang dinilai bertanggungjawab ini adalah Bus selaku ketua YPMAN, Mif, Sekretaris YPMAN serta Is, selaku pihak ketiga atau agen tanah yang sedang diperkarakan oleh masyarakat setempat saat ini.

“Keterlibatan ketiganya memiliki porsi masing-masing. Mereka ‘yang diduga bermain’ dibalik dugaan Mark Up yang terjadi, yaitu Rp750.645.000,” ucap sumber penulis lainnya yang minta namanya dirahasiakan, Sabtu (9/10) lalu.

Menurutnya, dugaan keterlibatan Bus selaku ketua YPMAN, serta Mif, diduga terjadi pada upaya pencairan dana yayasan jauh hari, sebelum pembayaran tanah terjadi. Dana tersebut dicairkan dari pihak keuangan lembaga sekitar tanggal 4 Maret 2009 dan tanah baru didapat sekitar tanggal 20 Maret 2009. Sementara pemilik tanah, baru dibayar sekitar tanggal 26 Maret 2009.

“Bus dan Mif diduga menarik dana cepat, yaitu 4 maret 2009 untuk diserahkan pada Is selaku pihak ketiga guna dicari tanah dan dibayar pada 26 Maret lalu. Skenario yang dibuat seolah-olah nantinya, pihak yayasan membeli tanah dari Is dengan harga Rp175.000 permeter. Padahal tanah tetap dibeli dengan dana yayasan,” ucap sumber tadi.

Sedangkan dugaan keterlibatan Is, tambah sumber tadi, adalah di duga karena mark up yang terjadi. Dia membeli tanah seharga Rp70 ribu permeter dengan luas 7.149 m2 dari Daeng, seorang warga Desa Neuheun. Namun tanah ini kemudian pada laporan Rapat Kerja YPMAN, TA. 2009-2010, pihak yang membeli tanah membuat jumlah tanah permeternya yang dibeli sebesar Rp175 ribu, dengan total keseluruhan sebesar Rp1.251.075 ribu.

“Ketiganya sudah dipanggil polisi beberapa kali karena dugaan mark up senilai 105.000 permeter atau Rp750.645.000 dari 7.149 m2 luas tanah yang dibeli. Namun ditingkat Kepolisian Banda Aceh, kasus ini sendiri sangat ditutupi karena ketiga tersangka memiliki jabatan penting pada sejumlah posisi di Aceh,” papar sumber tadi lagi.

Sementara sumber penulis lainnya, yaitu Geuchik Neuheun, Sabirin, S.Pd yang dihubungi penulis, mengakui adanya selisih harga tanah yang dibeli dengan harga dalam Laporan Kerja Panglima Laot, seperti yang dilihatnya dalam Berkas Acara Pemeriksaan (BAP) di Poltabes, saat dipanggil sebagai saksi beberapa kali. Namun, semua itu, katanya baru diketahui dikemudian hari, kalau harga tanah yang dianggarkan tersebut mencapai Rp1.251.075 ribu.

“Berdasarkan surat perjanjian jual beli tanah yang saya tanda tangani, dengan bubuhan tanda tangan Rossi (istri Daeng) sebagai penjual tanah, bahwa harga yang tertera sebesar Rp70 ribu per meter dengan luas tanah 7.149 m2, total keseluruhan tanah tersebut menjadi Rp500.430 ribu,” jelasnya.

Namun, sayangnya, kasus ini seakan kian raih di tingkat kepolisian. Beberapa kali dikonfirmasi oleh penulis, baik mendatangi langsung ke Poltabes Banda Aceh, maupun melalui HP, ternyata jajaran disana masih terkesan sangat menutupi adanya kasus ini, bahkan terkesan menyembunyikannya.

Pihak Polisi Kota Besar (Poltabes) Banda Aceh, Kombes Pol Syamsul Bahri melalui Kabag Reskrim, AKP Syahrul, Sik, cuma mengatakan satu kata secara singkat.

