Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 September 2011

Bagi Kami, Perang Itu Hobi…!


Hari itu, kamis (1/8) jalan Medan-Banda Aceh, tepatnya di pertikungan Pasar Impres Krueng Mane tampak relatif lebih padat dari biasanya. Sekelompok remaja paruh baya sedang berkumpul di ujung jembatan. Rata-rata diantara mereka berusia 10 hingga 15 tahun. Mimik wajah mereka yang terlihat serius memberi kesan sedang merencanakan sesuai, namun entah rencana apa itu.

Tiga orang diantara mereka memegang erat senjata jenis AK-47. Satu orang tampak memegang senjata laras pendek serta dua lainnya yang berdiri paling sudut jembatan memegang senjata dengan jenis yang lebih canggih.

Posisi sekelompok pemuda ini seperti tentara yang hendak mengempur musuh. Padahal, daerah Krueng Mane dan sekitar merupakan wilayah dalam Provinsi Aceh yang telah damai pasca konflik tanggal 15 Agustus 2005 lalu.

”Pai lewat, Pai lewat,”teriak seorang bocah. Bocah ini memakai baju kotak-kotak dan celana berwarna biru. Tampaknya, dia merupakan komandan dari sekelompok pasukan ’kecil’ tadi. Namun tidak jelas maksud dari kata ’pai’ yang sempat dilontarkannya. Seruan bocah yang belakangan diketahui Aidil, 14 ini, ditunjukan untuk sekelompok remaja lainnya diatas mobil bak terbuka yang hendak melalui jembatan Krueng Mane-Gerungok. Mereka juga memegang senjata dengan merek yang tak kalah canggihnya.

Seruan Aidil ini ternyata amat dipatuhi oleh ’geng’ tadi. Beberapa personil yang memegang AK-47 kemudian langsung mengarahkan senjatanya terhadap ’musuh’ tadi. Namun, ’sang musuh’ yang berada di atas mobil pun ternyata sudah siaga terhadap kemungkinan diserang. Kedua kelompok ini kemudian saling ’jual-beli’ peluru dalam waktu yang relatif singkat.

”Ka tembak, pai-pai,”ucap para bocah ’musuh’ lainnya diatas mobil tadi. Sejumlah peluru dari pasukan Aidil ternyata cukup membuat mereka kerepotan dan beberapa diantaranya tampak bersembunyi untuk mencegah hantaman peluru ke tubuhnya. Aksi dua kelompok remaja ini sempat membuat sejumlah pengguna kenderaan lainnya mengeluarkan sumpah serapa. Pasalnya, aksi mereka ini membuat arus lalu lintas terganggu. Beberapa pengemudi bahkan terkena ’peluru nyasar’.

Namun, aksi dua kelompok ini bukan berarti konflik Aceh terulang kembali. Kedua ’pasukan’ tadi hanyalah anak-anak yang melakukan perang-perangan dengan mengunakan senjata mainan. Sikap sekelompok ’pasukan’ tadi juga tidaklah ada hubungannya dengan konflik Aceh yang sempat menjadi perhatian dunia internasional.

”Bagi kami, perang-perangan itu sudah menjadi hobi,”ungkap Aidil usai aksi perang-perangan tadi. Beberapa diantara mereka tersenyum puas karena mampu mengenai tubuh musuh.

”Payah moe awaknya munoe (mereka harus menangis tadi),”tambah bocah lainnya bernama Idris. Diantara ’pasukan’ ini cuma dia yang memegang senjata laras pendek dan paling kecil.

Menurut Aidil, sudah menjadi kebiasaan anak-anak di daerah mereka, setiap perayaan Hari Raya, baik Idul Adha maupun Idul Fitri, selalu bermain perang-perangan. Anak-anak dari masing-masing Desa (yang memiliki senjata mainan-red) selalu membentuk satu kelompok dan berkumpul pada satu tempat untuk ’menyerang’ kelompok lainnya.

”Awaknyan na peng, dijak ngon manto. Sedangkan kamoe hana peng, mempreh bak jembatan mantong (mereka ada uang, bisa pergi dengan mobil. Sedangkan kami tidak ada uang, terpaksa menunggu di jembatan),”tutur Aidil lagi. Untuk mengwujudkan hobi mereka tersebut, para bocah tadi ternyata rela mengeluarkan uang dalam jumlah yang tergolong banyak untuk anak-anak setiap tahunnya.

”AK-47 Cuma 54 Ribe. Meunyoe yang nyan 100 ribe,”ungkap Aidil mantang sambil menuju senjata mainan yang lebih besar milik anggota kelompok mereka. Namun ketika ditanya mengenai maksud ’Pai’ dari kata-kata mereka tadi, Aidil tidak mau menjawab. Matanya cuma memang kearah jalannya.

”Cuma mainan bang, kon betoi-betoi,”ucap dia sambil berlari menjauhi tempat wartawan berdiri. Tingkah Aidil ini ternyata diikuti oleh rekan-rekannya. Mereka sepertinya kembali mencoba menghadang pasukan lainnya di lokasi yang lebih strategis.

Kamis, 14 Juli 2011

Para Pengais Rupiah dari Tumpukan Sampah


Hari itu, Senin (11/7), Kota Banda Aceh masih diselimuti awan tebal serta hujan lebat. Derasnya air yang berjatuhan dari langit, turun tanpa henti sejak sang surya menyanpa daerah ini dini hari tadi. Petanda ini biasanya dianggap sebagai rahmat bagi penduduk daerah yang berjulukan Kutaradja ini setelah lama di landa kemarau berkepanjangan.

Hujan yang disertai dengan angin kencang juga membuat sejumlah ruas jalan raya di ibukota menjadi area monopoli para borjuis yang memiliki kendaraan beroda empat. Sedangkan pengguna sepeda motor lebih memiliki berteduh hingga anugrah tuhan tersebut berhenti.

Di Simpang Mesra, sepasang suami istri yang mengenderai roda tiga dengan cat berwarna hijau tua berhenti mendadak. Mereka bukan sedang mencari tempat berteduh guna mengeringkan baju seperti yang lainnya. Padahal, keadaan alam sedang sangat tidak bersahabat saat itu.

Sang laki-laki tampak berpostur kurus kering dan berkulit sawo mantang. Dia memakai jaket hitam dan celana merek jeans. Sedangkan sang isteri berbaju katun dengan motik kotak-kotak. Mereka berhenti di dekat tumpukan sampah tidak jauh dari deretan toko tempat wartawan berteduh.

Lelaki kurus kering tadi kemudian membungkuk sambil mengais sejumlah barang yang berbahan plastik. Sedangkan sang wanita membuang air yang tertampung dalam botol tadi, kemudian memasukannya ke dalam goni besar yang terletak di atas becak hijau tua. Dua sejoli ini, sepertinya adalah warga Kutaradja yang berprofesi sebagai pemulung.

Gerakan Pasutri ini sangat cekatan. Tumpukan sampah plastik yang tadinya mengunung disana mampu berpindah tempat hanya dalam hitungan menit. Dinginnya angin yang disertai hujan lebat seakan tidak sedikitpun menganggu aktivitas rutin mereka.

”Kami sudah biasa bekerja dalam cuaca seperti ini, bahkan dalam suasana lebih ekstrim sekalipun. kalau kami tidak bekerja seperti ini, tidak bisa memberikan makanan untuk anak-anak di rumah,”ungkap pria kurus kering yang belakangan mengaku bernama Ismail, asal Gampong Keudah. Sedangkan istrinya mengaku bernama Alfida. Mereka juga telah dikarunia dua orang anak yang sedang menempuh pendidikan dasar.

”Mereka sedang sekolah. Kalau jam sekolah usai, mereka juga akan ikut memulung seperti kami,”tambah Ismail lagi. Keluarga Ismail, ternyata adalah sekelompok kecil dari kehidupan pemulung yang coba bertahan hidup di tengah-tengah himpitan masyarakat kota yang borjuis.

Menurutnya, penghasilan dari kegiatan memulung selama ini, ternyata mampu mengasapi dapur keluarganya selama ini. Dari kegiatan memulung pula, dirinya mampu menyekolahkan kedua putra-putrinya di Sekolah Dasar. Hal inilah yang selalu disyukurinya selama ini.

Jika di hitung-hitung, lanjut pria yang mengaku berasal dari Aceh Utara ini, penghasilannya dari kegiatan memulung, perharinya berkisar antara Rp45.000 hingga Rp60.000. Jumlah pendapatan ini tergantung pada jumlah sampah yang dihasilkan serta kecekatan dirinya berkerja.

”Kalau hujan seperti ini, kerja sedikit lamban. Botol plastikpun berair sehingga harus dikeringkan terlebih dahulu agar harganya lebih mahal. Para penampung biasanya membeli sampah plastik dengan harga Rp3.000 perkilo. Sedangkan sampah plastik berair Rp2000 perkilo. Kalau kami, rata-rata mendapatkan 15 hingga 20 Kg perharinya,”tutur Ismail.

