Senin, 11 April 2011

Putroe Phang Mencari Pewaris Tahta


Kisah cinta Sultan Iskandar Muda dengan permaisurinya Putroe Phang selalu menarik perhatian masyarakat Aceh. Gunongan dan Taman Putroe Phang di Kutaradja merupakan bukti abadi yang lahir dari cinta kasih mereka. Karena cinta ini pula sang Putroe Phang mencari ’kembali’ jejak sultan di Seramoe Mekkah.

Kalimat tadi bukanlah berarti bahwa permaisuri raja tersebut kembali hidup dan mencari kuburan sang suaminya, di awal tahun 2011 ini. Tulisan ini juga tidak sedikit pun akan menyentuh pembahasan tentang Sultan Iskandar Muda, melainkan membahas pewaris tahta terakhir mereka.

Tulisan ini, penulis mulai dari keinginan pihak berwenang dari Kesultanan Negeri Pahang Malaysia, Kamis (31/3) lalu, yang mengaku sedang mencari pewaris tahta murni kerajaan Aceh atau keturunan terakhir dari Sultan Mahammad Daud Syah.

Untuk menjalankan niat mereka ini, Kesultanan Pahang Malaysia, bahkan langsung mengutus Putrinya yang bergelar Tunku Hajjah Azizah Aminah Maimunah Iskandariah binti Sultan Iskandar Al-Haj untuk ikut bersama rombongan ke Aceh.

Menurut pengurus Kerajaan Pahang, cacatan sejarah mengenai keturunan sultan terakhir Aceh ini dinilai banyak yang sengaja dikaburkan sehingga menyebabkan banyak pihak minim informasi tentang hal tersebut. Selain itu, juga banyak pihak yang mengaku sebagai keturunan raja Aceh yang terakhir.

”Kesultanan Aceh sejak dulu sangat megah. Namun informasi sejarahnya yang kami dapatkan terputus hingga Sultan terakhir Muhammad Daud Syah. Kami tahu, ada keturunan dari Sultan Mahammad Daud Syah. Atas dasar tersebut, kami mencoba mencari tahu soal kebenaran tersebut dan baru kami temukan sekarang,”ungkap Kerabat Kesultanan Pahang Malaysia, Tunku Hajjah Azizah Aminah Maimunah Iskandariah binti Sultan Iskandar Al-Haj, di Hotel berbintang, Hermes Palace di Kota Banda Aceh.

Pada kesempatan tersebut, Putri Pahang menjamu sosok bernama Tuanku Raja Yusuf Bin Tuanku Raja Ibrahim Bin Sultan Mahammad Daud Syah, di ruang pertemuan Hermes Palace. Keduanya kemudian kembali membahas sejarah dan hubungan mesra yang sempat terjalin antara Pahang dengan Aceh.

Menurut putri Sultan Iskandar atau Raja Pahang Malaysia ini, Aceh sebenarnya merupakan sebuah daerah yang kaya akan budaya serta peninggalan sejarah. Salah satunya, adalah gunongan dan taman yang diperuntukan kepada putroe phang atau putri pahang, atau indatu dari Tunku Hajjah Azizah yang berstatus sebagai Putri Pahang saat ini.

”Makanya saya senang datang ke Aceh karena ada taman yang dibuat khusus di sini,”canda Tunku Hajjah Azizah di sela-sela makan.

Selama seminggu di Aceh, lanjut dia, dirinya menggelar pertemuan dengan sejumlah pihak, termasuk Pemerintahan Aceh. Dan selama seminggu pula, banyak pihak yang mengaku keturunan sultan mencoba jumpai dengannya.

Setelah melalui berbagai pertemuan tersebut, terutama dengan pakar sejarah yang ada di Aceh. Dirinya mengaku baru bisa menyimpulkan siapa keturunan murni dari Sultan Aceh yang terakhir. Sosok tersebut adalah Tuanku Raja Yusuf.

Sosok Tuanku Raja Yusuf adalah cucu murni dari Sultan Muhammad Daud Syah. Namun anehnya, keberadaan sosok ini terkesan sengaja dihilangkan dari cacatan sejarah Aceh. Masyarakat di Aceh seharusnya lebih mengetahui sejarah bangsanya dibandingkan dengan warga luar seperti dirinya.

Anehnya lagi, masyarakat Aceh saat ini justru lebih mengenal jabatan Wali Nanggroe ketimbang cucu sultan yang sah.

Kerajaan Aceh dengan Pahang, lanjut dia, memiliki hubungan sejarah yang paling emosional. Hubungan ini tidak hanya terjadi karena perkawinan Sultan Iskandar Muda dengan Putri Pahang.

Hubungan Aceh-Pahang sudah terjalin sejak abad ke-16 setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis. Kerajaan Pahang atau Pahang Darul Makmur merupakan salah satu negara bagian di Malaysia.

Sebagian besar negeri Pahang diselimuti hutan dan sebagian besar Taman Negara terletak dalam negeri Pahang. Pahang merupakan sebuah negeri ber-raja.Wujudnya negeri Pahang adalah sebelum wujudnya kerajaan melayu Melaka. Pahang mempunyai susur galur tamadun yang panjang, sejak dari zaman pra-sejarah lagi. Dahulunya kerajaan Pahang digelar Inderapura.

Negeri Pahang Darul Makmur ialah sebuah negeri yang terbesar di Semenanjung Tanah Melayu dengan luas 35.515 kilometer persegi. Kemasyhuran dan kehebatan namanya pada masa lalu menjadi rebutan kerajaan yang ada di sekelilingnya. Pada masa ini Pahang adalah negeri di Semenanjung yang terbagi atas sebelas daerah yaitu Kuantan, Pekan, Rompin, Maran, Temerloh, Jerantut, Bentong, Raub, Lipis, Cameron Highlands dan Bera. Sedangkan penduduknya pula terdiri dari berbagai kaum dan bangsa.

Sebenarnya, bagi orang Aceh, negeri Melaka (Malaysia-red) atau kerajaan Pahang khususnya, tidaklah asing. Kerajaan Aceh Darussalam bahkan pernah terlibat dalam perang dengan Portugis selama 130 tahun (1511-1641) hanya untuk membebaskan daerah tersebut dari jajahan Portugis.

Menurut sejarah Malem Dagang, Sultan Iskandar Muda (1607-1636) dengan armada Cakra Donya-nya berhasil membebaskan Sumatra dan Semenanjung tanah Melayu dari penjajahan Portugis dan menjadi bagian dari kerajaan Aceh. Laksamana Malem Dagang berhasil mempersatukan wilayah Sumatra dan Semenanjung tanah Melayu. Disinilah kemudian terbangun kampung etnis melayu di Aceh dan kampung Aceh di Pahang.

Hubungan Aceh dengan Pahang kemudian dilanjutkan pada masa sultan Muhammad Daud Syah. Dimana, disaat ibukota Aceh dipindahkan ke daerah Keumala di Pidie, Sultan Abubakar yang menjadi Raja Pahang pada saat itu, pernah beberapa kali mengirimkan utusan ke wilayah Keumala. Tujuannya, untuk memperkuat hubungan antar kedua kerajaan.

”Selaku keturunan Sultan Abubakar, saya juga ingin kembali memperkuat hubungan dengan Aceh,”tandas perempuan yang memiliki gelar Kebawah Duli Yang Teramat Mulia Tengku Puan Pahang, usai menjelaskan panjang lebar.

Sementara itu, bagi Tuanku Raja Yusuf, diakhir jamuan makan, mengaku dirinya tersanjung dengan keterangan dari Kesultanan Pahang Malaysia. Menurut dia, posisi dirinya dan keluarganya saat ini sangatlah tidak sebanding jika disandingkan dengan keluarga kesultanan Pahang.

”Rakyat Pahang masih mengakui raja mereka. Namun disini sudah tidak berlaku lagi,”tutur tuanku Raja Yusuf.

”Saya ini telah lama menjadi rakyat biasa, bahkan sejak lahir. Saya juga tidak mau mengaku-gaku sebagai keturunan sultan demi mendapatkan kemegahan dan ketenaran. Silahkan saja, orang lain yang mengaku. Tapi, atas kehormatan yang diberikan Kesultanan Pahang Malaysia, saya ucapkan ribuan terimakasih,”ungkap Raja Yusuf lagi.