“Maaf, saya tidak bisa menjawabnya karena kasus tersebut bukan saya yang menanganinya. Saya harus memanggil pihak penyidik dulu untuk memastikan jawaban kasus tersebut,” ujarnya, Senin (12/10). Namun ketika penulis mendatangi kantor tersebut untuk kejelasan, tetap tidak memperoleh data yang dimaksud mengenai sejauh mana perkembangan kasus ini.

Disisi lain, Askhalani, Pjs Koordinator Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh, mengatakan, kasus tindakan pidana korupsi atau dugaan adanya Mark Up tersebut harus diungkap. “Sementara pihak aparat hukum, wajib melakukan penyidikan atas kasus tersebut dan mencari bukti-bukti kuat atas laporan tersebut,” ujarnya saat itu.

Katanya, tindak pidana korupsi merupakan delik aduan yang sifatnya kalau sudah ditangani oleh aparat penegak hukum, maka untuk kelengkapan kasus harus dicari sendiri oleh penyidik.

“Jadi kalau dibilang data tidak lengkap, maka ini harus dibuktikan. Sebagai perbandingan antara jumlah yang dibayar dan yang dicatat dalam transaksi pembayaran harga tanah adalah pintu masuk untuk menyelidiki laporan kasus tersebut. Bukannya menutup sebuah kasus hanya gara-gara data yang kurang lengkap,” jelasnya.

Menurutnya, dugaan Mark Up atas pembebasan tanah yayasan tersebut, melanggar UU No 31 Tahun 1999, jo UU No 20 Tahun 2001, tentang pemberantasan tindak pidana korupsi pasal 2 dan 3, tentang unsur memperkaya diri sendiri dan orang lain atau suatu korporasi.

Terlepas dari itu semua, kini lagi-lagi perilaku tikus berdasi di Aceh telah ‘memakan’ hak rakyat miskin. Dana yang seharusnya diperuntukan untuk pemberdayaan nelayan miskin Aceh, kini malah di Mark Up oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Haruskan kasus ini juga terbenam dengan ‘indah’ di pasir-pasir negeri yang katanya penegak syariat tuhan? Jawabannya! Hanya tuhan yang tahu. Semoga!!

Senin, 16 Agustus 2010

PLN Aceh, Habis Gelap, Gelaplah Kembali !!


Persoalan listrik di Aceh sepertinya tidak akan kunjung selesai. Pemadaman bergilir, baik direncanakan atau tidak, telah menjadi pemandangan dan aktivitas sehari-hari. Bahkan, puluhan pelaku bisnis yang mengantung hidup pada ‘bola api’ tersebut juga terpaksa gulungan tikar. Ibarat kata pepatah, habis gelap, gelap kembali.

Sebenarnya, bukanlah tanpa dasar pepatah tersebut muncul. Pasalnya, krisis listrik di Provinsi Aceh telah terjadi sejak belasan tahun lamanya. Bahkan, pemadaman listrik di daerah ini, telah melewati berbagai agenda penting di Aceh, baik semasa konflik, reformasi hingga pasca tsunami.

Keberadaan listrik bagi masyarakat seharusnya menjadi kebutuhan mutlak yang harus segera dipenuhi. Namun, janji para pimpinan negeri ini untuk membelikan pelayanan terbaik bagi masyarakatnya, tidak juga kunjung ditepati sehingga selalu menimbulkan tanda tanya.

Hal ini pula yang disinyalir mengapa para investor, pengusaha serta pelaku bisnis sepertinya enggan melakukan investasi berskala besar di daerah ini. kelemahan tersebut, bahkan sempat diungkap secara terang-terangan oleh Wakil Gubernur Muhammad Nazar, dalam beberapa kesempatan.

“Kita mengharapkan permasalahan listrik segera berakhir di Aceh. Ini penting untuk mendukung pembangunan dan investasi. Tanpa listrik, investasi di daerah ini akan berjalan lamban,”ucap Wagub, dalam beberapa pertemuan penting di awal tahun 2009 lalu.