Pesaing utama Ismail dalam memulung selama ini, tambah dia, adalah para petugas kebersihan kota. Para petugas tersebut memulai kerja dari pukul 22.00 WIB hingga pukul 05.00 WIB dini hari. Saat-saat itu, seluruh sampah plastik sudah pasti diboyong semua oleh para petugas sehingga sulit bagi mereka untuk mengais rezeki dari sampah.

”Oleh karena itu, kami terpaksa bekerja di luar jadwal mereka. Jika beruntung, kami menemukan rumah warga yang baru melaksanakan pesta pernikahan sehingga dipastikan akan banyak sampah pasti disana. Jika sedang sial, ya seperti sekarang, hujan lebat tanpa henti dari pagi,”ungkapnya sambil tersenyum dan tabah menjalani profesinya tersebut.

Tak lama, hujan pun mulai berhenti. Ismail kemudian meminta izin untuk melanjutkan kerjanya guna mengais sedikit rupiah dari tumpukan sampah kota tua ini. Dia ingin menaklukan kota ini dengan tekan bajanya.

Ditempat terpisah, Syarifuddin, Ketua Lembaga Perhimpunan Pemulung (LPP) yang baru saja terbentuk pada Juni 2011, mengaku jumlah pemulung di Kota Banda Aceh saat ini mencapai ribuan. Namun yang bergbung dengan pihaknya saat ini berjumlah 175 Kepala Keluarga (KK) atau 525 masyarakat di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar yang berprofesi sebagai pemulung.

”Rata-rata mereka menghasilkan 15 hingga 20 Kg sampah plastik setiap harinya. Selama seminggu, LPP menampung hampir satu ton sampah plastik. Peran pemulung dalam menjaga kebersihan kota sangat berarti, namun sering kali mereka didiskreditkan oleh Pemerintah. Kehidupan mereka masih sangat memprihatinkan,”akhiri dia.

Sabtu, 09 Juli 2011

Mastura, Lumpuh Setelah Peluru Menembus Kepalanya


Gadis kecil berkulit sawo mantang ini memiliki senyuman yang amat menawan. Padahal, dirinya merupakan salah satu saksi hidup tentang perihnya kehidupan masyarakat Aceh semasa konflik.

Gadis ini bernama Mastura. Kini dia berumur 11 tahun, asal Gampong Tanjong, Idi, Kabupaten Aceh Timur. Bocah berwajah polos ini menderita kelumpuhan setelah peluru nyasar menempus kepalanya, sekitar sepuluh tahun yang lalu. Kondisinya yang lumpuh ini membuat dirinya tidak bisa mendapatkan pendidikan yang layak seperti bocah lainnya pasca damai di Aceh. Selama sepuluh tahun terakhir, dilaluinya hanya dalam sebuah kamar kecil di desa kelahirannya itu.

“Mastura lumpuh sejak kecil. Ini berawal dari peluru nyasar yang menembus kepalanya sekitar sepuluh tahun lalu. Waktu itu Aceh sedang konflik,”kisah Rukiyah, 49, orang tua Mastura, saat ditemui oleh wartawan di kantor Lembaga Advokasi Buruh dan Nelayan Aceh (Labna), Jum’at (8/7).

Dia mengisahkan, malapetaka yang menimpa putri bungsunya tersebut terjadi pada pertengahan 2002 lalu. Sebagaimana keadaan daerah konflik pada umumnya, suasana Gampong Tanjong, kecamatan Idi, saat itu sedang sangat mencekam. Suara rentetan senjata api dan bom meletus hampir saban hari serta sering menewaskan masyarakat sipil yang tidak bersalah. Naas, Mastura yang masih berumur 13 bulan pun ikut menjadi korban.

Dan, pada hari serta bulan yang tidak lagi diingat oleh Rukiyah. Saat itu, untuk kesekian kalinnya terjadi kontak senjata antara TNI dan GAM di Gampong Tanjong. Dirinya tanpa sengaja membawa Mastura keluar rumah guna menghirup udara segar.

”Tiba-tiba suara rentetan senjatapun kembali terdengar. Saya coba berlindung dan menutup tubuh Mastura. Namun pas saya memegang kepala dia, terlihat darah. Saat itulah, saya baru sadar bahwa Mastura telah menjadi korban peluru nyasar,”papar Rukiyah.

Pasca insiden tersebut, lanjut dia, pihaknya langsung melarikan Mastura ke RS Langsa. Seminggu kemudian dirujuk ke RS Adam Malik, Medan. Disana, nyawa Mastura dapat diselamatkan dan bocah tersebut mulai sadarkan diri.”Kami juga sempat membawa Mastura ke RS Mutiara di Medan. Saat itu, ada orang yang baik hati yang mau membiayai pengobatan anak saya,”ungkap janda yang ditinggal cerai suaminya ini.

Setelah keadaan Mastura semakin membaik. Pihak keluarga kemudian kembali membawa pulang dirinya ke kampung halaman. Sayangnya, saat itu keluarga tidak sadar kalau bayi mereka mulai lumpuh. Keadaan ini baru diketahui saat usia Mastura memasuki tahun ke 5 dan ke 6. Sebagaimana bayi pada umumnya, pada tahun-tahun tersebut seharusnya Mastura sudah mampu berjalan dan berbicara.

Keanehan lainnya, lanjut dia, tiap malam Masyura selalu dihantui oleh rasa sakit dan mimpi buruk. Keadaan ini selalu berulang pada pukul 02.00 dini hari. Selain itu, sejak terkena peluru nyasar, bocah Mastura juga tidak bisa mengontrol buang air sendiri.

”Kami biasanya membawanya ke dukun atau tabib kampung. Tapi tidak sembuh-sembuh juga. Akhirnya, setelah 10 tahun, kini saya kembali mencoba mengobatinya ke rumah sakit. Saya berharap dia bisa segera normal seperti anak lainnya,”pungkas Rukiyah.

Sayangnya, tambah dia, selama perawatan Mastura, dirinya tidak lagi dapat bekerja sebagai pedagang makanan seperti biasanya. Padahal, dari jerih payah pekerjaan tersebutlah mereka hidup selama ini. Nafkah terhadap dirinya dan biaya pengobotan Mastura saat ini ditanggung oleh anak yang paling tua. ”Saya berharap ada dermawan yang tergerak hati untuk membantu anak saya sembuh. Saya Cuma ingin mastura sehat,”akhiri dia. Apakah yang hendak membantu ?

Sabtu, 23 April 2011

Menanti Makna Dibalik Taubatnya Sang Pengembala


Hari itu, Jum’at (22/4) bertepatan dengan hari paskah bagi umat Kristiani. Namun Zainuddin bersama 129 pengikutnya justru memadati Mesjid Raya Baiturrahman Kota Banda Aceh. Sang pengembala itu berikral untuk kembali kepangkuan islam.

Zainuddin memakai baju biru, berpeci serta sarung. Demikian juga dengan ratusan pengikutnya yang datang dari berbagai daerah, seperti Matang, Sigli dan Lhokseumawe serta Langsa. Jika dilihat sekilas, mereka seumpana alumni dayah atau pesantren yang baru selesai turun pengajian.

Rata-rata dari pengikut Millah Abraham memakai baju merah dan biru seperti halnya Zainuddin, sang ’pengembala’ mereka selama ini. Para pengikut ini juga masih terlihat polos dan berumur rata-rata 19 hingga 25 tahun.

Pada awal-awal pensyahadatannya, pengembala itu dengan tutur kata yang relatif lembut mengaku bersalah karena ajaran sesatnya selama ini. Dia berjanji akan meninggalkan semua yang ajaran yang pernah dia pelajari dan diajarkan pada orang lain.

"Selama ini saya berguru pada orang yang salah. Oleh karena itu, saya akan menyatakan pada pengikut, bahwa ajaran yang selama ini saya berikan pada mereka selama ini, menyimpang dari yang sebenarnya," katanya.

Beberapa pengikut yang mendengarkan pengakuan ini tertunduk, ada juga yang menatap tiang-tiang mesjid dengan padangan yang kosong. Tapi, sebahagian besar dari mereka terlihat bersikap wajar, seolah-olah tidak terjadi apa-apa selama ini.

Zainuddin berkisah dirinya sempat menetap di Jakarta. disana, dia pernah berguru pada seseorang yang memandang semua agama di dunia memiliki posisi sama. Pria itu juga membahas Injil, Taurat, Zabur dan Al-Quran, secara bersama yang kemudian diajarkan kepada dirinya dan diteruskan pada ratusan para pengikut baru di Aceh.

“Setelah di penjara saya banyak bersujud dan solat malam. Saya bermimpi bahwa apa yang saya ajarkan selama ini tidak sesuai dengan Al-qur’an dan Hadist. Setelah kenjadian itu, saya berbicara dengan polisi dan meminta untuk dikembalikan ke ajaran islam, termasuk mengajak pengikut untuk taubat,”ungkap dia yang mengaku sangat menyesal.