Dalam pertemuan ini juga dihadiri keluarga dari pihak Kerajaan Pahang lainnya dan kelurga dari Tuanku Raja Yusuf, serta didampingi oleh Tuanku Maimun serta Tuanku Aswan, cucu dari Teuku Hasyim Banta Muda yang pernah menjadi Wali Nanggroe sewaktu Sultan Muhammad Daud Syah masih kecil.

Kerajaan Pahang juga mengundang para keturunan Sultan untuk mengunjungi pihaknya dalam waktu yang dekat ini. Namun undangan ini tidak dapat langsung dijawab oleh Tuanku Raja Yusuf. Pasalnya, pria yang berstatus PNS biasa disalah satu dinas tingkat Provinsi Aceh ini mengaku masih memiliki tanggungjawab yang besar pada negara ini.

”Undangan ini sangat memuliakan kami sekeluarga. Kami pasti memenuhi undangan ini, tetapi tidak dalam waktu dekat. Soalnya, saya sekarang adalah abdi negara biasa,”pungkas dia.


Keturunan Sultan Dan Rupiah
Sementara itu, Menurut M. Adli Abdullah, Mantan Panglima Laut Aceh, yang juga gemar menulis tentang sejarah Aceh, yang hadir dalam pertemuan dua kerabat raja tersebut, mengaku bahwa keberadaan sejumlah pihak yang mengaku keturunan sultan terakhir memang sering terjadi. Faktor ini dikarenakan kemuliaan dan rupiah yang melimpah yang dapat mereka peroleh dengan prilaku tersebut.

”Banyak orang yang mengaku-ngaku sebagai keturunan sultan terakhir dan wali saat ini. Ini semua dilakukan untuk kepentingan politik pihak tertentu yang unjung-unjungnya adalah memperoleh rupiah,”tutur Dosen Fakultas Hukum Unsyiah ini.

Menurutnya, tindakan dari Kerajaan Pahang yang sengaja mencari keturunan murni dari sultan terakhir Aceh adalah suatu hal yang langkah. Dimana, cara ini justru tidak pernah dilakukan oleh Pemerintah Aceh sendiri, selaku kaki tangan dari pemerintah pusat di Jakarta.

Selama puluhan tahun, lanjut dia, rakyat Aceh diharuskan hidup ditengah-tengah kebingungan dan ambisi pihak-pihak tertentu yang ingin menguasai daerah ini walaupun harus menghapus cacatan sejarah bangsanya. Faktor ini kemudian berimbas dengan hilangnya pengakuan rakyat terhadap kesultan Aceh, serta beralih ke wali nanggroe.

”Rakyat Aceh seharusnya mengambil contoh dari sikap negeri pahang. Dimana, mereka tidak lupa akan sejarah bangsanya dan sejarah daerah mereka dengan Aceh,”ungkap dia.

Sementara itu, menurut penulis, dalam cacatan sejarah Aceh, posisi Wali Nanggroe sebenarnya diperuntukan untuk orang tertentu ketika daerah ini sedang terjadi krisis atau perperangan. Namun ketika Aceh sudah kembali aman seperti sekarang, maka seharusnya posisi wali dengan sendirinya menjadi gugur dan daerah ini dikembalikan pada sultan atau pewarisnya.Namun, yang berlaku di daerah ini, malah sebaliknya sehingga nasibnya kian tidak jelas hingga kini.

Selasa, 05 April 2011

Calon Mantu


Sudah dua hari terakhir ini, Yusuf tampak uring-uringan. Wajahnya sering cemberut dan tampak pucat. Sang orator ulung kala masih berstatus mahasiswa ini juga sering kali terlihat sedang melamun di kamar rumahnya, di Tangse. Wak Dirman dan Nek Laila-pun jadi ikut-ikutan sedih ketika melihat anak semata wayangnya itu berperilaku seperti orang tidak waras.

”Si gam kita, mungkin ingin segera dikawinkan pak ?”celetus Nek Laila kegirangan pada suaminya, Wak Dirman. Sedangkan sang suami yang bernama asli Sudirman itu masih tetap cemberut. Pasalnya, dia masih gak yakin kalau anak semata wayangnya yang masih berumur seperempat abad itu udah ingin cepat-cepat melangkah ke pelaminan seperti teman-temannya yang lain.

”Apanya yang tidak yakin ? Toh, waktu kita menikah dulu, bapak berumur 20 tahun. Jauh lebih muda 5 tahun dari usia Yusuf saat ini kah ?”tanya Nek Laila lagi, seperti mengerti apa yang dipikirkan oleh suaminya.

”Dulu, waktu bapak ingin nikah sama saya, kata ibu, bapak juga sering melamun di kamar. Hampir semua sisi kasur, bapak sobek ketika keinginan bapak belum dipenuhi oleh orang tua. Nah, kini si gam mempraktek hal yang sama yang pernah dilakukan oleh ayahnya. Kok itu aja tidak dipahami sie ?”tambah Nek Laila lagi.

Dikatakan begitu, Wak Dirman jelas cemberut. Dia sebenarnya agak risih ketika isteri tercintanya tersebut mengungkit perilaku-nya di masa lalu. Prilakunya untuk mendapatkan Nek Laila sebagai isteri, memang boleh dikatakan, sedikit kekanak-kanakan, jika di ingat pada saat ini.

Sedangkan Nek Laila sendiri, sebenarnya sudah sangat mengharapkan rumahnya diisi kembali oleh suara bayi. Ya, dia sudah sangat mengharapkan Yusuf untuk segera menikah dan memberikannya seorang cucu.

Dirinya, dulu juga terpaksa harus menunggu 15 tahun lamanya hanya untuk mendapatkan seorang bayi bernama Yusuf. Pada awal-awal pernikahannya dengan Wak Dirman, dia sering kali keguguran sehingga diharuskan menunggu waktu yang lama untuk boleh mengandung lagi.

Nah, di usianya yang tergolong senja, atau 58 tahun. Dia sangat mengharapkan impiannya itu segera terwujud. Apalagi, Yusuf tergolong pemuda yang cerdas dan taat agama. Yusuf pun kini sudah berstatus PNS, sehingga bisa dengan mudah menaklukan hati seorang Mertua.

”Mikir apalagi sie pak ? tidak mau kan Yusuf jadi lajang tua ? toh, banyak pemuda sebayanya yang belum memiliki pekerjaan pun sudah menikah,”ungkap Nek Laila lagi setelah sekian lama menunggu jawaban dari suaminya, tetapi tidak juga muncul.

Mendengar harapan besar dari istri tercintanya tersebut, Wak Dirman sebenarnya juga berkeinginan yang sama. Namun dia, tidak ingin bertindak sebagai orang tua yang otoriter seperti masa-masa Siti Nurbayah di Sumantra Barat. Tetapi, disisi lain, dirinya juga takut menanyakan perihal calon pasangan yang telah disensor oleh Yusuf selama ini. Takut dikatakan mengintervensi sang anak. Jadi, dirinya merasa serba salah.

Setelah sekian lama dia berpikir, Wak Dirman pun akhirnya bangkit dari tempat duduknya. Dia memutuskan pergi ke halaman rumahnya, kemudian melirik kiri kanan, serta kembali lagi ke ruang tamu. ”Dimana diparkirkan sepeda bapak ?”tanyanya tiba-tiba pada Nek Laila. Sang istri yang dari tadi melamun dan tidak melihat sang suami keluar-pun terkejut.

”Sepeda Onthel bapak dimana mak?”ulang Wak Dirman lagi. ”Oh, di belakang rumah pak. Tadi di pinjam si Amin, dan pas dikembalikan, ibu bilang suruh parkir di belakang saja,”jawab Laila hingga Wak Dirman pun bergegas ke lokasi yang dituju.

Sebelum menaiki sepeda antiknya itu, Wak Dirman memeriksa dengan seksama. Siapa tahu, ban sepeda bocor atau ada yang rusak, pikir dia. Namun ternyata hal itu tidak terjadi, Wak Dirman pun mengayuh sepedanya dengan pelan meninggalkan rumahnya.

”Pak mau kemana ? pembicaraan kita belum selesai ?”seru Nek Laila dari ruang tamu hingga membuat Wak Dirman menghentikan sepeda tiba-tiba. ”Ini mau tanya solusi pada ahlinya,”jawab dia. Jawaban ini membuat Nek Laila berkerut kening, ’Pada ahli ?.