Ungkapan yang sama juga sempat diucapkan oleh Hermes Thamrin, pengusaha sekaligus pemilik Hotel Hermas Palace yang juga Hermes Palace Mall, kepada media massa beberapa waktu lalu. Kata dia, Provinsi Aceh sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar untuk dapat dikembangkan.

Namun, kondisi ini tidak dapat disentuh karena adanya permasalahan listrik. Para pengusaha, dinilai tidak mau mengambil resiko yang besar hanya untuk mengolah sumber daya tersebut. Pasalnya, semua peralatan elektroknik saat ini, membutuhkan listrik sebagai pendukung investasi.

“Hal inilah yang belum dimiliki oleh Aceh saat ini. Para pengusaha, tentunya tidak mau mengambil resiko yang besar serta pembiayaan yang tinggi hanya untuk melakukan investasi di Aceh,”katanya.

Permasalahan ini telah bertahun-tahun tidak mampu di jawab oleh pemerintah dan Perusahaan Listrik Negara (PLN) selaku lembaga BUMN yang mangani permasalahan listrik. Janji manis yang ditebarkan oleh pimpinan di lembaga tersebut, akhirnya berbuah kecaman dari masyarakat.

Masyarakat yang merasa berhak untuk memperoleh kehidupan yang lebih layak pun, akhirnya cuma bisa melayangkan sejumlah protes pada PLN. Protes tersebut, baik berbentuk kecaman, kritikan hingga demotrasi. Sayangnya, lagi-lagi kekecewaan dari masyarakat ini tidak memiliki pengaruh yang besar bagi peningkatan kinerja PLN.

Akibatnya, demo hingga cemoohan untuk PLN pun bermunculan. PLN, dari Perusahaan Listrik Negara, diplesetin menjadi Pabrik Lilin Negara.

Didemo Mahasiswa dan Masyarakat
Puluhan mahasiswa dari Universitas Syiah kuala (Unsyiah) menggelar aksi demotrasi ke kantor Perusahaan Listrik Negara (PLN) Aceh, Senin (9/8). Para mahasiswa ini menuntut perusahaan tersebut untuk tidak melakukan pemadaman listrik selama bulan ramadhan.

Aksi mahasiswa ini, dimulai sejak pukul 11.00 WIB dengan membawa sejumlah karton yang berisi kecaman terhadap kinerja PLN selama ini.

“PLN Aceh sudah sepantasnya diberikan nama Perusahaan Lilin Negara, karena cuma bisa memproduksi lilin dari hari ke hari, bukan listrik. Komitmen mereka (PLN-red) terhadap janji yang pernah diucapkan beberapa waktu lalu, masih sangat lemah,”ucap Taufik, orator massa.

Orasi ini, ternyata mendapat dukungan dari massa yang hadir. Beberapa massa yang membawa karton bertulisan, ‘Kami butuh Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan bukan Perusahaan Lilin Negara (PLN)” serta ‘kami butuh listrik’ juga sempat meneriakan PLN sebagai pabrik lilin. “Pelayanan dari PLN Aceh masih terburuk di dunia,”ucap orator lainnya.

Sementara itu, Alfiyan Muhiddin, koordinator massa, mengatakan aksi pihaknya ini menuntut PLN untuk tidak lagi melakukan pemadaman listrik selama bulan ramadhan. Pasalnya, pemadaman listrik dinilai hanya akan mengganggu ibadah masyarakat.

“Kita minta PLN untuk menandatangani pernyataan tertulis berisi komitmennya tidak melakukan pemadaman. Jika melanggar, kita minta pimpinan PLN untuk mundur dari jabatannya,”jelas dia.

Menanggapi hal ini, Sulaiman Daud, PLH General Manager PLN Aceh, mengatakan pihaknya akan mengusahakan untuk tidak melakukan pemadaman selama ramadhan.

Terkait pernyataan tertulis, dirinya cuma mau menandatangi surat tersebut, jika dicantumkan nama pribadi serta dibumbui kata kata Isya Allah di ujung surat. Tawaran inipun dengan mudah disetujui oleh mahasiswa. Selesai ditandatangi surat tersebut, massa membubarkan diri pada pukul 12.00 WIB dengan tertib.