Diluar ikral tersebut, kenjadian yang menimpa Zainuddin ini sebenarnya sungguh mirip dengan kisah Ahmad Musadeq, pimpinan aliran Al-qiyadah Al Islamiyah yang pernah mengaku rasul pada awal-awal tahun 2006 lalu. Tetapi, karena banyaknya ancaman saat itu, dirinya kemudian mengaku bertaubat, pada 9 November 2006.

Didampingi dengan tiga tokoh ulama nasional, KH Agus Miftach, Bachtiar Aly, Said Agil Siroj, dan tim dari MUI, akhirnya Ahmad Mushaddeq menyatakan pertaubatannya di Mapolda Metro Jaya. Pertaubatannya ini disusul dengan taubat massa ribuan pengikutnya pada tempat-tempat yang berbeda.

Aliran yang pernah dibawah oleh Ahmad Musadeq pada tahun 2006 lalu dengan yang diajarkan oleh Zainuddin memiliki banyak kesamaan 100 persen, demikian juga nasib mereka berdua. Bahkan, nabi yang diakui oleh Zainuddin dan pengikutnya adalah Ahmad Musadeq.

Kini, dua sosok pengembala ini ’mengaku’ telah kembali bertaubat. Di masa Ahmad Musadeq, biarpun dirinya di bui selama 5 tahun karena melakukan penistaan agama, ajaran yang pernahnya diajarkan tetap berkembang hingga ke Seramoe Mekkah. Sedangkan makna dari taubat Zainuddin masih ditunggu ’harap-harap cemas’ oleh masyarakat Aceh.

Sedangkan Kapolresta Banda Aceh, Armen Syah Thay menyatakan, pihaknya akan tetap memproses hukum terhadap Zainuddin yang telah melakukan penistaan agama. ” Mereka akan diancam dengan hukuman penjara paling lama 5 tahun sesuai pasal 156 KUHP tentang penistaan agama,”ujar dia.

Rabu, 23 Maret 2011

Jilek, Korban kebakaran Butuh Uluran Tangan Dermawan


Jasman Banurea atau dipanggil Jilek, kini terbaring lemah di ruang IGD Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA). Bocah yang baru berumur 15 tahun itu, dilaporkan mengalami luka bakar yang terbilang serius sejak November 2010 lalu.

Jilek adalah putra dari Rodes Banurea, 41, yang bertempat tinggal di Desa Kuta Tengah kecamatan Penanggalan Kota Subulussalam. Bocah tersebut mengalami luka bakar hampir 90 persen di seluruh tubuhnya. Jilek sebenarnya telah menjalani perawatan diberbagai Rumah Sakit selama ini, namun belum mengalami perubahan.

Maklum, orang tua Jilek sendiri adalah masyarakat miskin di Subulussalam. Kehidupannya yang pas-pasan membuatnya kesulitan untuk pengobati pasien hingga sembuh.

“kami membawa korban kesini setelah mendapat bantuan dari berbagai pihak. Kesembuhan jilek adalah harapan terbesar kami,” ungkap Rodes, orang tua jilek, kepada wartawan, kemarin.

Menurut Rodes, dirinya sebenarnya tak sanggup lagi untuk melihat penderitaan anaknya yang masih sangat muda dan masih dibangku sekolah. Namun kecelakaan yang menimpanya itu terjadi karena ketidaksengajaan.

Hari naas itu, lanjut dia, terjadi pada awal November. Saat itu, kondisi listrik mati di daerah tempat tinggal mereka. Pada saat bersamaan, Jilek dilaporkan sedang bermain ke salah satu rumah tetangga yang menjual bensin eceran. Tetangga tersebut kemudian meminta Jilek untuk menyalakan api karena pada saat itu Jilek sedang memegang korek api gas. Tapi tanpa menyadari, korban saat itu sedang berada didekat bensin, dan Jilek pun langsung menyambar hampir seluruh tubuhnya.

“pasca kejadian, Jilek langsung dibawa ke Puskesmas Penanggalan, tapi karena kondisinya cukup parah ia pun dilarikan ke RSUD Singkil, disana dirawat selama 14 hari tapi karena kondisi juga belum membaik Jilek dilarikan ke RSU Adam Malik Medan, karena tidak ada biaya untuk perawatan, setelah di rawat 16 hari, Jilek dibawa pulang kerumah,”ungkapnya lagi.

Namun, lanjut dia, pada awal Maret ini, dirinya bersama keluarga dan Pengurus PMI Kota Subulussalam yang turut simpati atas musibah yang menimpal korban, sepakat untuk kembali merawat Jilek. Kamis sore (10/3) Jilek akhirnya dilarikan ke RSUZA untuk ditangani lebih serius.

Sementara itu, Bambang Herwanto, tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan di Dinas Sosial Kota Subulussalam dan juga anggota Pengurus PMI Subulussalam yang turut mengantarkan Jilek ke RSUZA mengatakan bahwa Jilek telah mendapat bantuan dari Pemerintah dan beberapa kerabat, namun dengan kondisinya saat ini, Jilek masih membutuhkan biaya tambahan untuk kembali melakukan aktifitasnya.

“Pemko, DPRD, Wakil Walikota dan Dinas Sosial Kota Subulussalam juga telah memberikan bantuan family kit berupa logistik dan pangan dan sejumlah uang kepada keluarga namun biaya ini belum cukup karena kondisi Jilek cukup parah dan perlu penanganan serius, untuk itu dia kami bawa kemari, kami mengharapkan dukungan bantuan dana untuk membantu pengobatan Jilek”, harapnya.

Rodes mengatakan bahwa ia mempercayakan PMI Aceh untuk menyalurkan bantuan untuk putranya, bantuan masyarakat untuk membantu Jilek dapat di salurkan melalui Rekening Palang Merah Indonesia PMI Provinsi Aceh melalui BNI Cabang Banda Aceh No. Rekening 68077656 atas nama Pengurus PMI Provinsi NAD. Dirinya berharap, uluran tangan para dermawan dapat menyembuhkan anaknya, ...semoga.

Senin, 21 Maret 2011

Ikral Nek Aisyah Untuk Sang Gubernur


Diusianya yang sudah senja, Nek Aisyah, demikian nama wanita ini biasanya disapa, masih terlihat bugar. Dia juga sangat vokal dalam menyuarakan rasa ketidakadilan yang menimpa dirinya, dalam aksi demotrasi di Depan Kantor Gubenur, Senin (21/3) lalu.

Matanya boleh saja sudah rabun, demikian juga dengan tubuhnya yang sudah rentan dan sering diserang sakit remantik. Tetapi, dalam hal semangat, Nek Aisyah jauh lebih berapi-api dibandingkan aktivis kampus yang baru belajar demontrasi. Dengan suaranya yang boleh dikatakan lantang dan khas, dia berkali-kali memanggil Gubernur Aceh dan Wakil Gubernur, untuk turun dari singgasananya, guna menemui mereka.

”Pat janji neu untuk kamoe korban tsunami. Ka tujoh thon udep di barak, tapi rumoh hana neujok lom hingga dinoe. (mana janji gubernur untuk kami korban tsunami. Sudah tujuh tahun hidup di barak, tapi rumah bantuan belum juga diberikan,”ungkap Nek Aisyah laksana orator ulung.

Ya, Nek Aisyah adalah satu dari puluhan korban tsunami yang rumah bantuannya diserobot orang lain di Desa Labuy dan Miruek Lam Reudep, Kecamatan Baitursalam, Aceh Besar. Hal inilah yang membuat dirinya mengadu ke Kantor Gubernur.

Bagi Nek Aisyah, selamat dari gelombang tsunami yang melanda Aceh diakhir tahun 2004 lalu, bukanlah sebuah rahmad. Disaat dua anak kandungnya, serta dua cucunya menuai ajal dalam tragedi tersebut, dirinya justru ditakdirkan selamat karena mampu mengapung di atas kasur saat tsunami menerjang daerah Ulee Lhee.

Sejak saat itu, kehidupannya berubah total. Dari dulunya, cuma duduk manis di rumah karena dinafkahi oleh anak-anaknya yang sudah besar. Kini, dirinya terpaksa bekerja keras untuk menghidupi diri sendiri, serta dua cucunya yang yatim piatu. Menurut dirinya, musibah tersebut adalah awal dari keterpurukan hidupnya.

”Tiap hari saya jualan kacang. Hasil dari jualan kacang cuma cukup untuk makan. Saat ini, dua cucu saya sedang sekolah, kalau saya mati, siap yang menjaganya,”ucap isteri dari almarhum Idris ini yang meninggal sejak tahn 1984 itu, sambil menyapu butiran air yang mengalir dari matanya.

Nek Aisyah mengaku, sejak masa rehab-rekon hingga kini, sangat mengharapkan adanya rumah bantuan. Paling tidak, katanya, rumah tersebut, dapat menjadi tempat berteduh bagi dua cucunya di masa depan. Selain itu, juga dapat menjadi tempat akhir baginya ketika berhembus nafas yang terakhir nanti atau meninggal dunia.