****

”Jadi kalian yakin, si Yusuf hingga hari ini belum punya calon ?”selidiki Wak Dirman di pos ronda, yang menjadi tempat mangkal para pemuda desa. Dua orang yang selalu menghabiskan waktunya disana, adalah Maimun dan Syahrul. Mereka adalah teman akrab Yusuf sejak SD, namun bedanya mereka berdua sudah menikah.

Kebiasaan di kampung, jika seorang pemuda yang sudah remaja, pasti akan cepat-cepat dinikahkan orang tuanya bila udah punya dambaan hati. Takut, terjerumus dalam perbuatan maksiat, kata mereka.

”Yakin wak,”jawab Maimun. ”Iya yakin, soalnya dia pernah pacaran sekali waktu SMA sama anak kampung sebelah, namun gagal. Sampai hari ini, dia belum berani lagi deketi cewek, padahal kami selalu mengcomblangi dengan hampir semua anak gadis yang ada di desa kita,”tambah Syahrul lagi.

”Kami comblang sama anak pak Daud, yang baru mendapatkan gelar sarjana di Banda Aceh, katanya terlalu hitam. Terus, pas di deketi dengan si Maisarah, cucunya Pawang Ramli yang berkulit putih mulus, kata Yusuf, belum sarjana. Jadi, dia tetap ada alasan untuk gak mau,”sambung Maimun. Wak Dirman pun cuma mengangguk kecil.

”Pernah sie dia kesemsem dengan si Yanti, anak pak Sekdes kita. Tapi sayangnya, malah si Yanti yang gak mau sama Yusuf. Orangnya cantik, kulit putih, serta berstatus perawat di Pukesmas kecamatan pula,”jelas Syahrul lagi.

Pertemuan mereka dengan Wak Dirman ini, ternyata dijadikan sebagai ajang pelampiasan kekesalan Syahrul dan Maimun, pada Yusuf. Dia memang terhitung unik dan lain dari yang lain, sejak SD dahulu kala.

Sejak dulu, Yusuf memang tergolong pria yang sensitif terhadap persoalan-persoalan yang bersifat pribadi, begitu juga yang berhubungan dengan pasangan hidup.

Yusuf juga orang yang sangat pemilih. Ini terbukti dari kasus terakhir, ketika Syahrul dan Maimum memilih menikah dengan gadis pilihan orang tuanya yang pas-pasan. Yusuf malah menolak dengan alasan belum menemukan dambaan hati yang cocok dengan seleranya. Namun tentu saja bukan karena kelebihan fisik yang dicari, tetapi juga kecantikan hatinya alias baik budi dan sopan santun.

Tapi, menurut Syahrul dan Maimun, wanita yang cantik lahir dan batin, tentu susah dicari di akhir zaman ini. Wanita seperti itu, dinilai cuma ada dalam film-film. Dan yang berhasil mendapatkan wanita yang ’sempurna’ dengan kriteri seperti tadi cukup sulit, dengan perbandingkan satu perseribu. Imbasnya, jadilah Yusuf seperti sekarang, tidak juga laku-laku.

Kembali pada sosok Wak Dirman yang dari tadi belum juga menemukan solusi menyangkut masa depan anaknya. Dia tampaknya hanya mampu menarik nafas dalam-dalam. Yusuf boleh saja pernah jadi aktivis kampus di Unsyiah, namun untuk urusan asmara, sepertinya dia masih harus banyak belajar dari ayahnya, pikir Wak Dirman.

”Yusuf harus di Samsul Bahri-kan segera rupanya,”ungkapnya singkat. Maimun dan Syahrul yang mendengarkan hal ini, jelas melongo, tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh ayahnya teman akrab mereka tersebut. Namun Wak Dirman sendiri tidak punya waktu untuk menjelaskan hal ini. Dia langsung menderet sepeda ke arah balai desa.

***

Tanggal pernikahan Yusuf akhirnya ditetapkan. Dia akan dinikahnya pada 12 Desember depan. Kabar bahagia ini langsung menyebar cepat hingga pelosok kampung, dan tentu juga sampai ke telinga Maimun dan Syahrul.

Kedua sahabat Yusuf ini, jelas saja terheran-heran mendengarkan kabar heboh tersebut. Pasalnya baru seminggu lalu, Wak Dirman menanyakan persoalan tersebut pada mereka. Lebih shocknya lagi, calonnya Yusuf tersebut adalah Yanti, anak pak Sekdes.

”Kok bisa ya ? bukannya Yanti berkali-kali pernah menolak si Yusuf mentah-mentah. Tapi kok sekarang tiba-tiba jadi mau,”tanya Maimun pada Syahrul.
”Aku juga tidak habis pikir. Kok bisa jadi begini,”tutur Syahrul lagi merana akibat merasa kalah saing sama Yusuf.

Jika jadwal pernikahan Yusuf membuat Syahrul dan Maimun cemberut, tidak demikian dengan calon pengantin itu sendiri. Sifat Yusuf yang dulunya suka cemberut kini hilang total. Sejak Yanti mau jadi calon isterinya, kini dia malah sering terlihat tertawa. Parahnya, Yusuf kadang-kadang tertawa tidak sadar tempat, baik di warung makan, lapangan bola hingga WC. Penduduk di kampung mulai berbisik-bisik, kalau Yusuf di santet orang yang tidak suka dirinya menikahi anak pak Sekdes.Yang disusahkan dari peristiwa ini, tentu saja Nek Laila dan Wak Dirman, hehehe.

Jumat, 25 Maret 2011

‘Bom Waktu’ di Tangse


Pergunungan Tangse kini menyimpan ’bom waktu’ yang mungkin akan kembali ‘menelan’ korban jiwa dalam jumlah yang lebih di masa yang akan datang. Salah satu sebabnya, adalah perilaku illegal logging yang menyebabkan banjir bandang di daerah tersebut, kamis (10/3) lalu.

Jauh sebelum kenjadian tersebut, nama Tangse sebenarnya sudah cukup tenar di kalangan masyarakat Aceh dan Sumatra pada umumnya.Tangse adalah nama salah satu kecamatan di kabupaten yang terletak di dataran tinggi.Daerah tersebut juga menjadi jalur transfortasi alternatif bagi masyarakat pesisir barat-selatan.

Keindahan alam Tangse yang masih sangat alami dengan dedaunan yang hijau memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan lokal dan mancanegara. Selain karena daerah itu dikenal sebagai penghasil beras kualitas unggul dan juga penghasil buah durian yang produktif.

Kecamatan Tangse sejak dahulu sebenarnya telah menjadi produsen utama beras terbaik bagi Aceh dan Sumatra Utara. Kualitas padi seperti yang tumbuh dan bersemai di daerah itu, sulit tumbuh di daerah lain biarpun memiliki kadar air yang sama.

Namun, musibah banjir bandang yang terjadi di daerah tersebut, Kamis malam (10/3) lalu, sedikitnya telah mengubah imej daerah. Dari daerah yang dulunya dikenal sebagai objek wisata alam nan indah. Kini, menjadi salah satu daerah yang rawan terhadap bencana alam di masa yang akan datang.

”Kami masih was-was dan ketakutan untuk terus menetap di Tangse. Daerah ini masih menyimpan ‘bom waktu’ yang siap kembali ‘menelan’ korban jiwa. Keselamatan warga di Tangse menjadi taruhan karena ulah oknum yang tidak bertanggungjawab yang terus melakukan penebangan liar,”ungkap Sulaiman, 36, salah seorang petinggi Desa Rantau Panyang, kepada penulis, beberapa waktu lalu.

Argumen adanya ‘bom waktu’ di Tangse, menurut Sulaiman, sangatlah beralasan. Pasalnya, pergunungan di daerah itu kini sangat rentan dengan musibah longsor ketika musim hujan tiba. Jika hal ini, maka jumlah korban diperkirakan akan jauh lebih besar dari musibah banjir bandang yang telah menimpa daerah mereka, beberapa waktu lalu.

Lanjut dia lagi, pasca musibah, tanah di pergunungan Tangse kian labil. Tiap sudut di pergunungan ini, juga sudah terdapat sejumlah cela seukuran paha orang dewasa yang mungkin akan runtuh dalam waktu dekat ini. Parahnya lagi, sejumlah cela tersebut terdapat disejumlah titik yang memang didiami oleh masyarakat setempat.