Masih terkait dengan isu serupa, ratusan masyarakat di Aceh juga pernah mengelar aksi serupa ke kantor PT PLN setempat. Namun bedanya, dalam aksi beberapa waktu lalu itu, masyarakat turut menyalakan ratusan lilin di pagar dan papan nama perusahaan milik negara tersebut sebagai wujud kekecewaan terhadap buruknya pelayanan listrik di daerah tersebut.

Aksi yang dimulai sekitar pukul 20.30 WIB dari taman Ratu Safiatuddin menuju kantor PT PLN Aceh di jalan T Nyak Arief itu sempat memacetkan arus lalulintas. Ratusan pendemo yang dikawal ketat oleh aparat kepolisian setempat melakukan longmarch dengan membawa lilin dan obor.

Mereka juga mengusung sejumlah spanduk bertulisan, Aceh negeri lilin, serta membagi-bagikan ratusan lilin bagi pengguna jalan di ibukota Provinsi Aceh itu. Aksi gugat PT PLN tersebut, menuntut perusahaan milik negara itu, untuk menghentikan pemadaman bergilir yang saat ini masih berlangsung di daerah paling barat pulau sumatera.

"PT PLN harus menghentikan pemadaman bergilir dan menormalkan kembali arus listrik di daerah berpenduduk sekitar 4,6 juta jiwa ini," kata Oriza Keumla, salah seorang aksi, pada waktu itu.

Mereka juga meminta perusahaan itu untuk bertanggungjawab dan memberikan kompensasi terhadap kerugian yang ditimbulkan dari pemadaman bergilir tersebut."Aceh banyak sumber daya alam, tapi kenapa Aceh masih belum `merdeka` dari listrik," katanya dengan nada kesal.

Mereka juga meminta Pemerintah Aceh ikut bertanggungjawab dalam mencari solusi agar daerah tersebut dapat keluar dari krisis listrik. Selain itu, Koalisi NGO HAM Zulfikar Muhammad mengatakan, pihaknya juga akan melakukan "class Action" terhadap PT PLN, karena telah banyak merugikan masyarakat.

"Kita telah siapkan 26 pengacara untuk menggugat PT PLN yang dinilai telah merugikan masyarakat," ujarnya.

Mesin Diesel Produksi Tahun 70an
Diluar konteks pembahasan tadi, sebenarnya kita juga perlu mengetahui bahwa permasalahan yang dihadapi oleh manajemen yang dihadapi oleh PLN saat ini, juga sangatlah komplit.

Banyaknya mesin diesel hasil produksi tahun 70an yang masih dipergunakan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai pembangkit listrik di Provinsi Aceh, dikatakan merupakan penyebab utama terjadinya pemadaman selama ini. PLN Aceh mengaku belum memiliki anggaran yang cukup untuk mengganti mesin tersebut dengan yang baru.

“Kita belum memiliki anggaran yang cukup untuk mengganti mesin diesel yang baru. Kendala ini menjadi penyebab utama PLN Aceh, sekalipun Menteri BUMN saat ini dijabat oleh Mustafa Abubakar, yang notabenenya adalah orang Aceh,” ucap Sulaiman Daud, PLH General Manager PLN Aceh, kepada media massa, kemarin.

Menurutnya, terjadinya pemadaman biasanya disebabkan oleh tiga hal. Yaitu, pemadaman direncanakan atau bergilir, pemadaman direncanakan karena pemeriharaan mesin, serta pemadaman tak terduga karena bencana alam atau angin kencang. Namun yang sering terjadi di Aceh saat ini, adalah pemadaman direncanakan karena pemeriharaan mesin.

Pasalnya, kata dia, hampir 25 persen mesin diesel yang digunakan oleh PLN Aceh saat ini adalah produksi tahun 70an. Mesin diesel tersebut dinilai harus sering dirawat dan diperbaiki agar tidak macet dan bermasalah bagi mesin sambungan lainnya.