”Namun, saya tidak pernah mendapatkan rumah bantuan. Hingga tujuh tahun, kami masih tinggal di barak di Dusun Tongkol, Ulee Lhee. Lantai barak sudah rusak dan saya perbaiki lima kali, demikian juga dengan atap yang sudah bocor, namun rumah bantuan tidak kunjung diperoleh,”tutur dia.

Dirinya, mengaku juga masih teringat janji Timses Irwandi-Nazar di awal tahun 2006 lalu. Saat itu, menjelang Pilkada Aceh, para timses tersebut, menurut dia, datang ke baraknya. Mereka meminta dia untuk mencoblos gambar yang memakai pakaian Aceh.

”Katanya, kalau mereka menang dapat rumah bantuan. Namun janji tersebut tidak pernah diwujubkan hingga kini. Bahkan, saya sendiri terancam diusir dari barak Ulee Lhee. Penghuni barak disana cuma diberikan waktu hingga satu bulan mendatang, untuk mengosongkan barak,”lirik Nek Aisyah.

Terhadap nasibnya tersebut, Nek Aisyah cuma mampu menyerahkan hal tersebut kepada Allah SWT. Demikian juga, dengan orang yang menyerobot rumah bantuannya di Labuy, dia cuma berharap Allah SWT segera menyadarkan mereka. Tapi, khusus untuk sang gubernur, Nek Aisyah mengakui punya ikral.

”Han akan lon pileh lee gubernur (Irwandi-red) jika hana mampu menyelesaiakan amanah rakyat. Janji mereka untuk menuntaskan kasus penyerobotan rumah bantuan, adalah amanah, namun diingkari. Dosa menyoe ta pileh pemimpin yang hana amanah. Nyoe ikral dan doa lon sabe lam sembahyang,”pungkas dia

Rabu, 01 Desember 2010

Sambutan Hangat SBY Dari Mahasiswa Aceh..!


Ratusan massa mahasiswa berujuk rasa menyambut kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Provinsi Aceh, Senin (29/11). Demo tersebut merupakan aksi ’terhangat’ untuk seorang presiden yang dipilih hampir 93 persen masyarakat Aceh, tetapi masih dan baru setengah hati menjalankan petisi perdamaian.

Aksi ini menuai bentrokan dengan aparat keamanan di Simpang Tiga Kota Banda Aceh. Dikatakan hangat, karena aksi ini berlanjut di tengah-tengah ujan deras yang sedang menbasahi bumi Iskandar Muda.

Massa yang tergabung dalam Front Mahasiswa-Rakyat Peduli Perdamaian (FMRA-PP) ini terlibat aksi saling lempar batu hingga dua jam lamanya dengan pihak keamanan serta mengakibatkan adanya luka-luka dari kedua belah pihak.

Ratusan demontran mencoba memberikan perlawanan dari ratusan pihak keamanan gabungan TNI dan kepolisian, serta dipersenjatai lengkap.

Aksi massa ini sebenarnya telah dimulai pada pukul 10.45 WIB. Massa yang hendak menyuarakan Pembebasan Tapol Napol Aceh ini bermaksud melakukan aksi di depan Hotel Hermes Palace sebagai tempat bermalam Presiden SBY.

Para Tapol Aceh yang belum dibebaskan ini adalah Ismuhadi Jafar, Ibrahim Hasan, serta Irwan Bin Ilyas. Ketiganya masih mendekam di Penjara Cipinang dengan status hukuman seumur hidup. Inilah alasan-alasan mengapa SBY dinilai masih setengah hati terhadap perdamaian Aceh.

Alasan-alasan inipun yang menyebabkan adanya demo ’hangat’ ala mahasiswa Aceh terhadap presiden yang hobi menciptakan lagu tersebut.

Namun pihak keamanan ternyata mencoba menjegat ratusan kedatangan massa ini, hingga peserta aksi mundur sampai ke simpang tiga (simpang mesra-red). Dilokasi tersebut, massa ini kemudian mencoba bertahan dan menggelar orasi secara bergiliran.

”Kita menuntut Presiden SBY tidak hanya datang ke Aceh untuk membuka sejumlah kegiatan seremonial, tapi juga menyelesaikan agenda-agenda perdamaian, seperti penerbitan sejumlah PP, Perpres, serta Keppres untuk penguatan terhadap UUPA,”ungkap Safrudin, koordinator aksi dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKIP Unsyiah.

Maksud Safrudin, PP tersebut adalah PP tentang Kawasan Khusus, PP tentang Pengelolaan Migas, PP tentang Pelimpahan Kewenangan, PP tentang Pengangkatan dan Pemberhentian Sekda Aceh/Kab/Kota, PP tentang Penetapan nama Aceh dan gelar pejabat yang dipilih setelah Pemilu 2009, dan PP tentang Standar, Norma dan Prosedur pembinaan dan pengawasan PNS Aceh/Kab/Kota.

Sementara dua Perpres turunan dari UU PA yang belum ada adalah Perpres tentang kerja sama internasional dengan Aceh, Perpres tentang Pengalihan Kanwil BPN Aceh dan Kantor Pertanahan Kab/Kota menjadi perangkat daerah Aceh dan perangkat Kab/Kota.

Sedangkan Kepres turunan dari UU PA adalah, Kepres tentang Penetapan dan pemberhentian Sekda Aceh.

Hal yang hampir sama juga diungkapkan Isbahannur, orator mahasiswa dari Kota Lhokseumawe. Menurutnya, saat ini ada sejumlah amanah MOU Helsinki yang belum juga diwujudkan oleh pemerintah pusat, seperti pembentukan KKR, Pengadilan HAM, serta pembebasan sisa Tapol Napol Aceh.

Sementara itu, Heri Mulyandi, juru bicara aksi, dalam orasinya juga menuntut agar SBY segera mencabut Keppres no.33 tahun 1998 tentang pengelolaan hutan lindung yang dinilai bertentangan pasal 150 dan 262 UUPA.

Tetapi, pada pukul 12.30 WIB, pihak keamanan Aceh yang dikawal langsung oleh Wakapolda Aceh, meminta massa untuk segera menghentikan aksinya. Pasalnya, Presiden SBY dijadwalkan akan melintasi daerah tersebut untuk melakukan penanaman pohon di Desa Tibang, tidak jauh dari lokasi aksi.

Massa yang menolak aksinya dibubarkan, akhirnya terlibat adu mulut dengan ratusan personil kepolisian dan TNI yang melakukan pengamanan ekstra. Aksi ini kemudian berlanjut hingga saling pukul dan lempar batu.

Satu orang perwakilan massa yang bernama Ahmad Saidi dari Fakultas Hukum Unaya ditangkap serta puluhan massa mengalami luka mamar akibat bentrokan ini. Belasan sepeda motor massa juga di rusak.

Marah melihat hal ini, massa kemudian mencoba untuk memblokir jalan hingga melakukan swepping mobil plat merah dan anggota polisi sebagai upaya balas dendam. Aksi ini kemudian dibalas dengan semprotan gas air mata dari pihak keamanan. Beberapa pengguna jalan juga sempat kena serpihan dari aksi ini.

Sekitar pukul 16.45 WIB, perwakilan massa akhirnya mencoba untuk berunding dengan pihak keamanan, yang diterima langsung oleh Dir Intel Polda Kombes Pol Bambang Cahyo.

Hasil kesepakatan, pihak keamanan akan membebaskan perwakilan massa yang ditangkap serta menganti rugi kerusakan sepmot mahasiswa dengan jaminan massa membubarkan diri. Selesai tuntutan ini dipenuhi, massa kemudian menempati janjianya dan membubarkan diri pada pukul 18.30 WIB.

Diluar aksi ’hangat’ ini, sejumlah pihak sebenarnya telah mencoba bertemu dengan SBY untuk menyampai maksud yang hampir sama. Jika kedepan, SBY juga masih setengah hati dalam mewujudkan tuntutan ini, maka mahasiswa Aceh, mungkin perlu mengulangi ”kisah 98 dan 99”.

Membiarkan rakyat ’berbicara’ mungkin bisa sedikit membuat panas suhu tubuh para pemimpin kita yang sudah terbiasa dengan makan berlemak dan hidup enak.

Minggu, 28 November 2010

Saat Yang Waras ’Berguru’ Pada Yang ’Sakit’...!!


Wanita berkulit sawo mantang ini memiliki postur tubuh mungil. Wajahnya yang teduh, terlihat selalu dibasuhi dengan air wudhu. Mukena putih, kain sarung kusam serta sajadah cap ’bantuan’, terlihat sangat akrab dengan dirinya. Selang satu jam sekali, dia selalu meminta izin pada tamu yang hadir ke rumahnya, untuk membiarkan dia melaksanakan solat sunat.

Namun, sayangnya bukanlah faktor kealimannya itu yang membuat para tamu-tamu ini menyempatkan waktu untuk berkunjung ke rumahnya di Desa Gani Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar. Tamu ini datang, karena rantai dan gembok di kakinya.