”Masyarakat, mau tidak mau harus ekstra hati-hati. Kami tidak bisa pindah, karena inilah rumah kami,”papar Sulaiman.

Apa yang diungkap oleh Sulaiman ini, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan yang diutarakan oleh Hamdani, 32, warga Peunalom. Kekhawatiran akan adanya bencana yang lebih besar di masa yang akan datang, diakuinya, kini sedang menghantui warga di Tangse.

Hal inilah yang dinilai menjadi kecemasan para masyarakat pengungsi untuk kembali ke desa masing-masing guna melaksanakan aktivitas seperti bisa.

”Dulu, banyak orang tua di kampung yang mengatakan jangan memotong kayu sembarangan karena akan menyebabkan banjir, tapi malah ditertawakan. Kini, hal itu terwujub,”ucap dia disela-sela membersihkan kayu gelondongan yang menimbun badan jalan desa.

Kata dia, pergunungan Tangse sejak dulu memang dikenal dengan daerah yang cocok bagi pertanian. Hal ini disebabkan kondisi tanah disana yang tergolong lembut serta lunak dengan mata cangkul petani. Selain itu, tingginya debit air dipergunungan Tangse juga menyebabkan daerah tersebut menjadi subur bagi tanaman pangan.

Sayangnya, kondisi tersebut ternyata salah dimanfaatkan oleh para oknum, yang sering melakukan pembalakan liar. Sejumlah perpohonan besar yang seharusnya dipeliharan guna mengikat air hujan di dalam tanah juga dipotong secara sembarangan. Efeknya, sebahagian besar perpohonan besar di pergunungan Tangse menjadi hilang sehingga berimbas dengan terjadinya banjir bandang.

”Kini, masyarakat yang tidak tahu apa-apa yang menjadi korban. Musibah ini akan menjadi pelajaran penting bagi masyarakat Tangse dalam berladang ke depan,”lirik Hamdani.

Pengakuan dua warga ini setidaknya memberikan gambaran tentang kondisi Tangse pasca banjir bandang. Fenomena ini juga perlu segera disikapi secara arif dan bijaksana oleh pemerintah daerah setempat, sehingga dapat segera dilakukan langkah penanggulangan yang tepat agar bencana alam tidak lagi ’memakan’ orang disana.

Harga mahal dari sebuah kesalahan
Palang Merah Indonesia (PMI) mencatat dari 12 desa yang terkena dampak banjir bandang, terdapat 6350 jiwa mengungsi. Para pengungsi ini berasal dari Desa Layan sebanyak 702 warga, Blang Dalam dengan 598 warga, Penalom Sa dengan 1031 warga, Ranto Panyang 1005 warga, Blang Jeurat dengan 846 warga, Pulo Baro dengan 1029 warga, Blang Bungong 863 warga, Krueng Meriam 1114 warga, Peunalo dua 1015 warga, Blang Pandak 1237 warga, Blang Dhoot 1741 warga dan Keude Tangse 809 warga.

Selain itu, juga terdapat kerugian harta benda seperti 311 rumah rusak berat dan 163 rusak ringan, 1 unit sekolah, 2 puskesmas dan 5 tempat ibadah rusak ringan dan 6 tempat ibadah rusak berat dan 15 jembatan rusak berat.

Sedangkan jumlah korban jiwa jiwa yang meninggal dalam bencana alam tersebut berjumlah belasan orang. Sedangkan puluhan lainnya mengalami luka-luka ringan akibat terkena kayu yang diseret arus dalam banjir bandang.

Tidak hanya itu, jalan utama kecamatan yang menghubungkan antara Kecamatan Geumpang dengan Tangse juga sempat terputus akibat musibah tersebut. Padahal, keberadaan jalan tersebut sangatlah penting bagi sejumlah warga Geumpang dalam membawa hasil pertanian mereka ke pusat ibukota kabupaten untuk ditukar dengan rupiah.

Dalam beberapa waktu, penduduk di Kecamatan Geumpang juga dikabarkan sempat terisolir sehingga mengakibatkan harga barang di daerah tersebut mengalami kenaikan. Hampir seminggu pasca kenjadian, masyarakat disana terpaksa menempuh jarak yang relatif lebih jauh dalam membawa hasil bumi mereka ke Banda Aceh.

”Kami terpaksa memakai jalur Calang via rakit selama seminggu untuk membawa hasil bumi. Biaya perjalanan yang harus dikeluarkan jauh lebih tinggi,”ungkap salah seorang warga Geumpang.

Kerugian akibat banjir bandang Tangse diperkirakan mencapai ratusan miliar. Jumlah ini cuma perkiraan sementara karena banyaknya infrastruktur yang belum mampu di data.

“Perkiraan kami sementara kerugian akibat musibah ini tidak kurang dari Rp120 miliar, mengingat banyak sekali infrastruktur yang rusak,” kata Camat Tangse, Jafaruddin, kepada penulis, beberapa waktu lalu.

Menurut dia, sekira 150 hektare lahan persawahaan warga juga rusak akibat banjir bandang. Lahan yang kini dipenuhi lumpur dan batang kayu itu sebagian besar sedang dalam proses memasuki musim tanam.

Banjir Tangse juga dilaporkan telah merusak sejumlah kebun warga yang ada di kaki pegunungan. Warga Tangse umumnya bekerja sebagai petani kebun dengan menanam kakao, kopi, durian, rambutan, dan lainnya sebagai sumber ekonomi.

Diperkirakan hampir ribuan warga Tangse kan akan kehilangan pekerjaan jika lahan-lahan pertanian itu tak segera direhabilitasi. Sedangkan untuk proses rehabilitasi diperkirakan memakan yang relatif lama mengingat banyaknya tingkat kerusakan yang masih dalam tahap pembenahan. ”Hal ini perlu segera ditangani akan sendi perekonomian warga dapat kembali hidup,”ungkap camat.

Tidak hanya itu, Asep Iwan Sugiana, Kepala Markas PMI Aceh, menambahkan masyarakat yang selamat dari banjir bandang juga menuai permasalah di tempat pengungsian. Permasalahan klasik tersebut, adalah kurangnya pasokan air bersih bagi warga.

“Untuk mengurangi dampak risiko seperti belum adanya air bersih untuk kebutuhan masyarakat dan terbatasnya jaringan komunikasi, PMI Aceh menindaklanjuti dengan mengirimkan 16 relawan dan staf yang tergabung dalam tim logistik, water sanitation (watsan) dan radio komunikasi,”papar dia.

Menurut penulis, jumlah angka-angka di atas, sebenarnya sangatlah tidak sebanding dengan keuntungan yang didapatkan oleh segelintir oknum dari penghasilan ilegal logging. Penduduk juga dipaksa untuk merasakan pahitnya musibah yang tidak seimbang dengan keuntungan yang mereka peroleh.

Namun, amukan alam yang terjadi, Kamis (10/3) lalu, haruslah menjadi pelajaran penting bagi semua. Musibah seperti ini bukan tidak mungkin menimpa sejumlah daerah lainnya di Aceh nantinya, jika tata pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) tidak segera diperbaharui.

Pemerintah Aceh seharusnya dapat lebih jeli dalam melihat kondisi daerah ini pasca banjir Tangse. Pasalnya, Provinsi Aceh merupakan daerah yang paling rentan dengan bencana alam pasca gempa dan musibah tsunami yang menimpa daerah ini pada 26 Desember 2004 lalu.

Selain itu, bencana alam berupa banjir bandang seperti yang terjadi di Tangse juga bukanlah musibah alam yang pertama yang menimpa Aceh. Artinya, kesiapan dan kewaspadaan dari Pemerintah Aceh dan badan terkait, terhadap bencana alam harusnya jauh lebih.

Pemerintah Aceh juga perlu meningkatkan sosialisasi tentang bahaya bencana alam bagi masyarakat serta dampak dari perilaku pembalakan liar. Jangan sampai, kasus yang terjadi di Tangse kembali berupa di tempat lain dengan jumlah korban yang jauh lebih besar.

Sedangkan untuk penanganan khusus gunung Tangse pasca banjir perlu perhatian dari semua pihak. Kesadaran tersebut penting akan longsor yang dikhawatirkan oleh warga setempat tidak terjadi.