“Makanya dibutuhkan pemadaman direncanakan dengan tujuan pemeriharaan mesin tersebut. Kasus ini, terjadi di wilayah Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Makanya, daerah tersebut sering dipadamkan listrik belakangan ini,”jelas Sulaiman lagi.

Sebenarnya, lanjut dia lagi, kapasitas listrik yang dibutuhkan untuk Provinsi Aceh adalah 290 MegaWatt (MW). Sedangkan pembangkit listrik yang dimiliki oleh PLN saat ini, adalah pembangkit yang memiliki daya 200 Megawatt (MW) yang memang sudah dipakai sejak dulu, serta mesin tambahan baru didatangkan dengan daya 72 megawatt.

“Dengan mesin berdaya 272 Mega Watt (MW) ini sebenarnya sudah cukup untuk menyuprai listrik ke masyarakat di seluruh Aceh. Namun karena mesin-mesin dieselnya sudah relative tua, jadi harus sering dirawat, dan ini penyebab pemadaman,”ungkapnya.

Dirinya berharap, tambah Sulaiman, kritis listrik di Aceh dapat segera teratasi dengan segera selesainya PLTU di Nagan Raya yang memiliki kapasitas 200 megawatt.

Berharap Pada Panas Bumi dan Turbin Aron
Selain itu, Pemerintah Jerman melalui lembaga Entwic Klungs Bank (KFW) sebenarnya menghibahkan dana sebesar 7 juta Euro untuk eksplorasi panas bumi Seulawah Agam, yang bakal dijadikan sebagai energi tenaga listrik. Inilah yang diharapkan dapat menjadi solusi terakhir untuk mengatasi krisis listrik di provinsi ini.

Sesuai dengan Undang-undang No.11 tahun 2006, pihak daerah dinilai berhak melakukan pengembangan pemanfaatan dan pengelolaan energi alternatif itu. Pemanfaatan tenaga panas bumi dan air untuk energi listrik, dianggap akan memberikan dua keuntungan bagi masyarakat, yaitu sebagai pemakaian sumber energi dari alam yang tidak akan habis-habisnya, serta juga tidak merusak lingkungan.

Selain itu, keberadaan tiga turbin gas aron yang dihibahkan kepada Pemerintah daerah, juga diharapkan mengatasi krisis listrik di daerah ini.
“Kita berharap turbin ini dapat segera digunakan sehingga menjadi alternative terakhir untuk mengatasi krisis listrik,”ucap Sulaiman Daud, PLH General Manager PLN Aceh, kepada media massa.

Namun sayangnya, hingga akhir tahun 2010, ungkap sulaiman, kedua sumber listrik tersebut belum juga mampu dioperasikan. “Permasalahannya terletak pada pembiayaan dan dana,”ungkap dia.

Habis Gelap, Gelap Kembali
Peristiwa gempa dan tsunami yang melanda Aceh diakhir tahun 2004 lalu, telah mengiring kembali provinsi ini ke masa yang suram. Bencana tersebut juga telah merusak hampir setengah fasilitas pelayanan public yang pernah dimiliki oleh Aceh, seperti jalan, sekolah dan penerangan.

Provinsi Aceh seolah-olah kembali diseret ke zaman kegelapan. Dimana saat itu, hampir ribuan masyarakat kehilangan rasa percaya dirinya untuk dapat kembali melanjutkan hidupnya, setelah kehilangan anggota keluarga. Beruntung, keberadaan ratusan lembaga donor dan kuatnya iman yang dimiliki masyarakat, ternyata mampu mengatasi persoalan ini.

Besar harapan, masa kegelapan ini segera berganti dengan masa yang terang benderang, seperti semboyan yang pernah dikumandangkan oleh RA. Kartini. Sayangnya, harapan ini sepertinya hanyalah harapan semu belaka. Pasalnya, mativasi kerja yang tinggi dari masyarakat kembali terhalang dengan krisis listrik yang belum juga berakhir hingga akhir 2010.

Habis gelap, maka gelaplah kembali. Pribahasa inilah yang akhirnya terjadi di Tanoh Keneubah Iskandar Muda.

 
Free Host | lasik surgery new york