Ya, Fatimah, 37, memang sedang menderita gangguan jiwa. Anehnya, perilaku ketidakwarasan Fatimah ini justru ditunjukan dengan sikap kerajinan solat.

”Sudah cukup dulu Fatimah, bapak-bapak ini ingin bicara dengan kamu sebentar,”ungkap Adnan, 45, suami dari wanita itu. Tapi bukannya menuruti, Fatimah terus melanjuti solatnya hingga enam kali salam, atau 12 rakaat.

Selesai solat, Fatimah baru mau kembali menyapa tamu-tamunya tersebut. Dia sepertinya memang mengerti akan maksud dan tujuan kedatangan dari para tamu-tamunya ini.

”Untuk apa bapak-bapak datang kemarin, saya kah sudah sehat?”ungkap dia. Pertanyaan ini menimbulkan kerutan kening di antara para tamu-tamu yang hadir. Para tamu ini adalah pegawai dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh.

”Bagaimana kami tidak datang kemarin..!! Fatimah dari tadi solatnya kebanyakan,”ucap sesosok tamu perempuan. Mereka, datang mewakili Pukesmas Ingin Jaya.

”Nyan sembahyang sunat buk..!! Dub nabi yang ka geujamin syurga mantong sembahyang sunat, apalagi geutanyoe. Bek peugah droe ureng sehat apabila hana sembahyang,”balas Fatimah. Yang hadir tersentak dengan jawaban dari sosok yang dianggap gila ini.

Melihat hal ini, seorang pria yang terlihat paling tua dari barisan tamu, akhirnya ’angkat’ bicara. Dia adalah Direktur RSJ Aceh, Saifuddin AR. ”Oke kalau begitu Fatimah ke sini saja. Ajari saya kitab ini,”ucap dia.

Mendengar permohonan ini, Fatimah terlihat senang. Diambilkannya kitab perukunan, yang berisi tentang hukum-hukum dalam beribadah, untuk dijelaskan pada pria tadi. Bacaan arab-jawinya sangat lancar, lengkap dengan arti dan penjelasan. Dia juga membetulkan beberapa tulisan yang kurang terang dalam kitab tersebut. Maklum, usia kitab itu sendiri, terlihat sudah hampir sebaya dengan Fatimah.

”Get that, sudah hamper sehat dia. Tapi kenapa juga kamu suka memukul anak-anak,”tanya Saifuddin kepada Fatimah. Pertanyaan ini tidak langsung dijawab. Fatimah menunduk. ”Nyan watee saket,”akui dia.

”Oke kalau begitu, kamu ikut kami ke RSJ ya, disana kita sama-sama belajar dan berobat nanti,”ajak saifuddin.

”Jet, asal bek kamar dhalia beh pak..!! kamarnya kotor, jadi lon hanjeut lon seumbahyang enteuk,”pinta dia. Permintaan ini langsung disambut tawa oleh tamu yang hadir.

Menurut Adnan, 45, suami pasien, penyakit yang diderita oleh isteri tercintanya ini, diakuinya sudah mulai terlihat di awal-awal perkenalan mereka (sebelum menikah-red). Namun karena cinta, dirinya mengaku tetap menikahi pasien hingga akhirnya dikaruniain lima anak yang kini sudah tumbuh dewasa.

”kalau sudah sakit (kumat-red) dia sering melakukan solat hingga belasan rakaat. Dia juga tidak mau meninggalkan solat lima waktu dan solat lainnya, namun saat berkomunikasi tidak nyambung dan sering memukul anak-anak tanpa sebab. Karena hal ini, makanya saya merantai dia,”ucap Adnan.

Menurutnya, gangguan jiwa yang diderita oleh isterinya ini dirasakan paling parah dalam dua tahun terakhir. Pasien sering berpergian ke daerah-daerah yang jauh dengan berjalan kaki, dan kadang-kadang membawa serta dua anaknya yang masih kecil.

Jika sedang waras, lanjut dia, pasien cuma berdiam diri di rumah dan tidak mau mengerjakan tugas apapun, termasuk pekerjaan rumah tangga. Imbasnya, semua pekerjaan tersebut terpaksa ditangani oleh dirinya dan putrinya yang paling tua, yang kini masih berstatus sebagai siswa kelas 2 SMA.

”Saya merantainya hanya untuk keamanan saja biar tidak mencelakai anak-anak kami. Saya ingin dia diobati hingga sembuh,”ucap Adnan lagi di hadapan Drs. H. Saifuddin, Kepala Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh, saat menjemput pasien di rumahnya.

Sementara itu, Saifuddin, Kepala Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh, mengatakan penjemputan pasien jiwa ini merupakan salah satu bagian dari deklarasi bebas pasung yang dicentuskan oleh Pemerintah Aceh selama ini. Dirinya juga berharap, setiap keluarga yang anggota keluarganya menderita gangguan jiwa, agar dapat segera diberitahukan kepada pihaknya.

”Ini agar Aceh terbebas dari perilaku pasung. Saat ini banyak penderita gangguan jiwa yang masih dipasung oleh keluarganya. Mereka masih malu jika hal ini diketahui oleh orang, padahal tidak demikian,”tandas dia.

Terlepas dari permasalahan tersebut, serta adanya anggapan gila terhadap sosok seperti Fatimah. Jawaban dari wanita itu sebenarnya amatlah logis untuk keadaan seperti sekarang. Alangkah aneh, ketika banyak orang yang saat ini mengaku waras, tetapi malah meninggalkan shalat. Sedangkan sosok seperti Fatimah sendiri, dicap gila. Namun keikhlasan dan senyum Fatimah seakan membiarkan hal ini terjadi

Sabtu, 25 September 2010

Selamat Datang di Banda Aceh, Kota 1001 Parkir


Wajah Zaki Tampak Memerah. Padahal, cahaya matahari sedang tidak begitu teriknya saat itu, Kamis (23/9) .Pasar Peunayong, tempat yang dia singgahi, juga tidaklah sesumpek biasanya. Namun pria berkulit sawo matang ini masih terus mengelutuk sambil menarik dompet hitam miliknya.

Dia menyerahkan uang lembaran dua ribuan kepada seorang bapak-bapak bertubuh subuh yang mengenakan jaket biru bertulisan juru pangkir Kota Banda Aceh.

Tampaknya, dialog antara dirinya dengan tukang pangkir tadilah yang membuat muka M. Zaki asal Kota Bandung ini memerah. Dialog mereka tadi juga sempat menarik perhatian sejumlah pria bermuka sipit dan warga lokal lainnya, yang mengintip dari dalam toko Ponsel dengan wajah penasaran.

Berbeda dengan si bapak-bapak tadi, dia justru menebar senyum lebar dengan penuh kemenangan. Uang lembaran dua ribuan yang didapatkannya tadi, langsung disatukan dengan lembaran lainnya. Uang tersebut diletakan paling atas dari tumpukan ‘rupiah’ lainnya. Sedangkan recehan Rp50, dimasukannya kedalam kantong baju.

“Kota apa ini? sedikit-sedikit uang,”ucap Zaki sambil membetulkan bawaannya diatas sepeda motor merek Vario. Tampaknya Amarah Zaki belum juga reda sesuai ‘berdialog’ dengan juru Pangkir tadi. ‘Kerjaannya’ untuk merapikan barang bawaan guna memudahkan saat mengemudi nanti, jadi lama hanya karena kemarahan tadi.

“Saya marah mas, saya hanya memarkirkan kreta hanya untuk mengecek HP sebentar, sudah dikenakan tarif parkir,”keluh pria yang berumur seperempat abad ini kepada penulis, saat menyapanya.

Tanpa diminta, Zaki mengisahkan bahwa hari itu, dia dengan modal pas-pasan bermaksud untuk belanja di Pasar Peunayong, sekaligus mengecek kondisi HP di Graha Nokia. Maklum HP-nya itu sudah agak ‘kadaruarsa’ sehingga sering bemasalah saat menerima telpon. Untuk aktivitas ini, pria yang mengaku tinggal di Darussalam selama di Aceh, cuma membawa serta uang, Rp50 ribu perak.

“Tadinya, saya pikir cukup segitu. Untuk belanja Rp40 ribu sudah cukup. Sisanya, bisa untuk ngopi atau apalah,”kata turis lokal ini. Kedatangannya ke Aceh, hanya untuk mengantar adik sematanya yang hendak menempuh pendidikan di Unsyiah, serta memastikan adiknya itu mendapatkan kos yang baik dan nyaman.’Vario’ itu sendiri, di pinjam dari temannya yang ada di Aceh.

Namun, kata Zaki, perhitungannya tersebut jauh melesat dari target semula. Dia, ternyata lupa memasukan uang untuk keperluan parkir. Dari lima tempat, di kawasan Pasar Aceh dan Pasar Peunayong yang disinggahi, ternyata menghabiskan dana sebesar tujuh ribuan.