Rabu, 23 Maret 2011

Jilek, Korban kebakaran Butuh Uluran Tangan Dermawan


Jasman Banurea atau dipanggil Jilek, kini terbaring lemah di ruang IGD Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA). Bocah yang baru berumur 15 tahun itu, dilaporkan mengalami luka bakar yang terbilang serius sejak November 2010 lalu.

Jilek adalah putra dari Rodes Banurea, 41, yang bertempat tinggal di Desa Kuta Tengah kecamatan Penanggalan Kota Subulussalam. Bocah tersebut mengalami luka bakar hampir 90 persen di seluruh tubuhnya. Jilek sebenarnya telah menjalani perawatan diberbagai Rumah Sakit selama ini, namun belum mengalami perubahan.

Maklum, orang tua Jilek sendiri adalah masyarakat miskin di Subulussalam. Kehidupannya yang pas-pasan membuatnya kesulitan untuk pengobati pasien hingga sembuh.

“kami membawa korban kesini setelah mendapat bantuan dari berbagai pihak. Kesembuhan jilek adalah harapan terbesar kami,” ungkap Rodes, orang tua jilek, kepada wartawan, kemarin.

Menurut Rodes, dirinya sebenarnya tak sanggup lagi untuk melihat penderitaan anaknya yang masih sangat muda dan masih dibangku sekolah. Namun kecelakaan yang menimpanya itu terjadi karena ketidaksengajaan.

Hari naas itu, lanjut dia, terjadi pada awal November. Saat itu, kondisi listrik mati di daerah tempat tinggal mereka. Pada saat bersamaan, Jilek dilaporkan sedang bermain ke salah satu rumah tetangga yang menjual bensin eceran. Tetangga tersebut kemudian meminta Jilek untuk menyalakan api karena pada saat itu Jilek sedang memegang korek api gas. Tapi tanpa menyadari, korban saat itu sedang berada didekat bensin, dan Jilek pun langsung menyambar hampir seluruh tubuhnya.

“pasca kejadian, Jilek langsung dibawa ke Puskesmas Penanggalan, tapi karena kondisinya cukup parah ia pun dilarikan ke RSUD Singkil, disana dirawat selama 14 hari tapi karena kondisi juga belum membaik Jilek dilarikan ke RSU Adam Malik Medan, karena tidak ada biaya untuk perawatan, setelah di rawat 16 hari, Jilek dibawa pulang kerumah,”ungkapnya lagi.

Namun, lanjut dia, pada awal Maret ini, dirinya bersama keluarga dan Pengurus PMI Kota Subulussalam yang turut simpati atas musibah yang menimpal korban, sepakat untuk kembali merawat Jilek. Kamis sore (10/3) Jilek akhirnya dilarikan ke RSUZA untuk ditangani lebih serius.

Sementara itu, Bambang Herwanto, tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan di Dinas Sosial Kota Subulussalam dan juga anggota Pengurus PMI Subulussalam yang turut mengantarkan Jilek ke RSUZA mengatakan bahwa Jilek telah mendapat bantuan dari Pemerintah dan beberapa kerabat, namun dengan kondisinya saat ini, Jilek masih membutuhkan biaya tambahan untuk kembali melakukan aktifitasnya.

“Pemko, DPRD, Wakil Walikota dan Dinas Sosial Kota Subulussalam juga telah memberikan bantuan family kit berupa logistik dan pangan dan sejumlah uang kepada keluarga namun biaya ini belum cukup karena kondisi Jilek cukup parah dan perlu penanganan serius, untuk itu dia kami bawa kemari, kami mengharapkan dukungan bantuan dana untuk membantu pengobatan Jilek”, harapnya.

Rodes mengatakan bahwa ia mempercayakan PMI Aceh untuk menyalurkan bantuan untuk putranya, bantuan masyarakat untuk membantu Jilek dapat di salurkan melalui Rekening Palang Merah Indonesia PMI Provinsi Aceh melalui BNI Cabang Banda Aceh No. Rekening 68077656 atas nama Pengurus PMI Provinsi NAD. Dirinya berharap, uluran tangan para dermawan dapat menyembuhkan anaknya, ...semoga.

Senin, 21 Maret 2011

Ikral Nek Aisyah Untuk Sang Gubernur


Diusianya yang sudah senja, Nek Aisyah, demikian nama wanita ini biasanya disapa, masih terlihat bugar. Dia juga sangat vokal dalam menyuarakan rasa ketidakadilan yang menimpa dirinya, dalam aksi demotrasi di Depan Kantor Gubenur, Senin (21/3) lalu.

Matanya boleh saja sudah rabun, demikian juga dengan tubuhnya yang sudah rentan dan sering diserang sakit remantik. Tetapi, dalam hal semangat, Nek Aisyah jauh lebih berapi-api dibandingkan aktivis kampus yang baru belajar demontrasi. Dengan suaranya yang boleh dikatakan lantang dan khas, dia berkali-kali memanggil Gubernur Aceh dan Wakil Gubernur, untuk turun dari singgasananya, guna menemui mereka.

”Pat janji neu untuk kamoe korban tsunami. Ka tujoh thon udep di barak, tapi rumoh hana neujok lom hingga dinoe. (mana janji gubernur untuk kami korban tsunami. Sudah tujuh tahun hidup di barak, tapi rumah bantuan belum juga diberikan,”ungkap Nek Aisyah laksana orator ulung.

Ya, Nek Aisyah adalah satu dari puluhan korban tsunami yang rumah bantuannya diserobot orang lain di Desa Labuy dan Miruek Lam Reudep, Kecamatan Baitursalam, Aceh Besar. Hal inilah yang membuat dirinya mengadu ke Kantor Gubernur.

Bagi Nek Aisyah, selamat dari gelombang tsunami yang melanda Aceh diakhir tahun 2004 lalu, bukanlah sebuah rahmad. Disaat dua anak kandungnya, serta dua cucunya menuai ajal dalam tragedi tersebut, dirinya justru ditakdirkan selamat karena mampu mengapung di atas kasur saat tsunami menerjang daerah Ulee Lhee.

Sejak saat itu, kehidupannya berubah total. Dari dulunya, cuma duduk manis di rumah karena dinafkahi oleh anak-anaknya yang sudah besar. Kini, dirinya terpaksa bekerja keras untuk menghidupi diri sendiri, serta dua cucunya yang yatim piatu. Menurut dirinya, musibah tersebut adalah awal dari keterpurukan hidupnya.

”Tiap hari saya jualan kacang. Hasil dari jualan kacang cuma cukup untuk makan. Saat ini, dua cucu saya sedang sekolah, kalau saya mati, siap yang menjaganya,”ucap isteri dari almarhum Idris ini yang meninggal sejak tahn 1984 itu, sambil menyapu butiran air yang mengalir dari matanya.

Nek Aisyah mengaku, sejak masa rehab-rekon hingga kini, sangat mengharapkan adanya rumah bantuan. Paling tidak, katanya, rumah tersebut, dapat menjadi tempat berteduh bagi dua cucunya di masa depan. Selain itu, juga dapat menjadi tempat akhir baginya ketika berhembus nafas yang terakhir nanti atau meninggal dunia.

”Namun, saya tidak pernah mendapatkan rumah bantuan. Hingga tujuh tahun, kami masih tinggal di barak di Dusun Tongkol, Ulee Lhee. Lantai barak sudah rusak dan saya perbaiki lima kali, demikian juga dengan atap yang sudah bocor, namun rumah bantuan tidak kunjung diperoleh,”tutur dia.

Dirinya, mengaku juga masih teringat janji Timses Irwandi-Nazar di awal tahun 2006 lalu. Saat itu, menjelang Pilkada Aceh, para timses tersebut, menurut dia, datang ke baraknya. Mereka meminta dia untuk mencoblos gambar yang memakai pakaian Aceh.

”Katanya, kalau mereka menang dapat rumah bantuan. Namun janji tersebut tidak pernah diwujubkan hingga kini. Bahkan, saya sendiri terancam diusir dari barak Ulee Lhee. Penghuni barak disana cuma diberikan waktu hingga satu bulan mendatang, untuk mengosongkan barak,”lirik Nek Aisyah.

Terhadap nasibnya tersebut, Nek Aisyah cuma mampu menyerahkan hal tersebut kepada Allah SWT. Demikian juga, dengan orang yang menyerobot rumah bantuannya di Labuy, dia cuma berharap Allah SWT segera menyadarkan mereka. Tapi, khusus untuk sang gubernur, Nek Aisyah mengakui punya ikral.

”Han akan lon pileh lee gubernur (Irwandi-red) jika hana mampu menyelesaiakan amanah rakyat. Janji mereka untuk menuntaskan kasus penyerobotan rumah bantuan, adalah amanah, namun diingkari. Dosa menyoe ta pileh pemimpin yang hana amanah. Nyoe ikral dan doa lon sabe lam sembahyang,”pungkas dia

Kamis, 17 Maret 2011

Jejak Ahmad Musadeq di Seramoe Mekkah


Munculnya aliran bernama Mukmin Mubaligh sempat menggegerkan warga di provinsi berjulukan Seramoe Mekkah. Keterkejutan tersebut, juga kian di tambah, dengan adanya kepercayaan di aliran ini yang beriman kepada sosok nabi terakhir selain Nabi Muhammad SAW.

Aliran yang diduga sesat ini sebenarnya sudah mulai tercium pengembanganya selama beberapa bulan terakhir di Kota Banda Aceh. Namun, berbagai pihak terkesan menutup-nutupi keberadaan isu tersebut dengan tujuan agar tidak meresahkan masyarakat.

Sebenarnya, munculnya aliran yang di duga sesat tersebut diperkirakan berlangsung sejak dua tahun lalu. Sasaran para pengikut aliran ini adalah mahasiswa atau cendikiawan muda yang sedang menuntut ilmu di berbagai kampus di Aceh.

Menurut sejumlah sumber kepada penulis, nabi terakhir yang diimani oleh para pengikut Mukmin Mubaligh di Aceh, adalah sosok Ahmad Musadeq. Nama ‘nabi’ tersebut sebenarnya bukanlah nama yang baru untuk media massa di negara republik yang sangat menjunjung demokrasi ini.

Pasalnya, sosok Ahmad Musadeq adalah mantan pimpinan aliran Al-qiyadah Al Islamiyah yang sempat tenar di akhir tahun 2006 lalu karena mengaku diri sebagai rasul. Pengakuan kerasulan Ahmad Musadeq sendiri sempat menjadi yang liputan menarik seluruh media massa saat itu.

Ahmad Musadeq mengaku mendapatkan wahyu saat sedang bersemedi dan melaporkan hal ini kepada teman-temannya. Dirinya juga mengaku bertemu dengan malaikat Jibril dan diangkat menjadi rasul untuk membawa risalah yang baru, setelah islam.

Pada saat itu, Ahmad Musadeq mengklaim diri, telah memiliki pengikut yang berjumlah ribuan di hampir sejumlah provinsi di nusantara, termasuk Aceh. Hal ini kemudian dibuktikan dengan menampilkan keberadaan sejumlah pengikutnya dan pengucapan ’syahadat’ massa terhadap kerasulan Ahmad Musadeq secara live di media elektroknik.

Keberanian Ahmad Musadeq ini sempat menuai pendapat pro dan kontra di penjulu nusantara saat itu. Sebagai masyarakat, menganggap aksi Ahmad Musadeq tersebut adalah kegiatan penistaan agama islam. Namun segolongan lainnya malah menganggap hal itu adalah bagian dari kebebasan beragama yang dilegalkan di negara ini.

Sayangnya, kelompok yang menentang keberadaan aliran Al-qiyadah Al Islamiyah dengan Nabi Ahmad Musadeq jauh lebih besar dan lebih berpengaruh dari yang pihak mendukung. Desakan-desakan pelarangan tersebut, diduga menyebabkan para petinggi Al-qiyadah Al Islamiyah untuk mengubah metode penyebaran aliran mereka, dari terang-terangan menjadi secara sembunyi-sembunyi.

Hal ini pula yang diduga menyebabkan ’Ahmad Musadeq akhirnya menemui Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada pertengahan 2007 lalu dan menyatakan diri untuk bertobat dan kembali pada aliran islam. Toubatnya, sang nabi palsu tersebut kemudian disusul dengan taubat massa para pengikut Al-qiyadah Al Islamiyah.

Namun tidak hanya ini, aksi berlebihan dari sosok Ahmad Musadeq, yang dulunya adalah seorang guru biasa di Jakarta Barat, tetap di proses secara hukum serta di seret ke pengadilan karena dinilai telah melakukan penistaan terhadap agama islam. Sosok Ahmad Musadeq sendiri, akhirnya divonis 5 tahun penjara karena pengakuan kerasulannya.

Kini, setelah empat tahun pasca taubatnya Ahmad Musadeq, tumbuh aliran baru yang bernama Mukmin Mubaligh di Aceh. Aliran yang di duga sesat ini juga hampir sama dengan Al-qiyadah Al Islamiyah, yaitu mengakui kerasulan Ahmad Musadeq.

Secara logika, keberadaan sejumlah kesamaan dalam dua aliran ini bukanlah suatu kebetulan belakang. Dengan artian, para pengikut dari aliran Al-qiyadah Al Islamiyah ini diduga terus mencari pengikut baru biarpun telah mengaku bertaubat dan kembali kepada islam. Dan selama itu pula, aliran ini berkembang sedikit demi sedikit di daerah Seramoe Mekkah yang dulunya adalah pusat penyebaran agama islam di nusantara.

Para pengikut Ahmad Musadeq diyakini telah mencapai ratusan oleh di tiga kampus besar di Aceh, seperti Unsyiah, Politeknik Aceh dan IAIN Ar-Raniry. Namun anehnya, belum ada tindakan nyata dari Pemko setempat untuk penangani persoalan yang kian meresahkan masyarakat tersebut.

Berdasarkan data yang diperoleh penulis, Rabu (9/3) lalu. Jumlah pengikut Mukmin Mubaligh terbanyak di Unsyiah adalah mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ( FKIP) sebanyak 21 orang. Sedangkan pengikut lainnya, 9 orang di Fakultas Teknik, 3 Fakultas Ekonomi.

Sedangkan untuk Politeknik Aceh, pengikut setia aliran Mukmin Mubaligh ini diperkirakan berjumlah 5 orang, serta dua orang berstatus mahasiswa IAIN Ar-Raniry.

Dari Khatamul Qur’an Hingga Sholat Malam
Sebenarnya, ada sejumlah perbedaan yang mendasar antara pemahaman Aliran Mukmin Mubaligh atau sebelumnya bernama Al-qiyadah Al Islamiyah dengan pemahaman umat islam pada umumnya. Baik dalam pemahaman Al-Qur’an hingga solat.

Menurut pengakuan dari salah seorang pengikut aliran Mukmin Mubaligh yang sempat diwawancarai oleh penulis, dalam kepercayaan aliran Mukmin Mubaligh terdapat sejumlah kelebihan dibandingkan dengan islam.

Hal ini, menurut mereka, dikarenakan aliran tersebut datang setelah islam untuk menyempurnakannya. Kondisi ini dianggap sama dengan kondisi awal-awal kedatangan agama islam di Mekkah yang datang untuk menyempurnakan aliran Nabi Isa, sebelumnya.

Hal yang paling mendasar antara islam dengan Mukmin Mubaligh, lanjut sosok yang masih berstatus sebagai mahasiswa FKIP Unsyiah berinisiar RA ini, adalah pemahaman tentang kata-kata Khatamul Qur’an. Dimana, Khatamul Qur’an dianggap oleh orang islam adalah kesempurnaan agama islam serta tidak ada lagi nabi yang diutuskan setelahnya.

Padahal, katanya, dalam pemahaman Mukmin Mubaligh, tidaklah demikian. Khatamul qur’an ditunjukan untuk penyebaran islam pada saat itu (semasa rasul-red), tetapi tidak kondisi islam saat ini. Pasalnya, allah berjanji akan menurunkan nabi atau rasul untuk tiap umat pada masa yang berbeda-beda.

Demikian juga dengan pemahaman kata-kata ’din’ dalam Al-Qur’an. Menurut mereka, kata-kata ’din’ bukanlah dipahami dengan istilah agama seperti muslim kebanyakan, tetapi kata-kata ’din’ tersebut bisa diartikan sebagai aliran atau paham ketuhanan.