“Dari tiga tempat, diambil Rp2 ribu sekali parkir. Sedangkan dua tempat lagi, seribu sekali parkir. Saya marah karena sikap mereka (tukang parkir-red) sudah keterlaluan,”tandasnya.

“Setiap saya singgahi satu toko, selalu diharuskan parkir sepeda motor. Jadi, parkir disini (Kota Banda Aceh-red) ada dimana-mana. Udah itu, tarif parkir disini juga tidak disamaratakan, serta bervariasi,”ungkap dia secara menggebu-gebu. Maklum, Zaki baru kali ini datang ke Aceh.

Yang pertama, dia datang saat tsunami. Serta yang kedua, adalah kali ini dengan tujuan mengantar adeknya untuk kuliah. Zaki juga tidak tahu, keberadaan Qanun No 11 tahun 2007 tentang pengutipan retribusi parkir di Kota Banda Aceh.

“Saya pulang dulu mas!”ucap dia sambil meninggal lokasi. Keluhan ini merupakan satu dari seribu protes tentang pengelolaan parkir yang tidak profesional di Aceh.

Menyangkut hal ini, Ketua Fraksi Partai Demokrat Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh, Arif Fadillah, sebenarnya sudah meminta para Juru Parkir (Jukir) di wilayah kota Banda Aceh agar dalam melakukan pengutipan biaya retribusi sesuai dengan Qanun No 11 tahun 2007.

“Saya tidak setuju dengan pengutipan retribusi parkir yang selama ini melanggar Qanun,” ujar Arif, menaggapi keluhan warga pengguna jasa parkir terhadap tidak menentunya tarif retribusi yang ditetapkan oleh Jukir di sejumlah lokasi di Banda Aceh.

Dijelaskannya, tarif parkir di kota Banda Aceh harus mengacu pada Qanun No 11 tahun 2007 tentang retribusi pelayanan parkir. Dalam Qanun tersebut, kata dia, besarnya biaya parkir untuk setiap kenderaan telah ditetapkan dan harus dipatuhi karena sifatnya telah mengikat.

“Dalam mengutip biaya retribusi, Jukir tidak boleh menyimpang dari ketentuan yang berlaku, karena akan memberatkan pengguna jasa,” tegasnya. Sesuai dengan Qanun No 11 tahun 2007, tarif parkir roda dua maupun roda tiga Rp500-/sekali parkir. Untuk roda empat dan roda enam masing-masinya dikenakan Rp 1000-2000-/sekali parkir.

Namun dalam prakteknya, banyak sekali terdapat perlanggaran. Jargon Banda Aceh, dari kota wisata islam, sepertinya tidak pantas lagi disemaikan karena kemunafikan-kemunafikan ini. jargon yang cocok bagi Banda Aceh saat ini, adalah kota 1001 parkir.

Jumat, 17 September 2010

Saya Gila, Tapi Juga Butuh Duit


Laki-laki ini tampak kurus kering dengan baju hijau muda. Dia beberapa kali memegang kepala botaknya sambil merapikan barisan. Tujuh Teman yang di samping juga terus tersemyum simpul sambil melihat ke arah jalan raya. Dia seperti sedang menanti sesuatu yang akan muncul disana.

Pria botak tadi mengaku bernama Mansur, lahir di Pidie, sekitar 37 tahun lalu. Dia diberikan tugas khusus sebagai komandan barisan pasien jiwa dalam rangka menyambut Gubernur Aceh Irwandi Yusuf saat melakukan Sidak di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Aceh, Rabu (16/9) lalu.

Anggota pasukan dan dirinya sendiri, memang bisa di golongan sebagai pasien ‘hampir’ sembuh disana. Sedangkan yang masih sakit ‘parah’ tidak diizinkan keluar untuk menyambut orang nomor satu di Aceh itu. Mungkin hal inilah yang membuat mereka merasa bangga diri. Pasalnya, yang ‘sehat dan sembuh’ saja susah untuk bertatap muka dan berdialog langsung dengan Irwandi.

“Kira-kira eh geupenuhi dilee permintaan lon (kira-kira mau tidak ya, dipenuhi permintaan saya),”gumannya sendiri. Dari pertanyaannya tadi, ada sesuatu yang hendak disampaikannya langsung kepada gubernur. Namun dia tampak belum yakin dan ragu-ragu untuk mempertanyakan persoalan itu.

“Buk, eh geupenuhi kira-kira permintaan lon nyoe ? (buk, apa mau dipermintaan saya ini),”tanya dia kepada barisan terpisah pada wanita yang memakai seragam dinas dan putih-putih, seperti ingin memastikan lagi layak tidaknya pertanyaannya nanti. Ibu-ibu yang ditanya hanya tersenyum simpul, tidak menjawab.

“Katanyoe laju hai. Enteuk ta bagi dua (kamu tanya saja, nanti kita bagi dua),”ucap teman disampingnya dengan pakaian yang sama, tetapi bertubuh lebih subuh dan berambut sedikit lebat. Temannya ini sepertinya sudah tahu apa yang menjadi kegelisahan pria botak tadi. Mereka berdua tampak yang paling waras diantara pasukan penyambut tamu ini.

Kegelisahan dua sahabat ini seprtinya tidak bertahan lama. Pasalnya, mobil jeep Rubicon milik irwandi tampak meluncur kearah mereka sambil di kawal ketat oleh pihak kepolisian. Belasan wartawan yang dari tadi sudah berada di tempat, langsung beraksi guna mencari ‘bahan tulisan’ menarik.

Mansur dan tujuh temannya tampak begitu senang. Rasa paniknya tadi untuk menanyakan sesuatu seperti hilang. namun barisan yang dikomandoinya tadi kembali tampak berantakan. Maklum, mereka belum sembuh benar.

“Nyoe soe (Ini siapa),”tanya Irwandi. Dia memakai baju putih hari itu dengan wajah tersebut. Maklum lawan bicaranya kali ini bukanlah orang biasa. Hal ini mungkin saja menjadi pengalaman tersendiri baginyan.

“lon tuan Mansur dari Tangse (saya mansur dari Tangse),”ucap dia sambil tersenyum. “Pak neujok modal usaha ke lon dilee. Lon ka sehat akan segera teubiet dari rumoh sakit jiwa (pak, tolong kasih modal usaha untuk saya. Saya sudah sembuh dan habis keluar dari RJS),”todong Mansur dengan pertanyaan yang sejak tadi disimpannya.

Pertanyaan tadi tentu saja mengejutkan Irwandi. Beberapa rombongan yang hadir juga tersenyum tipis.

“Kalau sudah sembuh. Saya ini siapa ?”tanya ulang gubernur dengan mimik muka setengah ketawa. Dia sepertinya ini memastikan kewarasan Mansur.

“Irwandi, Gubernur Aceh,”jawab pria berkulit sawo mantang ini lagi. Jawaban ini membuat Irwandi senang.

“Untuk apa modal, kah masih di rumah sakit,”tandas Irwandi lagi. Dia masih ingin berdebat dengan Mansur. Yang hadir lagi-lagi ketawa menyaksikan dialog yang langka ini.

“Untuk modal meukat ungkot. Rp500.000 ka cukop (untuk berjualan ikan. Lima ratus ribu sudah cukup),”balas Mansur mantap.

Menurut keterangan dokter, Mansur sebelum ke RSJ akhir tahun lalu adalah warga Tangse yang dulunya berprofesi sebagai penjual ikan di Pasar Peunayong, Kota Banda Aceh. Musibah tsunami, diceritakan, telah meregut separuh hidup dan kewarasannya. Anak isterinya yang tinggal di daerah Peunayong menjadi korban dari musibah maha dasyat di dunia tersebut.

Hal inilah yang diduga membuat mansur putus asa dan kehilangan semangatnya untuk berkerja sebagai penjual ikan. Sekitar tahun 2006, Mansur kemudian kembali ke daerah asalnya di tangse. Disana, Mansur mencoba bekerja serabutan namun tidak juga mampu melupakan kenangan bersama isteri dan anaknya tersebut, hingga dia mulai berbicara sendiri.

Sejak 2007 lalu, Mansur mengakui ada seseorang yang membisikan sesuatu pada dirinya, kemanapun dia pergi. Hal inilah yang membuat dirinya dianggap gila dan dibawa lari ke RSJ oleh orang kampung disana.

“Begini, kalau kamu sudah sembuh. Nanti temui saya. Bukan hanya Rp500.000 yang akan saja bantu, tetapi 2 juta,”ucap Gubernur lagi. “Bukan cuma dia (mansur-red), tetapi yang lain juga,”katanya sambil melempar senyum kepada semua pasukan penyambut dari pasien ini.

Hal ini tentu saja membuat kawan-kawan Mansur senang. Namun gubernur sepertinya masih penasaran dengan Mansur, dan kembali mencoba mengajak dia berdialog. “Sewa lapak di peunayong berapa harganya,”Tanya dia.

“Hana, meunyoe lon gratis disinan. Awak awai, awaknya pasti sayang keu ureung pungo lagee lon, “tandas Mansur lagi. Pengakuan polos ini kembali disertai tawa dari rombongan yang lain.