Pengikut Mukmin Mubaligh, diakui mereka (pengikut Mukmin Mubaligh-red) tidak percaya dengan hadist. Pasalnya, menurut logika mereka, hal ini dikarenakan masa pembukuan hadist sendiri sangat jauh berserang dengan masa atau tahun meninggalnya nabi Muhammad SAW. Sejumlah hadist yang ada saat ini, menurut pengakuan para pengikut Mukmin Mubaligh telah banyak ditambah-tambah oleh para ulama islam sehingga tidak asli lagi.

”Kalau ada Al-Qur’an kenapa harus mempercayai hadist yang telah banyak dirubah,”ungkap pengikut tadi.

Perbedaan lainnya, lanjut mereka, adalah tata cara sembahyang yang dianjurkan dalam pemahaman Mukmin Mubaligh. Para Pengikut Mukmin Mubaligh, katanya, cuma diwajibkan untuk melaksanakan sholat sebagai kewajiban dalam sehari semalam sekali.

Sholat ala para pengikut Mukmin Mubaligh juga tidak memakai raka’at sebagaimana muslim biasanya. Mereka cukup hanya mematikan lampu dan menyalakan lilin serta merenungi dosa yang telah diperbuat oleh mereka selama ini.

Dalam pemahaman Mukmin Mubaligh, menurut informasi yang diterima oleh penulis, ketulusan hati adalah inti dari ajaran mereka. Pengikut Mukmin Mubaligh juga di larang untuk memakan setiap makanan yang diberikan oleh umat muslim, meskipun dari orang tua mereka, dengan alasan haram.

Posisi ini, dinilai hampir sama hanya dengan perilaku mayoritas masyrakat muslim di dunia yang dilarang menerima makanan berupa daging dari non muslim karena kekhawatiran halal tidaknya. Semua ajaran tersebut, menurut pengakuan pengikut Mukmin Mubaligh, hanyalah bersifat sementara hingga ajaran mereka mampu menguasai negara ini.
”Ini masih dalam tahapan awal. Kondisi ini dianggap sama dengan kondisi awal-awal kedatangan agama islam di Mekkah yang datang untuk menyempurnakan aliran Nabi Isa, sebelumnya,”tandas sumber tadi.

Menguasai Aceh pada 2015 ?
Para pengikut aliran Mukmin Mubaligh atau aliran yang sebelumnya bernama Al-qiyadah Al Islamiyah memasang target untuk menguasai Aceh pada 2015 dan menguasai nusantara pada 2024 nanti. Pengakuan ini, penulis dapatkan langsung dari sejumlah mahasiswa yang mengaku adalah pengikut kenabian Ahmad Musadeq di Kota Banda Aceh.

Bagi mereka, target tersebut tidaklah berlebihan dan dapat segera terwujub. Pasalnya, jumlah pengikut kenabian Ahmad Musadeq di Seramoe Mekkah saat ini diperkirakan telah mencapai ribuan orang yang tersebar di hampir seluruh kabupaten/kota di daerah ini.

Menurut informasi yang diterima wartawan, pembawa aliran Al-qiyadah Al Islamiyah atau Mukmin Mubaligh di Aceh diyakini bernama Zainuddin yang bertempat tinggal asal Prada sejak 2008 lalu. Yang bersangkutan, dilaporkan merupakan murid dari Ahmad Musadeq.

Sejak tahun 2008 lalu, pria ini dilaporkan mulai menyebarkan aliran Mukmin Mubaligh untuk wilayah Aceh dan mempengaruhi para mahasiswa. Langkah nyata yang pernah dilakukan oleh sosok ini adalah mempengaruhi keyakinan agama para alumni SMA Fajar Harapan Kota Banda Aceh dan alumni letting 2008 di MAN Model Kota Banda Aceh.

Menurut informasi, tercatat hampir puluhan alumni kedua sekolah ini kemudian menjadi pengikut aliran yang diduga sesat tersebut. Dilaporkan, dari peran para alumni itu, aliran ini kemudian menyebar hingga seluruh kabupaten kota di Aceh.

”Mereka sengaja mencari calon pengikut dari barisan mahasiswa. Pasalnya, para mahasiswa diyakini akan menjadi pemimpin di kemudian hari sehingga mudah bagi penyebar aliran Mukmin Mubaigh untuk membumikan aliran ini di Aceh,”ungkap salah seorang mahasiswa yang sempat mengikuti aliran ini dan memilih keluar ketika mengetahui sesat.

Namun, terlepas dari benar tidaknya pengakuan sumber tersebut, selaku muslim, kita tentunya wajib berhati-hati terhadap kondisi Aceh terkini. Jangan sampai, keluarga kita justru menjadi korban kesesatan tersebut.

Rabu, 02 Februari 2011

Jenggot Aksesoris


Otak-ku tak lagi dapat berpikir rasional. Suara jangkrik yang bersahutan dan bau obat yang kian menyegat hidung tak juga dapat membantu-ku melupakan jeritan-jeritan dari kamar dengan cat dan aksesoris serba putih yang ada di depan.

Aku panik. Entah sudah puluhan kali diriku mondar-mandir di depan ruangan tadi. Tidak juga kuhiraukan lagi bagaimana tatapan orang sekeliling terhadap tingkah ku ini. Sekalipun aku dicap gila, mungkin..!

Beberapa suster jaga dan para pengunjung disana sempat merasa sedikit terganggu dengan suara derap langkah kakiku yang tak bisa berdiam diri. Mereka kemudian mencoba memberi isyarat agar diriku bersikap tenang, namun sengaja ku-hiraukan.

Sulthan sepertinya sadar akan kepanikanku ini. Dia adalah salah satu kawan akrab-ku yang masih tersisa di kutaradja sejak masa-masa di kampus dulu. Anak jurangan kopi dari Takengon ini mencoba mengalihkan perhatianku dengan mengungkit kembali kisah lama saat kami masih berstatus mahasiswa.

Ya, masa-masa ’romantisme’ kami yang senang dengan gelar aktivis kampus, tapi dulu. Mulai dari gelar aktivis Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Al-Mudaris, kemudian menyeberang ke organisasi ”aliran kiri”, hingga beralih kegerakan pro nasionalisme keacehan.

Seperti kasus-kasus sebelumnya, jika Sulthan sudah mulai bercerita, unjung-unjungnya pasti tetap di isi dengan cerita-cerita yang intinya memuji kehebatan pribadi, seperti cerita tentang sosok ayahnya yang kaya raya di kampung, deretan pacarnya yang cantik-cantik serta ditutup dengan kisah kehidupannya yang serba mapan saat ini.

”Semua banyak yang berubah ya Bud, kecuali jengotmu itu. Dari status jenggot ideologis hingga ke jenggot aksesoris,”ucap dia sambil terkekeh. Mendengarkan perkataan ini kembali membuat diriku cuma mampu tersenyum secara pahit. Pasalnya, apa yang ditutur oleh ’makhluk hitam’ memang ada benarnya juga.

”Berarti bukan aku saja yang sadar akan hal ini, Sultan juga,”gumamku hingga akhirnya larut dalam lamunan masa lalu.

Oya, perkenalkan. Namaku Budi Azhari. Mungkin Nama Budi terinspirasi dengan tokoh Budi di buku-buku pelajaran SD, karena memang Ayahku dulu adalah seorang guru SD di pedalaman Aceh Tamiang. Sedangkan Azhari adalah nama Ulama salah seorang pimpinan Dayah di kampung asal Ayahku di Leubu-Bireun.

Aku di lahirkan di Kota Kecil dekat perbatasan Aceh dan Sumatera Utara, di Desa Seumadam, dan kemudian aku dibesarkan di pedalaman Aceh Tamiang tepatnya di Mukim Kalul, kecamatan Tamiang Hulu. Sejak kecil kami sudah terbiasa dengan hidup pas-pasan, maklumlah nasib keluarga guru jaman itu memang seperti yang digambarkan dalam lagu Iwan Fals ”Umar Bakrie”.

Para bocah di daerah kami, biasanya memiliki kebisaan unik di saat memasuki usia remaja, yaitu menumbuhkan kumis. Kumis merupakan simbol ’pria dewasa’ pada saat itu, dan seseorang remaja yang memiliki kumis dianggap ’ Macho’, namun akulah yang membuat tren berbeda di sana.

Saat kelas tiga SMP, aku menumbuhkan jenggot. Namun ’tradisi baru’ ini sering kali ditertawakan oleh rekan sebaya disana. ”Orang mukmin serta ummat islam itu disunnatkan untuk memanjangkan jenggot, bukan kumis. Memelihara jenggot itu merupakan sunnah Nabi,”papar diriku setiap mendapatkan ejekan.

Candaan ini terus berkembang hingga aku hijrah ke Bireun kampung asal Ayahku, dan menyelesaikan MAN di Matang Gelumpang Dua. Sebagai siswa yang selalu mendapatkan juara umum di sekolah, cita-cita untuk melanjutkan ke perguruan tinggi menjadi suatu keharusan.

Kutaradja merupakan tujuanku untuk mewujudkan cita-cita dengan menempuh pendidikan tinggi pada salah satu universitas kebanggaan rakyat Aceh, yaitu Unsyiah. Ternyata, di kampus baruku, sosok pria berjenggot sudah merupakan hal yang lumrah, dan telah ada organiasi khusus yang mewadahinya. Maka diriku segera bergabung dengan organisasi yang berbasis mushalla, terlebih lagi abang lettingku adalah ketua lembaga tersebut.

”Ini jenggot ideologis yang harus dipertahankan,” ucap seorang senior di organisasi tersebut, dipertengahan tahun 1999 lalu, saat Aceh sedang di landa konflik. Tahun tersebut, statusku dari pelajar SMU berubah jadi seorang mahasiswa,

Mendengarkan pengakuan para senior tadi, diriku akhirnya semakin mantap untuk memelihara jenggot. Tidak hanya itu, diriku juga makin aktif dalam setiap kegiatan organisasi tersebut, mulai dari kegiatan yang bersifat kajian keislaman hingga ke demontrasi dan aksi jalanan untuk warga Palestina.

Mulanya, aku sangat aktif untuk diskusi dan aksi untuk memperjuangkan hak-hak bangsa Palestina dan mengutuk Israel di Aceh. Namun gerakan inilah yang kemudian membuatku mundur teratur dari organisasi tersebut di akhir tahun 2000.

Alasannya, pada saat itu Aceh sedang di landa konflik dan hampir ratusan masyarakat hilang setiap harinya. Selain itu, pemberitaan temuan mayat tanpa status juga hampir setiap hari menghiasi media massa. Namun kasus-kasus itu tidak pernah direspon positif oleh organisasi tersebut. Terlebih lagi salah seorang teman baikku (Sayuti Nur-red) menjadi korban penculikan orang tidak dikenal di daerah Bireum Bayeun saat melakukan aksi sosial atas nama BEM Unsyiah saat itu.

”Mengapa harus memperjuangkan Palestina di Aceh, justru saat Aceh dilanda konflik. Mengapa Aceh justru kurang mendapat perhatian dari kawan-kawan aktivis mushalla? ”pikirku saat itu dan memutuskan keluar dari perkumpulan.

Pasca keluar dari perkumpulan aktivis mushalla, aku lebih banyak menghabiskan waktu di pustaka, kantin dan warung kopi, sehingga pergerakanku berubah dari berbasis mushallano menjadi kantino. Disanalah, diriku kemudian bertemu dengan sekelompok pria berjenggot baru, salah satunya adalah Sultan, dan inilah awal perjuangan kami sebagai salah satu elemen sipil untuk melawan penindasan Jakarta terhadap rakyat Seramoe Mekkah.

Dari Sultan, aku tahu kalau kelompok ini ternyata aktif memperjuangkan nasib orang Aceh di masa konflik, serta menghargai jenggot. Diriku kemudian mulai terlibat organisasi ini dan kembali turun ke lapangan, dengan isu yang agak berbeda dari sebelumnya.

Sayangnya pergerakan yang kami bangun cuma bertahan hingga akhir 2003. Alasannya, selain aku harus melanjutkan studi magisterku di Malang, dan juga anggota dari perkumpulan ini ternyata tidak ’berjenggot ideologis’. ”Jenggot mereka adalah jenggot aksesoris,”ucap Sultan suatu ketika.

Pertengahan tahun 2006 aku kembali ke Aceh. Selain aktif mengajar di perguruan tinggi, aku mencoba kembali mengagas perkumpulan baru yang pro terhadap nasionalisme keacehan, tetapi tetap berjenggot ideologi. Karena memang pada dasarnya menjadi aktivis sudah mendarah daging bagiku.,

”He Bud, kok malah melamun dari tadi, sedang bernostalgia dengan kisah masa lalu ya,” ucap Sultan secara tiba-tiba, sekaligus membangunkan diriku dari cuplikan ingatan sejarah.

Aku cuma tersenyum kecil mendengarkan perkataan dia ini. Jejariku sibuk mengaruk jenggot tipis yang masih menghiasi wajahku. Sejak tadi sebenarnya aku telah khawatir, bahwa satu persatu ’jenggot aksesoris’ ini jatuh ke lantai karena suntuk mendengarkan ocehan sultan yang sebenarnya aku sendiri tidak terlalu serius mendengarkannya, karena hilang dibawa lamunanku sendiri.

Aku kembali mencoba menata jenggot dengan rapi bersamaan dengan dibukanya pintu kamar depan. Dua wanita muda berpakaian layaknya seorang suster mencoba menghampiriku dan memberikan selamat secara bersamaan. ”Selamat pak Ustad, istri anda melahirkan bayi laki-laki. Anda suami dari ibu Khairul Muna-kan ?”ucap mereka.

Mendengar hal ini, aku sangat bahagia. Namun sesaat kembali tertegun. ”Siapa yang mereka panggil ustad ya..! apa karena jenggotku ini,” gumamku dalam hati. Panggilan tersebut sebenarnya bukanlah yang pertama kali aku dengar dan sangat kudambakan kembali, tetapi untuk saat ini, julukan itu terasa amatlah bertolak belakangan dengan sifatku sehingga diriku sedikit risih mendengarkannya.

”Ah, itukan julukan biasa,”gumamku lagi akhirinya. Aku lantas meminta izin dari suster muda untuk melihat istri dan bayiku.

Didalam, Kekasih hatiku itu tampaknya amatlah sangat kelelahan. Dia terbaring lemah setelah menghadapi ’bertarung’ hidup-mati untuk melahirkan buah hati kami. Aku kecup keningnya dengan rasa cinta yang luar biasa.

”Ini buah hati kita, berjenis kelamin ”Boh Lolo Bang” ungkapnya. Ya, cetusku lagi. Isteriku menamakan sang bayi kami, Nyak Nabil, dengan harapan menjadi anak yang cerdas dan shaleh.

Wajahku kemudian berpaling pada bayi mungil disampingnya yang terbalut dengan kain putih. Aku terharu melihat bayi mungil ini. Cinta dan kasih saya kami ternyata telah menghadirkan dia ke bumi konflik ini. Dia sepertinya sedang terlelap setelah sempat menumpakan amarah sesaat pertama kali menatap bumi tadi.

”Nak, aku adalah ayahmu. Kamu beruntung telah lahir dikeluarga yang penuh cinta dan suku yang taat agama,”bisikku padanya dengan muka berkaca-kaca. Hatiku amat bangga telah dianugerahi seorang bayi laki-laki. Dia akan menjadi penerusku nantinya, tapi bukan penerus sifat-sifat jelekku.

”Jika kamu punya jenggot nanti, jadilah iya sebagai jenggot ideologi,”bisikku lagi. Istri tersenyum. Rupanya dia mendengarkan penuturanku pada si kecil.

Tidak lama, dua suster muda tadi kembali masuk ruangan. Mereka menghampiri diriku lagi dengan membawa beberapa helai handuk putih. ”Sudah bisa diazankan pak, bayinya,”pinta sang suster dengan tersenyum sambi meletakan bawaan di lemari kecil di samping ranjang Muna.

Mendengar hal ini, aku mengangguk kecil dengan tangan terus meraba kantong celana, tapi yang kucari tidak juga ketemu. ”Celaka, dimana teks tulisan lafazh azannya aku simpan tadi?”gumamku tiba-tiba. Suster dan istriku pun cuma mampu berkerut kening. ****

 
Free Host | lasik surgery new york