Senang dengan keramahan lawan bicara. Gubernur kemudian meminta stafnya untuk memberikannya segepok uang lembaran 20.000. Niatnya gubernur, uang tersebut hendak dibagi-bagikan untuk pasien disana. “Awak drokeuh peurele peng (kami mau uang),”Tanya dia. “Peurele, Kamoe Pungo, Tapi Pereule Peng Chiet Pak(perlu, kami gila, tapi uang tetap perlu),”tandas Mansur mewakili teman-temannya.

“Ini uang untuk beli rokok, di RSJ tidak ada uang, yang ada cuma baju,”ucap kawannya gembira sambil mengakhiri pembicaraan. Mansur CS meninggalkan rombongan. Dia dan teman-temannya merupakan satu dari seribu cerita yang terjadi di Aceh pasca konflik dan tsunami. Namun cerita itu tersimpan erat di RSJ menunggu diperhatikan.

Kamis, 16 September 2010

Mimpi Saya, Teuku Is Bebas Tahun lalu


Wanita ini tampak begitu tegar untuk seumurnya.Beberapa kali tangannya melambai ke arah iringan mobil yang sedang beranjak pulang seusai mengantar dia dan keluarga ke rumah sederhana milik M. Adli Abdullah, Dosen Fakultas Hukum Unsyiah di Darusalam. Para pengantar itu, adalah anggota KPA wilayah Pase dan Pidie.

Ibu dua anak itu bernama Asnani (39), lahir di Bireuen, 17 Desember 1970 silam. Dia adalah isteri Tgk Ismuhadi, Napol GAM yang masih ditahan di LP Cipinang. Suaminya, dituduh terlibat dalam peledakan Bursa Efek Jakarta (BEJ), 10 Tahun silam. Hukumannya pun tak tanggung-tanggung, Ismuhadi diganjar hukuman seumur hidup.

Asnani beberapa kali meneteskan air mata. Sedangkan Maulana Tadasi dan Nyak Cahya Keumala, buah hatinya lebih banyak terdiam.

“Saya terharu atas penyamputan selama di Aceh. Saya dan suami saya, ternyata belum dilupakan disini,”ucap sosok ibu dari dua oran anak ini.

Didampingi oleh Dewi Meuthia, Isteri Wakil Gubernur Aceh, serta sang pemilik rumah, dirinya menceritakan bahwa sudah lama berhasrat ingin berlebaran bersama keluarga di Aceh. Namun niat tersebut baru bisa diwujudkan pada Idul Fitri tahun 2010 ini.

“Banyak alasan mengapa kami jarang bisa pulang ke Aceh, factor ekonomi merupakan salah satunya,”ucap dia.

Dengan suara yang pelan, dirinya melanjutkan,bahwa niat bersiraturrahmi bersama keluarga di Aceh, sebenarnya sudah muncul di awal tahun 2009 lalu. Saat itu, dia bermimpi bahwa Tgk Ismuhadi, suaminya akan segera dibebaskan pada tahun tersebut, sehingga dirinya merencanakan untuk siraturrahmi dan liburan bersama ke kampung halaman.

Namun, mimpi tersebut ternyata belum menjadi kenyataan.

Tetapi, karena kerinduan yang mendalam, dia bersama dua buah hati, akhirnya minta pamit sama suami untuk bersiraturrahmi ke Aceh pada Idul Fitri ini, serta diizinkan.

“Mungkin, lebaran kedepan (2011-red) baru suami saya bisa ikut. Ini yang selalu saya doakan setiap solat lima waktu,”ucap wanita tegar yang kini masih menetap di Jakarta Selatan ini. Disana, dia menanti suaminya segera bebas.

“Kami se-keluarga mengharapkan Tgk cepat dibebaskan.” ujar Asnani lagi. Keinginan isteri tokoh masyarakat Aceh di Pulau Jawa ini memang cukup beralasan. Pasalnya, pembebasan tahanan Tapol/Napol GAM sudah disepakati antara RI dan GAM dalam MoU Helsinki.

“Jika anggota GAM lain dibebaskan, kenapa suami saya dan ayah dari anak saya belum juga dibebaskan?” tanyanya dengan raut wajah sedih. Asnani mengaku, suaminya dari dulu berbuat untuk kepentingan GAM dan perjuangan. Bahkan, demi perjuangan, keluarga lebih sering ditinggalkan. “Anak-anak kami juga telantar, sama seperti anak orang lain,” ceritanya tentang keadaan suaminya saat masih terlibat dalam perjuangan.

Asnani mengaku sangat sedih. Dia tak sanggup membayangkan jika suaminya harus menjalani hukuman sampai 35 tahun, berarti saat suaminya keluar nanti, sudah sangat tua. Saat itu, katanya, anak-anaknya sudah besar.

“Bagaimana saya harus menceritakan sejarah yang benar tentang ayahnya?” kembali Asnani berkata lirih. Mereka, sebutnya pasti akan bertanya tentang bapaknya. Mereka akan bertanya, kenapa ayahnya tidak dibebaskan seperti anggota GAM yang lain, apa bedanya antara ayahnya dengan orang lain.

Dulu, kata dia, saat anak-anaknya masuk kecil, dirinya selalu mencari berbagai alasan jika ditanya, mengapa Tgk Ismuhadi tidak pernah pulang ke rumah. Mulai dari kerja luar kota, ada keperluan hingga sejuta alasan lainnya.

“Ini semua demi kebaikan mereka. Tapi karena mereka saat ini sudah besar, saya tidak perlu bohong lagi tentang ayah mereka,”ucap Asnani.

Perjalanan hidup ibu dua anak ini memang penuh liku usai suaminya ditangkap. Dirinya juga sempat berpindah-pindah rumah demi menghindari pandangan negatif tetangga terhadap dia dan buah hatinya.

Untuk membiayai hidup sehari-hari, Asnani cuma bergantung pada satu Mini Bus hasil jerih payah suaminya sebelum ke tangkap. “Dulu, kami punya satu bengkel, namun sudah dijual karena tidak ada yang mengurusnya. Empat kopaja juga sudah di jual untuk menutupi ekonomi keluarga,”tutur dia.

Untuk kategori seorang isteri, Asnani tergolong isteri yang taat dan tabah. Dimana, saat isteri para Napol lain minta cerai karena tidak sanggup menanti dalam ketidakpastian, Asnani masih bertahan dan yakin suaminya akan segera bebas.

“Saya yakin, suami saya akan segera dibebaskan. Masih ada yang peduli di sini sehingga menjadi dorongan semangat bagi saya,”katanya.

“Saya minta Meuntroe dan Pemerintah Aceh tanggungjawab dan membebaskan suami saya segera,”harap Asnani lagi sambil menyekat air mata dengan unjung jilbab dengan nada penuh harap.

Harapan itu terasa tulus dari seorang isteri perjuang yang masih mendekam dibalik teruji. Tgk Ismuhadi, memang dikenal sebagai tokoh masyarakat Aceh di Jakarta. Dia banyak terlibat dalam kegiatan masyarakat Aceh, dan ikut membantu berbagai aksi masyarakat Aceh di Jakarta. Kasus peledakan BEJ menggiringnya ke dalam penjara. MoU Helsinki, antara pemerintah RI dan GAM, ‘hanya’ memberinya harapan untuk menghirup kembali udara bebas. Karena, dalam MoU disepakati point pemberian amnesti untuk anggota GAM yang ditahan maupun masyarakat Aceh yang tersangkut konflik Aceh.

Rabu, 01 September 2010

Hidayah Itu Datang di Awal Ramadhan..


Mulutnya tampak sedang berkomat-kamit, tapi tidak jelas apa yang sedang diucap. Beberapa kali, ia tampak menyapu peluh yang turun membahasi pipi. Dengan kopiah hitam dan baju koko putih, sosok itupun mengucapkan dua kalimah syahadat.

Hari itu, Jum’at (13/8) memang terasa berbeda dengan hari biasanya. Sinar mentari tidaklah seterik biasanya. Butiran peluh yang turun dari tubuh Hendri Silitonga juga bukan karena dia sedang bekerja seperti biasa.

Peringatan jum’at tersebut terasa berbeda. Selain karena terdapat dalam bulan ramadhan yang menjadi kemuliaan dari masyarakat muslim dunia. Hari Jum’at itu, juga merupakan awal baru dari hidup Muhammad Sabri, sebagai saudara baru kaum muslim.

Ketika ratusan raut wajah mendadak tegang menanti lafazt khusus yang keluar dari mulut Hendri. Dirinya justru tersenyum cerah sebagai sosok Muhammad Sabri.

Ya, Hendri Silitonga, sebenarnya adalah warga asal Sumatra Utara yang bekerja sebagai buruh bangunan di Aceh sejak awal 2007. Bertepatan pada Jumat (13/8) lalu, bertempat di Masjid Jamik Kampus Unsyiah, dirinya mengucapkan dua kalimah syahadat, atau masuk islam.

Pensyahadatan Hendri atau Muhammad sabri ini dibimbing langsung oleh Imam Masjid Drs. Tgk. M. Nur Ismail LML dan disaksikan Rektor Unsyiah Darni M. Daud dan sejumlah hadirin yang hadir.

Hendri Silitonga yang dulunya beragama Kristen Protestan. Pria berkulit hitam manis ini akhirnya membulatkan niatnya untuk menjadi muslim dan diganti namanya menjadi Muhammad Sabri. Dirinya juga telah melewati ribuan episode kelam dalam hidupnya.

Seusai pensyahadatan, muhammad Sabri, nama islamnya dari Hendri Silitonga, mengatakan keinginannya untuk masuk ke agama Islam timbul dari hatinya dengan penuh keiihklasan dan tidak ada paksaan dari orang lain serta setelah pertimbangan yang matang dan tidak ada keraguan sedikitpun.

“Saya sudah merantau ke mana-mana di seluruh Indonesia, tapi ketika tiba di Aceh terasa berbeda dengan tempat lain. Lingkungan tempat saya tinggal sangat baik sehingga timbul dalam hati saya untuk masuk ke agama Islam. Dan ini yang membuat saya sangat terharu,” katanya.

Sabri menambahkan kedua orang tuanya tidak melarang jika ia berbeda keyakinan karena sebelumnya adiknya juga sudah masuk Islam. “Orang tua dan keluarga tidak menentang jika saya mau memilih agama Islam, dan mereka menyerahkannya kepada saya,” jelas Sabri anak tertua dari lima bersaudara.

Jelasnya, keinginan untuk masuk Islam pertama kali diutarakan Muhammad Sabri ketika bekerja sebagai buruh bangunan di rumah Drh. Syahidin, dosen FK Unsyiah di Prada. Oleh keluarga tersebut, dirinya mengaku dibimbing hingga akhirnya resmi memeluk islam seperti sekarang ini.

Sementara itu Rektor Unsyiah Darni M Daud mengatakan akan memberi bantuan dan bimbingan kepada Muhammad Sabri, sehingga bisa mengamalkan ajaran islam sesuai dengan syariat.

Darni M Daud juga meminta supaya Muhammad Sabri tetap menjaga hubungan silaturahmi dengan keluarga. “Walaupun ananda sudah berbeda keyakinan ke agama Islam, hubungan manusiawi tetap dijalin dengan keluarga baik di sini maupun dengan keluarga di Sumtera Utara,” katanya.

Pengsyahadatan tersebut selain dihadiri oleh pembatu rektor dan dosen Unsyiah juga dihadiri oleh keluarga Syahidin, Kepala Desa, Teugku Imum dan tokoh masyarakat desa Kopelma dan Prada.

Senin, 12 Juli 2010

Jangan Panggil Anakku Cucu, Ayah!


Wajah Mitra jauh terlihat lebih tua dari seumurannya. Ruangan kecil dengan hiasan dinding ala kadang di salah satu Rumah Sakit di Banda Aceh, bahkan tidak menarik perhatian dia sedikitpun. Pandangannya terlihat kosong dan badannya terasa lemah karena baru melahirkan putri pertama seberat 2,9 Kg, Minggu malam (11/7). Berbeda dengan keadaan ibu muda yang baru melahirkan. Mitra merasa trauma karena melahirkan bayi akibat pemerkosaan ayahnya sendiri.

Menurut data yang diperoleh penulis, latar belakang Mitra (sebuatan inisial untuk korban-red) adalah anak kandung serta pelaku berinisiar Udin, 32 tahun, dengan sukunya adalah Batak. Tetapi sudah menjadi penduduk Kota Cane, Aceh Tenggara dan Ibu Mitra sendiri bersuku Gayo.

Saat ini umur Mitra baru berusia 14 tahun, dan masih duduk di bangku Sekolah Menegah Pertama (SMP) di salah satu desa dalam kabupaten Bener Meriah.

Kenjadian naas yang menimpanya ini berawal sejak 18 Desember 2008 lalu. Dimana, saat itu Ibu kandung Mitra melahirkan anak keempat, dan Mitra saat itu meminta uang sebesar Rp2000 kepada ayahanya untuk keperluan sekolah, karena disekolah diminta untuk kepada seluruh siswa untuk menyediakan Taplak Meja. Tapi ayahnya tidak mau memberikan sedikitpun bahkan Mitra di maki dan marahi oleh ayahnya yang juga pelaku Inses.

Dan pada malam harinya, Mitra tidur di ruang tamu seperti biasa karena di dalam kamar masih di pakai oleh ibunya kandungnya yang baru aja melahirkan anak yang kempat. Sekitar tengah malam, tiba-tiba Mitra dikejutkan dengan rabaan tangan seseorang di bagian kaki dan pahanya, karena kaget dia akhirnya terbangun serta mencoba melawan sambil menendang.

Dirinya mengaku sangat kaget ketika ia tau yang baru aja melakukan perbuatan keji tersebut adalah ayahnya sendiri alias Udin. Akhinya pelaku (ayah-red) pergi ke dapur untuk dan kembali ke kamar untuk tidurnya sendiri. Sebelum pergi, pelaku juga mengacam agar kasus ini tidak di ceritakkan pada ibunya sehingga Mitra hanya bisa diam seribu bahasa.

Menurut keluarga Mitra, Baharuddin ( pelaku-red) memiliki prilaku yang kurang baik, salah satunya ia sering keluar malam untuk main judi, togel dan di Hpnya juga penuh dengan gambar-gambar porno. Dan Korban sendiri, sebenarnya pernah diperlihatkan gambar-gambar porno yang ada di dalam HP ayah kandungnya itu. Dan pada saat itu Mitra ketakutan karena ia suruh melihat gambar orang-orang telanjang yang sedang XXX. Akhirnya mitra terus pergi dan meninggalkan pelaku.

Pada esoknya harinya pelaku memberikan uang kepada korban sebesar Rp50.000, dan pelaku minta agar tidak menceritakan apapun pada ibu korban.

Selanjutnya, pada 20 Desember 2008, sekitar pukul 00.00 WIB. Korban lagi-lagi di paksa untuk melayanani ayah bejatnya itu, tapi korban menolak sehingga terjadi aksi pemukulan. Karena pelaku lebih kuat kasus itupun terjadi, dan korban juga di ancam sehingga kejadiaan tersebut terjadi secara berulang di ruang tamu dimana korban tidur seperti biasa. Dan korban sering diberikan pil yang diberikan oleh pelaku.
Perbuatan tersebut selalu dilakukan kembali oleh pelaku.

Menurut pengakuan korban kepada Koalisi NGO HAM, Pelaku memaksa korban untuk melayaninya dalam seminggu 2 kali. Dan itu terus dilakukan sampai bulan Agustus 2009 lalu.

Merasa tidak tahan, Mitra akhirnya mengancam akan melaporkan kejadian tersebut, tapi karena pelaku juga ikut mengancam dan berjanji tidak lagi melakukan hubungan badan dengannya. Ancaman mitra pun ulur dilakukannya.

Anehnya, jani sang ayah bejat inipun ternyata hanya bertahan 1 bulan. Pasalnya, setelah itu pelaku kembali memaksa korban untuk melayani dan apabila tidak mau, makan ibunya dan adik-adiknya akan di usir dan tidak diberi makan.

Dan pada bulan Oktober 2009, dan 25 Mei 2010 pukul 24.00 WIB, dirinya kembali di paksa dan diancam untuk bersetubuh dengan pelaku. Pada hari Rabu, tanggal 26 Mei 2010, pelaku kembali memaksa, tapi ia melawan dan kejadian tersebut tidak terjadi.
Pada tanggal 27 Mei 2010, bibinya curiga dan melihat kondisi korban. Kecurigaan ini semakin bertambah setelah mengetahui hal ini.

Akhirnya, hari itu juga mereka langsung memberitahukan LBH Apik Pos Takengon agar dapat menfasilihati dan mendampingin korban. Setelah paralegal LBH Apik melakukan invenstigasi terhadap kasus yang menimpa Mitra, maka segera kasus tersebut di laporkan ke Kanit PPA Polres Bener Meriah.

Karena laporan tersebut, pihak keluarga mitra sangat marah dan mitra pun di usir oleh keluarga dari ayahnya, untuk keamanan sementara.

Akhirnya Korban di tempatkan di Kantor PPA Polres Bener Meriah. Pasca kasus ini, keluarga dari ayah Mitra juga juga dilaporkan mengusir ibu kandunganya serta adik-adiknya. Dan saat ini mereka sudah di pindahkan ke Kuta Cane.

Kini, setelah dua tahun berlalu pasca kasus tersebut menimpanya. Mitra telah melahirkan bayi mungil sebesar 2,9 KG. Bayi yang tak berdosa tersebut dititipkan beban yang sangat berat karena perilaku kakek yang menjadi ayahnya tersebut.

 
Free Host | lasik surgery new york